KNPI Sebut Bupati Bogor Tak Objektif Soal Oknum Camat yang Lecehkan Pers

“Slip of tongue dalam tataran sekelas pejabat publik itu tidak sepatutnya disematkan”

Ketua KNPI Kabupaten Bogor, Hasyemi Faqihudin. (Istimewa)

MONITOR, Kabupaten Bogor – Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Bogor, Hasyemi Faqihudin, menilai bahwa Bupati Bogor Ade Yasin tidak tegas dalam pernyataannya terkait perilaku seorang oknum camat yang melecehkan profesi pers atau jurnalis.

Hal itu diungkapkan Hasyemi saat menanggapi pernyataan Bupati Bogor Ade Yasin yang menyebut bahwa oknum camat tersebut tidak sengaja atau terselip lidah saat menyinggung profesi jurnalis.

Menurut Hasyemi, Bupati Bogor Ade Yasin itu justru terlihat tidak objektif dan terkesan membela oknum camat tersebut.

“Slip of tongue (terselip lidah) dalam tataran sekelas pejabat publik itu tidak sepatutnya disematkan, sangat jelas itu sudah mencerminkan kualitas buruk dalam komunikasi terhadap publik atas kinerjanya,” ungkapnya dalam keterangan tertulis yang diterima MONITOR, Jakarta, Senin (26/10/2020).

Hasyemi mengatakan bahwa kesan pembelaan Bupati Bogor Ade Yasin terhadap oknum camat itu justru akan melukai insan pers.

“Saya kira Bupati Bogor tidak mengetahui percis kejadian yang terjadi, ataupun soal kinerja buruk oknum camat tersebut. Jika melihat etika perilaku untuk sekelas pejabat publik, oknum camat tersebut lebih baik diam daripada salah ngomong terus dibela slip of tongue,” katanya.

Sekadar informasi, sebelumnya Camat Cibungbulang Yudi Nurzaman mengeluarkan pernyataan yang diduga melecehkan profesi jurnalis pada saat mediasi aksi demo yang dilakukan Forum Kepemudaan dan warga Cibatok Satu terkait permintaan mutasi Camat serta audit transparansi anggaran program Pemerintah Desa Cibatok Satu di aula Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, Rabu (21/10/20), menuai reaksi dari kalangan jurnalis yang sedang meliput.

Sang Oknum Camat Cibungbulang Yudi Nurzaman diduga melecehkan dengan menyebut para jurnalis atau wartawan hendak meminta uang kepadanya dengan dalih wawancara meminta klarifikasi terkait aksi demo tersebut.

Sejumlah wartawan yang tergabung dalam wadah Jurnalis Bogor Barat (JBB) dibuat geram oleh Camat Cibungbulang Yudi Nurzaman yang menuding wartawan hendak meminta uang kepadanya dengan alasan wawancara.

“Kami datang untuk minta keterangan camat terkait tuntutan warga untuk transparansi audit anggaran program, tapi ia malah mengeluarkan kata-kata menohok yang membuat geram para jurnalis,” ujar salah satu anggota JBB, Cepi Kurniawan, seperti dilansir dari laman Tempo.co di Kabupaten Bogor, Rabu (21/10/2020).

Di sisi lain, Camat Cibungbulang Yudi Nurzaman, mengaku sudah meminta maaf kepada para jurnalis yang tersinggung karena kata-kata yang dinilai telah melecehkan profesi wartawan saat mediasi di forum resmi dengan para pendemo bersama Muspika dan Kades Cibatok Satu. 

“Saya meminta maaf kepada seluruh insan pers terkait pernyataan saya yang menyinggung para jurnalis yang sedang meliput kegiatan aksi unjuk rasa di kantor kecamatan Cibungbulang. Saya keceplosan dan bercanda mengeluarkan kata kata yang menyinggung profesi insan pers,” ungkapnya saat memberikan pernyataan seusai para jurnalis meminta klarifikasi terkait pernyataannya di kantornya.

Menanggapi hal itu, Bupati Bogor Ade Yasin pun angkat bicara. Ade Yasin menilai bahwa yang bersangkutan tidak sengaja dan tidak berniat menghina profesi jurnalis karena terselip lidah.

“Saya minta pastinya untuk mempertemukanlah antara Pak Camat dengan media nanti supaya tidak berkembang ya karena kan namanya manusia kadang-kadang slip of tongue (terselip lidah),” katanya kepada wartawan usai menghadiri acara Temu Petani dan Eksportir Tanaman Hias di Desa Sukamantri, Kecamatan Tamansari, Kamis (22/10/2020).

Sementara itu, Ketua DPRD Kabupaten Bogor Rudy Susmanto, menyesalkan tindakan yang dilakukan Camat Cibungbulang yang melecehkan profesi jurnalis ketika melakukan peliputan demo warga di aula kecamatan beberapa waktu lalu itu.

“Ini bisa menjadi contoh kepada pejabat lain di tingkat kecamatan, dan saya ingin kepada BKPP untuk segera memberikan teguran secara lisan maupun tulisan kepada pejabat tersebut,” ujarnya.

Rudy juga menjelaskan, perkataan yang dilontarkan oleh camat tersebut sudah jelas menyalahi aturan, apalagi disampaikan di depan umum, karena hal itu tidak etis dilakukan oleh seorang pejabat publik.

“Saya harap kejadian ini tidak terulang, dan menjadi pelajaran bagi yang lain. Karena perkataan yang dikeluarkan didepan umum tidak etis,” ungkapnya.