Akishino Jadi Ahli Waris Utama Kekaisaran Jepang

Akishino adalah salah satu dari tiga ahli waris tahta kekaisaran Jepang

Putra Mahkota Jepang, Akishino, dan Putri Mahkota Kiko saat tampil di perayaan Tahun Baru di Istana Kekaisaran, Tokyo, Jepang, 2 Januari 2020. (REUTERS/Kim Kyung-Hoon)

MONITOR, Tokyo – Jepang secara resmi menyatakan bahwa Putra Mahkota Akishino menjadi ahli waris utama kekaisaran berikutnya setelah pada 2019 lalu kakak laki-lakinya, Naruhito, resmi menjadi kaisar karena ayah mereka turun tahta.

“Saya dengan mendalam merenungkan tanggung jawab sebagai Putra Mahkota dan akan melaksanakan tugas saya,” ungkap Akishino menurut stasiun penyiaran publik NHK, Minggu (8/11/2020).

Dengan mengenakan jubah berwarna oranye, Akishino memberikan pernyataan itu di depan para hadirin yang sebagian besar mengenakan masker.

Peresmian ditandai dengan serangkaian upacara selama sehari penuh di istana kekaisaran.

Upacara tersebut sebelumnya dijadwalkan berlangsung pada April 2020, namun ditunda karena pandemi Virus Corona atau Covid-19.

Upacara juga dibuat secara sederhana karena kasus penularan Covid-19 di Jepang terus meningkat, meskipun Jepang lolos dari kondisi parah yang melanda banyak negara lain.

Menurut undang-undang Jepang, hanya laki-laki yang bisa mewarisi tahta. Dengan demikian, satu-satunya keturunan Naruhito, yakni Putri Aiko yang berusia 18 tahun, tidak memenuhi syarat sebagai ahli waris.

Upaya untuk mengamandemen undang-undang tersebut surut ketika istri Akishino melahirkan seorang putra, Hisahito, pada 2006.

Akishino, usia 54 tahun, adalah salah satu dari tiga ahli waris tahta kekaisaran. Dua ahli waris lainnya adalah Hisahito yang berusia 14 tahun dan Pangeran Hitachi yang berusia 84 tahun, yakni adik Kaisar Emeritus Akihito.

Akihito mengundurkan diri tahun lalu. Ia menjadi kaisar pertama Jepang dalam dua abad terakhir ini yang melepaskan tahta.

Perubahan pada undang-undang suksesi merupakan kutukan bagi kaum konservatif. Namun, perdebatan tentang upaya untuk memastikan suksesi berlangsung dengan stabil kemungkinan akan meningkat

Salah satu pilihan yang mengemuka adalah mengizinkan perempuan, termasuk Aiko dan dua kakak perempuan Hisahito, untuk mempertahankan status bangsawan mereka setelah menikah dan mewarisi atau mewariskan tahta kepada anak-anak mereka.

Menurut beberapa jajak pendapat, perubahan itu didukung oleh masyarakat Jepang pada umumnya.

Sumber: Reuters