HUKUM

Kadiv Humas: Polri Wajib Lindungi Wartawan yang Meliput Demo

MONITOR, Jakarta – Seluruh Anggota Polri justru wajib melindungi wartawan saat melakukan tugasnya meliput aksi unjuk rasa atau demonstrasi.

Hal itu disampaikan oleh Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Pol Argo Yuwono, saat menerima jajaran pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) di Mabes Polri pada Senin (12/10/2020) dalam rangka membahas tindak kekerasan yang dilakukan oknum polisi kepada wartaawan saat meliput aksi unjuk rasa menolak Undang-Undang Omnibus Law Cipta Kerja (UU Ciptaker) pada Kamis (8/10/2020) lalu.

Dalam kesempatan itu, PWI diwakili oleh Ketua Umum Atal S. Depari, Sekjen PWI Mirza Zulhadi dan Sekretaris PWI Jaya Naek Pangaribuan.

Pada pertemuan itu, Argo mengungkapkan bahwa Polri akan kembali menyosialisasikan ke jajarannya di lapangan bahwa kerja wartawan dilindungi oleh UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers dan tidak boleh mengalami kekerasan serta intimidasi.

Meskipun sebenarnya, Argo mengakui bahwa hal itu sudah seringkali diinstruksikan ke jajarannya di lapangan namun masih saja ada oknum yang tidak mematuhinya.

“Artinya Polri juga wajib melindungi wartawan yang bekerja saat meliput aksi demonstrasi di lapangan,” ungkapnya.

Oleh karena itu, Argo berjanji bahwa pihaknya akan membuatkan rompi khusus bagi rekan-rekan wartawan supaya mudah dikenali oleh jajarannya saat melakukan peliputan aksi unjuk rasa atau demonstrasi.

“Karenanya ke depan kami akan membuat rompi khusus bagi wartawan di lapangan, agar dapat dikenali petugas. Sehingga tidak terjadi kekerasan dan intimidasi terhadap wartawan,” ujarnya.

Untuk penyediaan rompi bagi wartawan itu, lanjut Argo, akan dimulai nantinya bagi para wartawan yang bertugas di Mapolda Metro Jaya dan disusul oleh Mapolda kota-kota besar di Indonesia.

“Selanjutnya secara bertahap di seluruh wartawan di semua Polda,” katanya.

Sementara itu, Ketua PWI Atal S. Depari, mengungkapkan bahwa pada dasarnya Polri juga sepakat bahwa kinerja wartawan di lapangan adalah dilindungi UU serta dijamin tidak boleh mendapatkan kekerasan dari siapapun terutama oknum polisi.

“Dalam teknis peliputan di lapangan saat aksi demonstrasi, wartawan idealnya berada di belakang aparat, agar terhindar dari kekerasan,” ungkapnya.

Atau paling tidak, menurut Atal, posisi wartawan harus berada di samping atau dipinggir dari aparat dan pendemo yang berhadapan.

“Jadi cerdaslah mengambil posisi. Jangan memaksakan diri menerobos ke depan, karena itu berpotensi mendapat kekerasan,” ujarnya.

Terkait rencana Polri yang akan menyediakan rompi khusus bagi wartawan yang meliput di lapangan, Atal pun mengaku sangat mendukungnya.

“Karena dengan begitu, aparat mengetahui bahwa seseorang itu adalah wartawan, dan bukan ancaman bagi mereka. Sehingga wartawan terhindar dari kekerasan,” katanya.

Recent Posts

Menaker: Kunci Wirausaha Bukan Sekadar Dapat Pelanggan, tapi Menjaga Hubungan

MONITOR, Bandung Barat – Menteri Ketenagakerjaan (Menaker), Yassierli, mengatakan salah satu kunci keberhasilan dalam berwirausaha…

12 jam yang lalu

Kemenperin Sampaikan Duka Cita Mendalam Atas Insiden Kebakaran Pabrik di KEK Sei Mangkei

MONITOR, Jakarta - Kementerian Perindustrian menyampaikan rasa duka cita yang mendalam atas musibah kebakaran yang…

12 jam yang lalu

Majelis ASTACITA Gelar ‘Maulid Nabi dan Dzikir Kemerdekaan’ di Karawang, Gaungkan Jaga Rawat Jabar

MONITOR, Karawang — Dalam rangka memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW sekaligus merawat semangat kemerdekaan…

13 jam yang lalu

Capai 75 Ribu Pendaftar PPIH 2027 Non Nakes, Kemenhaj Gelar CAT Dua Gelombang

MONITOR, Jakarta - Lebih dari 75 ribu orang mendaftar Seleksi Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH)…

14 jam yang lalu

Partai Gelora Soroti Perubahan Data Desil DTSEN

MONITOR, Jakarta — Penerapan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) sebagai basis tunggal penyaluran bantuan…

14 jam yang lalu

Verifikasi Seleksi PPIH 2027 Tetap Berjalan, CAT Dilaksanakan Dua Gelombang

MONITOR, Jakarta - Kementerian Haji dan Umrah memastikan proses Seleksi Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH)…

16 jam yang lalu