Aksi Teror Sigi, BNPT Dinilai Gagal Berantas Kelompok Teroris di Tanah Air

Ketua Umum Gerakan Pemuda Pembaharu Bangsa (GPPB), Abraham

MONITOR, Jakarta – Ketua Umum Gerakan Pemuda Pembaharu Bangsa (GPPB), Abraham menilai aksi terorisme yang menewaskan empat orang dan pembakaran gereja di Kabupaten Sigi Sulawesi Tengah pada Jumat (27/11) lalu merupakan bentuk kegagalan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dalam memberantas terorisme.

Padahal kata dia, sejak Komjen Pol Boy Rafli Amar dilantik sebagai Kepala BNPT, Boy Rafli telah berjanji akan menjadikan kelompok Mujahid Indonesia Timur (MIT) sebagai agenda prioritas pemberantasan kelompok teror di tanah air.

“Ini adalah bagian dari kegagalan BNPT yang dipimpin oleh Komjen. Pol. Boy Rafli Amar. Karena diawal kepemimpinannya Boy Rafli berjanji akan menjadikan penanganan sisa kelompok teror Santoso sebagai agenda prioritas BNPT. Sebaiknya Boy Rafli mundur saja. Karena masih banyak putra bangsa yang kompeten dalam memberantas terorisme,” ujar Abraham melalui keterangan tertulis yang diterima, Senin (30/11).

Menurut Abraham, jika ditarik ke belakang pada awal Agustus 2020 lalu, dikabarkan Boy Rafli melakukan kunjungan ke wilayah operasi tersebut. Hal ini usai kelompok Ali Kalora pimpinan MIT melakukan penyanderaan dua orang petani dan merampok rombongan pegawai Pemda Poso di jalan Trans Sulawesi.

Namun, keberadaan Ali Kalora sempat dianggap tidak begitu berbahaya atau diremehkan, BNPT sempat meyakini jika kelompok ini tinggal beberapa orang saja terlebih terbunuhnya santoso dan penangkapan beberapa dari kelompok tersebut. dengan begitu kapasitas Ali kalora diragukan bisa memimpin dan mempertahankan kelompok teror MIT apalagi ditengah Operasi Tinombala.

Akan tetapi prediksi dan anggapan tersebut salah sebab di tahun 2020 ini telah terjadi tiga kali insiden di Sulawesi tengah yang menjadi tanggung jawab kelompok Ali kalora, hal ini semakin menunjukan bahwa kapasitas Komjen Pol. Boy Rafli Amar diragukan dalam memberantas terorisme.

“Saya menilai Komjen. Pol. Boy Rafli Amar telah gagal menjalankan tugas Negara dalam pemberantasan teroris dengan penegakan hukum yang tegas, berdiri tegak lurus, dan tanpa kompromi dengan melakukan perburuan yang massif untuk membongkar dan menangkap jaringan teroris ini sampai ke akarnya,” tuturnya.

Dengan tiga kali aksi yang dilancarkan oleh kelompok MIT dalam rentang waktu kurang dari satu tahun semakin memperlihatkan kegagalan Komjen Pol Boy Rafli Amar dalam mengemban amanah presiden RI.

“Seharusnya mereka (BNPT) melakukan pendekatan soft power ditengah upaya pendekatan hard power, agar masyarakat setempat juga mendukung operasi yang sedang dilakukan,” kata dia.

Abraham juga mengatakan ancaman teror ini sangat berbahaya bagi rasa persatuan Indonesia. Sebab, dengan adanya peristiwa teror ini akan menimbulkan rasa ketidaknyamanan masyarakat dan politik. Sehingga berpotensi menimbulkan perpecahan antar golongan, dan tentunya berseberangan dengan falsafah Bangsa Indonesia.

Ia pun meminta agar BNPT lebih serius dalam menangani aksi terorisme di Indonesia.

“Seharusnya BNPT lebih massif lagi dan lebih galak ya dalam menangani teroris di Indonesia, jadi jangan bergerak masifnya hanya karena sudah kecolongan seperti hari ini,” tutup.

Sebelumnya, telah terjadi aksi terorisme yang terjadi di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah pada Jumat (27/11). Peristiwa itu menyebabkan empat orang tewas, satu gereja dan tujuh rumah jemaat hangus dibakar.

Tak hanya menyerang warga, aksi ini juga disertai perampokan, di mana para pelaku merampok 40 kilogram beras dan mengambil barang-barang milik warga. Aparat kepolisian menduga serangan tersebut dilakukan oleh kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Ali Kalora.