POLITIK

Eks Sekjen Demokrat Beberkan ‘Curhat’ SBY Soal Megawati

MONITOR, Jakarta – Mantan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Demokrat, Marzuki Alie, membeberkan kisah lama antara Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Presiden RI ke-5 Megawati Soekarnoputri.

Hal itu disampaikan Marzuki Alie dalam kanal Youtube Akbar Faizal Uncensored yang diunggah Kamis (11/2/2021) yang lalu.

Dalam kanal Youtube Akbar Faizal Uncensored itu, Marzuki mengungkapkan bahwa SBY pernah mengaku telah membuat Megawati dua kali kecolongan terkait Pilpres 2004. Menurut Marzuki, pernyataan itu disampaikan SBY kepadanya di Hotel Sherraton Bandara Soekarno-Hatta pada 2004 dan disaksikan oleh Hadi Utomo di

“Pak SBY menyampaikan, ‘Pak Marzuki, saya akan berpasangan dengan Pak JK (Jusuf Kalla), ini Bu Mega akan kecolongan dua kali ini’. Artinya, kecolongan pertama dia (SBY) yang pindah, kecolongan dua kali dia (SBY) ambil Pak JK. ‘Pak Marzuki orang pertama yang saya (SBY) kasih tahu’,” ungkapnya seperti dikutip pada Rabu (17/2/2021).

Marzuki menilai, SBY adalah sosok yang tidak komitmen dalam menjalankan partai. Pasalnya, menurut Marzuki, SBY pernah mengatakan saat Kongres Luar Biasa (KLB) Partai Demokrat di Bali 2013 lalu agar dirinya tidak lagi dipilih untuk memimpin Partai Demokrat.

Namun, Marzuki menyatakan, pernyataan SBY tersebut tidak sejalan dengan realita yang ada.

“Pak SBY menyampaikan pidato loh, dalam pidatonya menyebutkan, ‘jangan saya lagi, jangan SBY lagi, Jangan keluarga SBY’. Artinya dia turun di sana untuk penyelamatan. Tetapi, agak mengagetkan begitu 2015 beliau (SBY) mau maju lagi. Pertama tidak sesuai dengan yang diucapkan, yang kedua ya boleh-boleh saja karena partai memang bermasalah. Kalau bicara komitmen, beliau berjanji loh untuk membangun partai ini menjadi partai kader,” ujarnya.

Marzuki mengatakan, dirinya hanya bisa menyikapi fakta bahwa SBY kembali memimpin Partai Demokrat sebagai realita politik yang ada saat ini. Marzuki pun mengaku lebih memilih mundur dalam keinginannya menjadi pemimpin Partai Demokrat untuk menghidari konflik dan karena menghargai SBY.

“Saya menghargai beliau yang awalnya kita figurkan sebagai presiden, jadi bukan berarti berikutnya kita harus berkompetisi, saya enggak mau. Tentu ada waktu, untuk mengkoreksi keputusan beliau, manakala beliau tidak memenuhi komitmen menjadikan partai ini partai kader, partai yang dikelola modern dengan membangun sistem. Itu yang harus dilakukan. Tapi nyatanya, itu tidak dilakukan,” katanya.

Recent Posts

Rakerwil ASPIKOM Jabodetabek, Perkuat Kolaborasi 102 Prodi Komunikasi

MONITOR, Bogor - Asosiasi Pendidikan Tinggi Ilmu Komunikasi (ASPIKOM) Koordinator Wilayah Jabodetabek menggelar Rapat Kerja…

2 jam yang lalu

Panglima TNI Tinjau Langsung Lokasi Longsor Cisarua

MONITOR, Jakarta - Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto meninjau langsung lokasi bencana tanah longsor…

7 jam yang lalu

Sambut Ramadan, Prabowo Doakan Bangsa Selalu dalam Lindungan Allah

MONITOR, Jakarta - Presiden Prabowo Subianto mendoakan bangsa Indonesia senantiasa berada dalam lindungan Allah SWT…

8 jam yang lalu

M. Zian Fahrezi, Qari Cilik NTB Juara I MTQ Internasional Irak

MONITOR, Jakarta - Indonesia kembali menorehkan prestasi di tingkat internasional. Dalam ajang Musabaqah Tilawatil Qur’an…

11 jam yang lalu

Persiapan Pelayanan Lebaran 2026, Jasa Marga dan Korlantas Polri Kolaborasi Tingkatkan Keamanan, Ketertiban dan Kelancaran di Jalan Tol

MONITOR, Surabaya - Direktur Utama PT Jasa Marga (Persero) Tbk Rivan A. Purwantono menyerahkan kendaraan…

16 jam yang lalu

DPR: Praktik Keparlemenan Harus Muara pada Kesejahteraan Rakyat

MONITOR, Jakarta - Wakil Ketua DPR RI/Kordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, Cucun Ahmad Syamsurijal, menegaskan bahwa…

19 jam yang lalu