Bencana La Nina Mengancam, Petani Lebak Diajak Ikut AUTP

MONITOR, Lebak – Para petani di Kabupaten Lebak, Banten diajak menjadi peserta Asuransi Usaha Tanaman Padi (AUTP). Langkah tersebut merupakan bagian dari antisipasi dalam menghadapi fenomena ‘La Nina’ yang berpotensi menimbulkan bencana alam.

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengingatkan adanya ancaman banjir, longsor, dan ancaman kegagalan panen pada daerah-daerah tertentu.

“La Nina akan membuat curah hujan naik. Berarti jumlah air akan sangat meningkat, dan ada gejala-gejala hama yang mungkin juga muncul saat banjir,” ujar Mentan SYL, Selasa (10/11).

Oleh karena itu, Mentan menyebut menyediakan asuransi usaha tani padi sebagai salah satu strategi untuk menghadapi La Nina.

“Saya kira ini rutin, tapi sudah harus berjalan lebih masif. Saya harap asuransi adalah bagian dari solusi yang pasti bagi mereka yang terkena dampak, terutama yang kena puso,” ujarnya.

Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan Sarwo Edhy mengatakan, asuransi menjadi pilihan terbaik jika terjadi gagal panen. Dijelaskannya, asuransi sifatnya antisipasi, menjaga jika ada ancaman yang membuat gagal panen.

“Oleh karena itu, saat memasuki musim tanam, ada baiknya petani juga mengasuransikan lahan. Apalagi BMKG sudah mengeluarkan pernyataan tentang anomali iklim La Nina yang bisa mengganggu pertanian,” terang Sarwo Edhy.

Sarwo Edhy menambahkan, asuransi pertanian adalah bagian dari mitigasi bencana yang bisa dimanfaatkan petani. Asuransi akan meng-cover kerugian pada lahan-lahan yang gagal panen. Baik akibat serangan hama dan penyakit, bencana alam, perubahan iklim maupun cuaca ekstrim seperti La Nina.

“Dengan asuransi, petani tidak perlu khawatir lagi jika gagal panen. Bahkan mereka akan memiliki modal untuk tanam lagi,” tegasnya.

Kepala Bidang Penyuluh Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Kabupaten Lebak, Deni Iskandar mengatakan, keuntungan petani masuk menjadi peserta AUTP bisa terlindungi jika mengalami gagal panen dan mereka akan mendapatkan ganti kerugian sebesar Rp 6 juta/hektare.

“Dengan menjadi peserta AUTP, petani bisa terlindungi jika mengalami gagal panen yang menimbulkan kerugian,” ujar Deni.

Deni menjelaskan, petani cukup membayar premi Rp 36 ribu per hektare dari seharusnya Rp180 ribu per hektare, karena pemerintah sudah memberikan subsidi.

“Kami tidak henti-hentinya mensosialisasikan AUTP agar petani menjadi peserta dan jika mereka gagal panen mendapat ganti rugi itu,” ujar Deni.

Menurutnya, menghadapi fenomena La Nina yang ditandai curah hujan meningkat disertai angin kencang, sehingga berpotensi bencana alam yang mengakibatkan gagal panen. Kasus gagal panen itu bisa disebabkan banjir, longsor dan serangan hama wereng maupun penyakit tanaman lainnya.

Ia menyatakan, diperkirakan sekitar 50 persen dari 1.500 kelompok tani di Kabupaten Lebak yang belum tergabung dalam asuransi pertanian tersebut. Pihaknya menargetkan semua kelompok tani bisa menjadi peserta AUTP bekerja sama dengan PT Jasindo.

“Kami berharap PT Jasindo juga membuka anak cabang di Rangkasbitung untuk kemudahan pelayanan kepada petani,” harapnya.

Saat ini, lanjutnya, petani kesulitan untuk mendapatkan pelayanan karena jarak Jasindo cukup berjauhan.

“Kami yakin jika Jasindo berada di Rangkasbitung dipastikan semua petani bisa menjadi peserta asuransi pertanian,” kata Deni.

Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Suka Bunga Desa Tambakbaya, Kabupaten Lebak, Ruhyana mengatakan, petani di sini sebanyak 100 orang telah menjadi peserta AUTP, karena memberikan perlindungan jika mengalami gagal panen.

Apalagi, areal tanaman padi di wilayahnya rawan terhadap serangan hama wereng coklat yang mengakibatkan gagal panen, terlebih saat ini curah hujan cenderung meningkat. Ia menyebutkan, biasanya, curah hujan meningkat dapat menimbulkan suhu lembab dan berpotensi populasi hama wereng coklat.

“Semua petani di sini menjadi peserta AUTP, karena sangat bermanfaat jika mengalami gagal panen dipastikan dapat ganti rugi Rp6 juta/hektare,” pungkasnya.