Kementerian PUPR

Kementerian PUPR lakukan Tanggap Darurat Pascabencana Banjir di Kabupaten Aceh Utara dan Aceh Timur

MONITOR, Aceh – Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR)  terus berupaya untuk membantu penanganan darurat bencana banjir yang melanda Kabupaten Aceh Utara dan Aceh Timur di Provinsi Aceh, selama masa penetapan tanggap darurat oleh Pemerintah Daerah 4-17 Desember hingga pascabencana. Bencana banjir terjadi pada Jumat (4/12/2020) lalu, disebabkan oleh luapan air Sungai Kerto, Aceh Utara akibat curah hujan yang sangat tinggi di hulu sungai.

Wakil Menteri PUPR John Wempi Wetipo mengatakan dalam masa tanggap darurat bencana banjir di Kabupaten Aceh Utara dan Aceh Timur, yang paling penting untuk segera terpenuhi adalah ketersediaan prasarana dan sarana air bersih dan sanitasi untuk keperluan sehari-hari bagi para korban dan pengungsi.

“Sekarang kami sedang kumpulkan data-data validnya untuk penanganan infrastruktur Sumber Daya Air, tetapi yang paling penting adalah bagaimana kebutuhan masyarakat yang terdampak dan pengungsi, utamanya ketersediaan air bersih,” kata Wamen Wempi saat meninjau lokasi pengungsi di Kecamatan Syamtalira Atom, Aceh Utara, Selasa (8/12/2020).

Bantuan tanggap darurat secara bertahap disalurkan Kementerian PUPR melalui Direktorat Jenderal (Ditjen) Cipta Karya berupa layanan air bersih dan sanitasi, termasuk fasilitas MCK darurat ke lokasi-lokasi pengungsian korban bencana gempa di Kabupaten Aceh Utara dan Aceh Timur diantaranya berupa 2 unit MTA berkapasitas 4000 liter, 10 unit Hidran Umum berkapasitas 2000 liter, dan 3 unit dump truck.

Pada kesempatan tersebut, Wamen Wempi juga meninjau Bendung Krueng Pase di Kecamatan Meurah Mulia yang kondisinya rusak akibat banjir. Beberapa titik dinding bendungan longsor hingga menutup saluran irigasi bendung menuju lahan pertanian masyarakat.

“Untuk bendung ini, kami siapkan penanganan sementara, mungkin dibuatkan saluran air terlebih dahulu dengan karung pasir, sehingga air tetap mengalir ke pertanian dan tetap menghidupi perekonomian masyarakat. Sementara untuk penanganan permanen sebenarnya sudah dianggarkan BWS Sumatera 1 pada tahun 2021,” tutur Wamen Wempi.

Bendung Krueng Pase dibangun pada tahun 1940 dengan elevasi puncak 19,3 meter. Selama ini bendung yang airnya berasal dari membendung Sungai Krueng Pase tersebut telah dimanfaatkan masyarakat untuk penyediaan air irigasi seluas 8.922 hektare.

Recent Posts

Muktamar NU Memanas; 9 Ulama Jadi Penentu, Hery Haryanto Azumi Berpeluang jadi Jalan Tengah

MONITOR, Jombang - Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama memasuki fase krusial. Konfigurasi kepemimpinan PBNU periode 2026–2031…

6 jam yang lalu

Kasus Yogi Mentawai: Ombudsman Dorong Negara Kedepankan Pembinaan

MONITOR, Jakarta - Ombudsman Republik Indonesia menaruh perhatian terhadap perkara Yogi Gilang Arya Setia, warga…

1 hari yang lalu

Kuasa Hukum UIN Jakarta: Penataan SIP Pamulang Bagian dari Pengamanan Aset Negara

MONITOR, Jakarta - Kuasa Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Alwanih, S.H., M.H., menegaskan penataan dan…

1 hari yang lalu

Jelang ESDP 2027, Kemnaker dan IM Japan Perkuat Kesiapan Peserta Pemagangan Indonesia

MONITOR, Tokyo – Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) bersama International Manpower Development Organization (IM Japan) membahas kesiapan…

1 hari yang lalu

Menteri UMKM Pastikan Banpres bagi UMKM Terdampak Bencana Sumatera Tepat Sasaran

MONITOR, Jakarta – Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman memastikan Bantuan Presiden…

2 hari yang lalu

Danantara Indonesia Tinjau Integrasi Tiga Pilar Layanan Jasa Marga untuk Tingkatkan Customer Experience

MONITOR, Jakarta - PT Jasa Marga (Persero) Tbk memperkuat integrasi tiga pilar layanan, yaitu layanan preservasi,…

2 hari yang lalu