PERTANIAN

Didukung Kementan, Petani Lampung Selatan Siap Jadi Pelopor Jagung Rendah Aflatoxin

MONITOR, Lampung – Kebutuhan Jagung Rendah Aflatoxin (JRA) di Indonesia mencapai lebih dari satu juta ton setiap tahun.Jagung dengan kualitas kandungan aflatoxin kurang dari 20 ppb seperti inilah yang telah memenuhi standar keamanan pangan untuk dikonsumsi sebagai bahan pangan serta digunakan sebagai bahan baku industri pangan.

Hal ini tentu bukan menjadi halangan untuk memeneuhi kebutuhan tersebut jika menilik bahwa Indonesia mampu memproduksi lebih dari 24 juta ton jagung setiap tahun. Kementerian Pertanian berkomitmen untuk menyediakan pasokan jagung rendah aflatoksin tersebut.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo selalu mengingatkan pertanian tidak boleh hanya bertumpu pada kuantitas saja tapi juga kualitas yang baik. Dalam berbagai kesempatan ia menginginkan adanya komitmen penyediaan JRA untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Disebutkan Indah Sulistiorini, Koordinator Pemasaran dan Investasi Ditjen Tanaman Pangan Kementan, bahwa untuk menghasilkan jagung ini, memang ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah sebaiknya melakukan panen dengan melebihkan 10 hari dari umur maksimal jagung tersebut.

“Sebagai contoh jagung hibrida, rata-rata umur siap panen adalah 110 hari, maka untuk memperoleh jagung rendah aflatoxin panenlah jagung tersebut pada umur 120 hari,” terangnya.

Langkah kedua adalah melakukan penanganan panen yang baik dengan berbagai sarana yang tidak merusak biji jagung, karena apabila biji jagung sudah rusak, akan memudahkan penurunan mutu jagung yang dipanen.Selanjutnya Langkah ketiga adalah melakukan proses pasca panen dengan baik dan mempercepat proses pengeringan. Sebaiknya jagung yang sudah dipanen empat jam kemudian telah di pipil langsung dikeringkan dengan mesin pengering (Dryer).

Dalam upaya mensukseskan kegiatan pengembangan JRA ini, Kementan telah menjalin kerja sama dengan Perkumpulan Produsen Pemurni Jagung Indonesia (P3JI) untuk penyediaan jagung rendah aflatoksin. Salah satu perusahaan yang terlibat adalah PT Tereos FKS Indonesia yang telah berkomitmen menjalin kemitraan tersebut dan secara khusus akan bekerjasama dengan petani di Lampung Selatan. Dengan adanya jalinan kerjasama petani jagung, unit pengering dan industri pengguna menjadikan prasyarat produksi jagung rendah aflatoksin dalam skala industri bisa berjalan baik.

Langkah selanjutnya Indah menyebut bahwa telah dilakukan sosialisasi kegiatan produksi kepada petani dan pelaku usaha lainnya yang terlibat, agar JRA sebagai salah satu produk jagung yang mempunyai harga premium bisa berhasil dikembangkan. Salah satunya di Lampung Selatan.

Adalah Kelompoktani (Poktan) Tani Maju yang berada di Desa Margacatur Kecamatan Kalianda Kabupaten Lampung Selatan,mayoritas sebagai petani jagung. Uniknya, petani anggota kelompok ini rata-rata memanen jagung lebih tua dari wilayah sekitarnya.

“Hal inilah yang menjadi alasan dipilihnya Poktan Tani Maju sebagai pelopor produsen Jagung Rendah Aflatoxin (JRA) di Provinsi Lampung,” demikian seperti yang disampaikan Sri Wuryaningsih, Kepala Seksi Pasca Panen dan Pemasaran Dinas Pertanian Lampung.

Luas pertanaman yang akan menjadi pelopor pertanaman JRA ini sebanyak 25 hektar, sedangkan potensi wilayah pengembangan di sekitarnya seluas 5.000 hektar.

“Berdasarkan riwayat produksi sebelumnya rata-rata produksi jagung per hektar sebanyak 5,6 ton pipilan kering, sehingga diharapkan dalam satu musim panen bisa menghasilkan sekitar 125 ton JRA,” ujar Sri.

Di tempat terpisah, Direktur Jenderal Tanaman Pangan Suwandi menyampaikan bahwa dengan adanya kebutuhan JRA secara nasional mencapai lebih dari satu juta ton setiap tahun akan menjadi peluang besar untuk petani dan pelaku usaha jagung di dalam negeri, untuk itu Kementerian Pertanian senantiasa terus mendukung upaya pengembanganya di lapangan dengan memberikan bantuan sarana dan prasana sebagai stimulus.

“Hal penting lain dari pengembangan JRA ini adalah tersedianya sarana alat mesin pasca panen, karena untuk memperoleh JRA diperlukan penanganan panen dan pasca panen yang cepat,” ujarnya.

Untuk mendukung hal ini Kementan telah memberikan bantuan sarana panen dan pasca panen kepada kelompoktani pelopor seperti kelompok Tani Maju ini.

Recent Posts

Kemenkop Tegaskan Hilirisasi Sawit Berbasis Koperasi, LPDB Koperasi Siapkan Dukungan Pembiayaan

MONITOR, Musi Banyuasin – Kementerian Koperasi Republik Indonesia menegaskan komitmennya memperkuat ekonomi kerakyatan melalui pengembangan…

13 jam yang lalu

Kemenhaj Periksa Bos PT TAS Akibat 120 Jemaah Gagal Berangkat dan 38 Jemaah Terkendala Kepulangan

MONITOR, Banjarmasin - Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) memeriksa PT TAS terkait dugaan pelanggaran penyelenggaraan perjalanan…

18 jam yang lalu

Kementerian UMKM Koordinasi Lintas Sektor Perkuat Integrasi Layanan Terpadu SAPA UMKM

MONITOR, Jakarta — Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memperkuat kolaborasi lintas kementerian dan…

18 jam yang lalu

Penjelasan Kemenag tentang Program Wakaf Saham Masjid Istiqlal

MONITOR, Jakarta - Penyataan Menteri Agama Nasaruddin Umar terkait Masjid Istiqlal, Wakaf Tunai, dan Bursa Efek…

1 hari yang lalu

Prof Rokhmin Soroti Iklim Investasi Indonesia: Investor Tertekan, Industri Melemah

MONITOR - Indonesia memiliki potensi pertumbuhan ekonomi hingga 10 persen per tahun. Namun, potensi tersebut…

1 hari yang lalu

Menteri UMKM: Bunga PNM Mekaar Turun Jadi 8 Persen Mulai September

MONITOR, Jakarta – Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman menyatakan suku bunga…

1 hari yang lalu