Mentan: Kopi Spesialti Indonesia Harus Ramaikan menu di Kafe Eropa, Timur Tengah, sampai AS

Foto: Dok Market Bisnis.com

MONITOR, Lembang – Kopi saat sudah menjadi gaya hidup terutama bagi kalangan milenial, kafe-kafe yang menjajakan kopi Indonesia tumbuh pesat dan penuh oleh kalangan milenial. Menurut Specialty Coffee Association of Indonesia (SCAI) pertumbuhan usaha kedai kopi tahun 2019 diprediksi mencapai 15%—20%, naik jika dibandingkan dengan 2018 yang hanya mencapai 8%—10%. Kontribusi kedai kopi terhadap serapan kopi produksi dalam negeri mencapai 25%—30%. Angka tersebut diprediksi terus naik ke level 35%—40%.

Kopi Indonesia adalah salah satu yang terbaik di dunia. Meskipun ada kopi jenis Geisha Panama, Blue Mountain, dan sebagainya. Indonesia punya beragam kopi spesialti, beberapa jenis kopi Indonesia cukup populer di dunia, seperti Kopi Gayo (Aceh), Kopi Preanger (Jabar), Kopi Kintamani (Bali), Kopi Toraja (Sulawesi) hingga Kopi Bejawa (Flores).

Tepat di hari Natal 25 Desember 2020, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo tetap memonitor kegiatan pembangunan pertanian sebagai wujud komitmen menjaga pangan serta pemulihan ekonomi pada pandemi Covid-19. Mengunjungi usaha Kopi Luwak Cikole yaitu CV Kopi Luwak Cikole yang berlokasi di Jl. Nyalindung No.9 Kampung Babakan, Desa Cikole, Kecamatan Lembang, Jawa Barat.

Mentan SYL merasa puas dengan kinerja petani-petani sebagai pejuang pangan dan pemulihan ekonomi Indonesia.

“Sekarang ini Kita di tempat pengolahan Kopi Luwak, sebagai bukti bahwa Kopi Indonesia memiliki rasa tersendiri. Iklim tropis negara kitalah yang membuat produk kopi yang dihasilkan memiliki tingkat keasaman serta aroma yang pas”, tutur Mentan SYL.

“Anda sudah lihat sendiri, dan dengar langsung dari pemilik Kopi Luwak Cikole Pak Sugeng. Pengunjung kedai kopi ini tidak kurang dari 100 orang perhari dan bahkan sebelum pandemi pengunjung mencapai 300 orang perhari”, tegas Mentan SYL.

Mentan SYL juga yakin bahwa kopi Indonesia akan tumbuh berkembang terus, mulai dari yang sederhana hingga yang modern, hampir di tiap kota dan desa kedai kopi tumbuh. Dapat diprediksi pertumbuhannya sampai akhir tahun nanti antara 15%—20%.

Sementara itu, Direktur Jenderal Perkebunan Kementan Kasdi Subagyono, luas areal kopi di Indonesia yaitu 1,2 juta ha dan 96% merupakan perkebunan rakyat. Jawa Barat memiliki kopi spesialti yaitu Java Preanger, dan didominasi oleh jenis kopi Arabika yang luas areal kopi di Jawa Barat seluas 44 ribu ha dan produksi pertahun sebesar 20 ribu ton.

Kasdi menambahkan bahwa, “total serapan kopi dalam negeri yang diprediksi mencapai 300.000—350.000 ton, dari total produksi nasional 760 ribu ton. Ditjenbun mempunyai program Gerakan Peningkatan Produksi, Nilai Tambah dan Daya Saing Perkebunan (GRASIDA), kita akan mendukung program tiga kali ekspor (Gratieks)”.

Pemilik kedai dan usaha pengembangan Kopi Luwak Cikole yaitu Sugeng Pudjianto menyampaikan bahwa, “tempat ini sejak tahun 2015 lalu dijadikan tempat percontohan dan pusat sarana edukasi terkait penangkaran hewan luwak dengan penunjukan langsung oleh Kementerian Pertanian dan Asosiasi Kopi Luwak Indonesia”, tutur Sugeng.

Tidak heran jika tempat produksinya sering ramai mendapat kunjungan silih berganti dari wisatawan lokal maupun mancanegara, terutama dari Eropa, Asia, hingga Timur Tengah.

Mempunyai 200 ekor musang, rumah produksi Kopi Luwak Cikole dapat menghasilkan 120 kg kopi luwak per bulan. Harganya berkisar Rp 3 juta per kilogram (kg). Permintaannya tinggi baik di dalam negeri maupun luar negeri. Namun Sugeng tidak mau terlalu berambisi memenuhi seluruh permintaan yang datang. Yang menjadi fokusnya adalah menciptakan produk berkualitas namun tetap menjaga kesejahteraan luwak.

Sugeng terus menjaga dan meningkatkan standar produksi serta kualitas kopi luwak yang dihasilkan dengan menerapkan prinsip kesejahteraan luwak. Yakni dengan memperhatikan ukuran kandang, kebersihannya, makanannya hingga kesehatan luwak. Perhatian yang besar pada kualitas tiap biji kopi yang dihasilkan membuat produknya tidak hanya dikenal oleh penikmat kopi luwak di dalam negeri namun juga luar negeri.

Sugeng bilang, untuk pasar luar negeri, Kopi Luwak Cikole saat ini sudah berhasil memasuki pasar Inggris, Italia, Belanda, Jerman, China, Jepang, Korea, Uni Emirat Arab, Singapura, dan Malaysia.

Mengenai hal ini, Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo mengatakan bahwa produksi kopi Indonesia memiliki peluang yang sangat besar, terutama dalam memenuhi kebutuhan pasar ekspor. Menurut Mentan, Kopi Indonesia punya keunggulan khusus dibandingkan negara-negara produsen lainnya.

“Kiata harus menjadikan kopi Indonesia sebagai kopi andalan dunia. Oleh karena itu kita harus persiapkan segala sesuatunya. Mulai dari lahan dan bibit yang lebih ungul, kemudian riset-riset yang baik begitu juga budidayanya dan proses lainnya, sehingga kualitas kopi kita semakin terhebat di dunia,” katanya.

Mentan mengaku selama ini dirinya merupakan penggemar kopi Indonesia. Ia bahkan terbiasa meminum kopi asal toraja.

“Saya dua kali sehari minum kopi. Kopi toraja yang biasa diminum di rumah,” tutupnya.