Kementerian PUPR Kembangkan Teknologi IPAL tangani Pencemaran Air Limbah Industri Tahu

MONITOR, Jakarta – Makanan tahu telah lama menjadi produk olahan industri rumahan (UKM) yang memberikan kontribusi positif pada penyediaan pangan, lapangan pekerjaan, dan pengembangan ekonomi di daerah. Namun apabila pengelolaan limbah yang dihasilkan dari produksi tahu tersebut tidak tepat, justru menimbulkan dampak yang merugikan masyarkat seperti pencemaran lingkungan.

Untuk membantu mengatasi permasalah tersebut, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mengembangan teknologi pengolahan air limbah tahu berupa Instalansi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Tahu.

Saat ini telah banyak teknologi-teknologi yang dihasilkan untuk mengolah air limbah tahu, dimana Kementerian PUPR melalui Direktorat BinaTeknik Permukiman dan Perumahan Ditjen Cipta Karya melakukan perekayasaan dengan merangkai teknologi-teknologi tersebut menjadi satu kesatuan sistem pengelolaan.

Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan dukungan inovasi dan teknologi diperlukan dalam pembangunan infrastruktur untuk menjadi lebih baik, cepat, dan lebih murah. “Pemanfaatan teknologi yang tepat guna, efektif, dan ramah lingkungan juga didorong guna menciptakan nilai tambah dan pembangunan berkelanjutan sehingga manfaat infrastruktur dapat dirasakan generasi mendatang,” katanya.

Rangkaian teknologi IPAL tahu meliputi bak ekualisasi yang berfungsi untuk menstabilkan suhu limbah dan aliran berdasarkan debit air limbah yang dihasilkan setiap hari. Umumnya bak ekualisasi dibangun dengan kapasitas 20 m3 dengan rata-rata waktu air limbah mengendap selama 2-5 jam. Hal ini dimaksudkan agar suhu air limbah sebelum masuk ke unit lain sudah menurun dan aliran bisa laminer.

Selanjutnya biodigester berbahan Fiberglass Reinforced Plastic (FRP) dengan kapasitas 4 m3 per hari. Alat ini berfungsi untuk mempercepat pembusukan limbah dan menghasilkan gas methan (CH4) yang dapat dimanfaatkan sebagai energi alternatif bahan bakar. Dari biodigester dihubungkan ke bioreaktor untuk meningkatkan daya oksigen dalam menumbuhkan bakteri pengurai air limbah. Dengan pertumbuhan bakteri akan mengurangi beban pencemaran air limbah tahu.

Air limbah tahu dari bioreaktor akan diurai kembali ke biofilter yang di dalamnya terdapat 3 kompartemen terdiri dari solid separation settler, anaerob chamber, sedimentasi, dan effluent chamber dengan kapasitas 20 m3 per hari. Terakhir, air limbah tahu yang sudah terolah disalurkan ke kolam sanita yang dilengkapi dengan batu koral setinggi 80 cm dan dilengkapi tanaman air. Fungsi kolam sanita tetap sama untuk memfilter patogen-patogen yang dapat membahayakan kesehatan.

Teknologi ini telah diterapkan Kementerian PUPR di beberapa wilayah di Indonesia diantarannya di Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Pembangunan IPAL ini telah memberikan manfaat pada penanganan air limbah tahu industri rumahan tangga di Dusun Ponalan, Desa Taman Agung.

Sebelum dibangun teknologi ini, perajin tahu di desa setempat sering membuang langsung limbah cair hasil produksi tahu ke drainase lingkungan atau sungai, sehingga menimbulkan bau menyengat yang tidak nyaman bagi penduduk di sekitar, terlebih pada musim hujan luapan air limbah yang tidak terkendali kerap memicu terjadinya persoalan sosial.

Dengan dibangunannya teknologi IPAL menggunakan bakteri pengurai alami dapat mengolah limbah cair yang dihasilkan dari proses pencucian, perebusan, pengepresan, dan pencetakan tahu, sehingga tidak mencemari pembuangan limbah cair di desa setempat. Masyarakat diharapkan dapat menjaga dan memisahkan air limbah tahu dengan limbah domestik/rumah tangga, serta meningkatkan pemanfaatan biodigester untuk menghasilkan energi listrik.