Joe Biden Berkuasa, Pengamat Ingatkan Jangan Sampai Indonesia Jadi Objek

“Jangan sampai kita hanya terbawa pada permainan kawasan yang dimainkan oleh China dan Amerika”

Pengamat Militer dan Intelijen, Susaningtyas Kertopati, saat menjadi narasumber dalam Seminar Nasional bertema ‘Membangun kembali budaya maritim Indonesia melalui kebijakan kelautan Indonesia dengan strategi pertahanan maritim Indonesia’ di Gedung Seskoal, Cipulir, Jakarta Selatan, Selasa (3/11/2020). (Istimewa)

MONITOR, Jakarta – Pengamat Intelijen dan Militer, Susaningtyas Kertopati, mengingatkan jangan sampai Indonesia hanya dijadikan sebagai objek oleh China dan Amerika Serikat (AS) jika Joe Biden resmi dinobatkan jadi Presiden AS.

Wanita yang akrab disapa Nuning itu mengungkapkan bahwa Pemerintah Indonesia harus memperkuat diplomasi pertahanan dan mempelajari secara serius kebijakan yang akan diambil oleh Amerika Serikat jika Joe Biden resmi dinobatkan sebagai orang nomor satu di Negara Paman Sam itu.

”Amerika zaman Biden akan kembali berperan sebagai polisi dunia, karena dia globalis, maka akan mencampuri urusan dalam negeri negara lain seperti urusan HAM, seperti kasus-kasus demokrasi Hong Kong, Uighur di Xinjiang, mungkin juga Papua,” ungkapnya dalam diskusi yang digelar secara virtual oleh Populi Center dan Smart FM Network dengan tema ‘Forbidden For Biden’, Jakarta, Sabtu (14/11/2020).

Nuning menyebutkan, AS memiliki kebijakan kebebasan navigasi atau freedom of navigation dan komitmen keamanan dengan negara-negara di kawasan.

Di sisi lain, lanjut Nuning, China begitu aktif dengan platform militernya, memperkuat dan memodernisasi alutsistanya, termasuk melakukan cyber defence yang sangat luar biasa.

“Sebagai pendulum, kita menentukan diri sendiri. Kalau kita berbaik hati kepada China dan Amerika, kita harus dapat porsi keuntungan yang jelas, jangan sampai kita hanya terbawa pada permainan kawasan yang dimainkan oleh China dan Amerika. Kita jangan sampai jadi objek,” ujarnya.

Dosen Intelijen Maritim Universitas Pertahanan (Unhan) itu mengibaratkan Indonesia seperti anak gadis cantik yang selalu dilirik oleh AS dan China. Karenanya, Nuning mengatakan, Indonesia harus cerdas dalam menyikapi dan berdiplomasi dengan kedua negara tersebut.

“Bicara diplomasi itu tentu tidak bisa mengatakan hanya tugas Kementerian Luar Negeri (Kemlu), di sana ada juga Athan (Atase Pertahanan) dan Perbinlu (Perwakilan BIN Luar Negeri) yang dalam sistem kerjanya terintegrasi. Mereka saling memberikan masukan untuk akhirnya ada output yang bermanfaat bagi negara,” katanya.

Nuning berharap, globalis Biden tidak berperan terlalu aktif sehingga mengacak-acak sistem negara lain, utamanya di ASEAN. Untuk itu, Athan harus mengantisipasi kemungkinan terjadinya perang kognitif, hybrid, yang bisa saja terjadi di kawasan. Menurut Nuning, hal itu bisa diantisipasi apabila Athan aktif melakukan deteksi dini.

“Kita juga harus berpikir bahwa kita sangat mengharapkan apabila memang Biden yang diputuskan sebagai pemenang akan melakukan satu investasi yang positif di Indonesia juga kerja sama yang baik, yang friendly di kawasan. Sehingga tidak memperuncing keadaan yang ada. Saya rasa itulah harapan kita semua. Semoga siapapun yang menjadi Presiden Amerika akan mendatangkan keuntungan bagi Indonesia,” ungkapnya.