Kawal Pengamanan Produksi Padi, Tim Kementan Lakukan Pendampingan di Subang

MONITOR, Subang – Saat ini musim hujan sudah tiba, curah hujan yang tinggi dengan interval kurang lebih 2 hari sekali diiringi dengan hari panas sangat mendukung perkembangan Wereng Batang Coklat (WBC).

Mengantisipasi hal tersebut Kementerian Pertanian (Kementan) di bawah komando Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo meminta kepada semua petugas lapangan mewaspadai serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT).

Kepala Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT), Enie Tauruslina Amarullah, berharap semua petugas untuk lebih waspada dan sigap akan serangan OPT khususnya WBC.

“Dampingi petani, dan lakukan tindakan untuk mengantisipasi serangan, apabila diperlukan lakukan gerakan pengendalian bekerjasama dengan kelompok tani, Petugas Penyuluh Lapangan (PPL), Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) serta pemerintah desa setempat,” ujarnya.

Hal tersebut Enie katakan pada saat pertemuan pembentukan Tim Pengamanan Produksi, yang meliputi beberapa kabupaten sentra penghasil padi di Indonesia. Ia berharap dengan ditetapkannya Tim pengamanan produksi mampu mengawal dan mensukseskan panen musim ini.

Apa yang di sampaikan Enie, mendapat dukungan dengan langsung bergerak ke enam kabupaten sentra padi, yaitu, Karawang, Subang, Indramayu, Cirebon, Bogor, dan Bekasi melakukan pengawalan pengamanan pertanaman.

Ditemui di lapangan Cahyadi Irwan yang bertindak sebagai penanggung jawab pengamanan produksi kabupaten Subang mengatakan berdasarkan hasil pengamatannya ditemukan serangan Wereng dengan populasi rata-rata 10-25 ekor/rumpun, pada tanaman umur 20-40 hst di desa Panyingkiran kecamatan Purwodadi kabupaten Subang. Menurut Irwan rasio serangan seperti itu sudah masuk kategori untuk segera dilakukan pengendalian.

Pada Bimtek tersebut Irwan menjelaskan pentingnya pengamatan rutin untuk mendeteksi awal serangan, sehingga bisa diupayakan tindakan apa yang tepat untuk mengendalikannya.

“Mengingat stadia Wereng di pertanaman didominasi Nimpha, maka bahan pengendali yang tepat untuk mengendalikannya adalah dengan memakai insektisida berbahan aktif buprofezin, yang diperuntukan untuk menghambat pergantian kulit Wereng, dengan terhambatnya pergantian kulit maka Wereng tidak akan berkembang ke pase selanjutnya untuk kemudian mati,”sebut Irwan.

Aef Haenudin, ketua kelompok Tani Kalisadang desa Panyingkiran merasa terbantu dengan adanya pengawalan insentf dari Kementan langsung ke lapangan.

“Dengan adanya kegiatan ini, petani jadi tahu apa yang harus dilakukan menurut cara yang benar,” ujarnya.

Dalam kegiatan tersebut dilakukan gerakan pengendalian dengan melibatkan sebanyak 17 orang. Target pengendalian seluas 10 ha, dengan luas waspada 30 ha.

Kepada Aef dan kelompok tani binaannya Irwan menyarankan agar melakukan evaluasi 2 sampai 3 hari setelah gerdal, hal itu untuk memastikan tingkat kematian wereng dan sejauh mana efektifitas dari gerdal tersebut, bila populasi belum turun maka lakukan pengendalian ulang.

Terpisah, Direktur Jenderal Tanaman Pangan Suwandi mengatakan pengendalian OPT sebagai bentuk pengamanan produksi komoditas utama tanaman pangan.

“Upayakan bentuk pengendalian yang ramah lingkungan dengan memanfaatkan sumberdaya alam yang ada di sekitar kita,” ujarnya.

Tahun ini BMKG memperdiksi adanya La Nina. Menghadapi hal ini, Suwandi mengakui sudah mensosialisasikan ke daerah upaya yang hrus dilakukan untuk mengantisipasinya seperti dengan penggunaan varietas tahan genangan, pompanisasi, aktif memantau kondisi cuaca dan sebagainya.