PDIP Sebut Pilkada 2020 Momentum Lahirkan Pemimpin yang Solutif

“Jangan sampai di tengah krisis kemudian tidak ada suatu kepemimpinan yang memiliki legitimasi”

Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto, di acara Sekolah Partai Cakada PDIP Gelombang III, Jakarta, Minggu (13/9/2020). (Istimewa)

MONITOR, Jakarta – DPP PDI Perjuangan (PDIP) memandang bahwa pelaksanaan Pilkada Serentak 2020 adalah momentum melahirkan pemimpin-pemimpin negarawan yang menghasilkan solusi substansial di tengah pandemi Covid-19.

Demi memastikan pilkada sukses di tengah pandemi Covid-19, Sekjen DPP PDIP Hasto Kristiyanto, mengungkapkan bahwa pihaknya sendiri sudah menunjukkan komitmen melalui kebijakan-kebijakannya untuk patuh serta disiplin terhadap protokol kesehatan (prokes) Covid-19.

Hal itu disampaikan Hasto Kristiyanto dalam diskusi virtual yang digelar Pemuda Muhammadiyah dengan tema ‘Corona dan Benang Kusut Pilkada 2020’ pada Sabtu (10/10/2020) malam.

Hadir dalam acara itu, Ketum Pemuda Muhammadiyah Sunanto, Sekjen PAN Eddy Soeparno, Plh Ketua KPU RI Ilham Saputra, Komisioner Bawaslu RI Afifuddin dan Direktur Politik Baintelkam Polri Brigjen Anthony MT Siahaan.

Hasto menjelaskan, Indonesia diapit dua benua dan dua samudera serta memiliki sejarah bangsa yang sangat panjang. Selain itu, pandemi Covid-19 telah membawa arah bangsa ke dalam kondisi yang sulit, baik dari sosial, ekonomi dan kesehatan.

Karena itu, menurut Hasto, pilkada harus ditempatkan sebagai sebuah konsolidasi untuk mengamankan seluruh Indonesia, dari Sabang sampai Merauke.

“Jangan sampai di tengah krisis kemudian tidak ada suatu kepemimpinan yang memiliki legitimasi, legalitas yang sangat kuat untuk mengambil suatu tindakan, tindakan yang diperlukan untuk menyelamatkan rakyat. Kita semua memahami enggak ada pemimpin yang mau mengorbankan rakyatnya,” ungkapnya dalam keterangan tertulis.

Hasto menilai, sosok Presiden dan Wakil Presiden RI Joko Widodo-Ma’ruf Amin berasal dari rakyat, sehingga legitimasinya sangat kuat dalam mengambil kebijakan. Karena itu pula, kebijakan pemerintah saat ini dasarnya untuk melindungi dan memberikan kepastian. 

“Marilah justru di tengah pandemi Covid ini, kita berikan kepercayaan kepada Presiden-Wakil Presiden, seluruh jajaran menteri, kepala daerah di tingkat provinsi, kabupaten, kota untuk menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya tanpa diganggu oleh berbagai hal yang bisa memecah belah persatuan kita,” ujarnya.

Mengenai disiplin prokes Covid-19, Hasto menyatakan, PDIP secara organisasi telah menunjukkan sikap yang jelas. Pada 4 Februari 2020 yang lalu, partai besutan Megawati Soekarnoputri itu telah menyosialisasikan pencegahan Covid-19. Pada Maret 2020, PDIP mengeluarkan instruksi kepada kadernya untuk meningkatkan imunitas tubuh dengan rempah-rempah yang dimiliki Indonesia.

Lalu, lanjut Hasto, PDIP juga menginstruksikan kepala daerah dari partainya untuk mengambil kebijakan realokasi anggaran dengan membuat program-program yang melindungi rakyat. Selain itu, Hasto mengatakan, PDIP juga mencanangkan gerakan Menanam Tanaman yang Bisa Dimakan. 

Hasto juga menekankan, seluruh kegiatan partai, mulai dari rapat, Sekolah Partai, hingga konsolidasi partai, menggunakan telekonferensi.

“Kami canangkan bagaimana pandemi Covid-19 ini justru akrab dengan teknologi untuk menjadikan handphone sebagai alat perjuangan. Ini dulu cangkul sebagai alat perjuangan kaum Marhaen, sekarang handphone ini kita bisa belajar, kita bisa menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menggunakan teknologi IT,” katanya. 

Bukan hanya itu, Hasto menyebutkan, untuk mendorong para paslon di Pilkada Serentak 2020 agar taat prokes Covid-19, PDIP membentuk Tim Penegak Disiplin Protokol Kesehatan pada September 2020 lalu. “Di mana kader partai yang melanggar ketentuan Covid itu kami berikan sanksi,” ungkapnya. 

Hasto juga menekankan pihaknya akan mengedepankan kampanye daring selama Pilkada Serentak 2020 dan menemui rakyat dari pintu ke pintu. Di samping itu, Hasto juga mengharapkan pemilu menjadi bagian dari konsolidasi demokrasi untuk melahirkan pemimpin yang visioner, kokoh pada ideologi Pancasila, memiliki kemampuan teknokratik dan bertanggungjawab terhadap masa depan.

“Termasuk kemampuan untuk memberikan harapan kepada rakyat yang tengah dihadapkan dengan berbagai masalah akibat pandemi,” ujarnya.

Selain itu, lanjut Hasto, konsolidasi demokrasi Indonesia harus mendorong sistem pemilu yang semurah-murahnya serta membangun sistem pemilu yang didasarkan pemilu asimetris. Sebab, Hasto melihat, saat ini demokrasi Indonesia diancam dengan praktek hoaks dan fitnah.

“Kemudian resolusi konflik juga diperlukan mengingat kita bangsa yang mengedepankan suatu musyawarah. Maka itu, kami berharap bersama dengan Pemuda Muhammadiyah ini bersama-sama dapat meningkatkan kualitas demokrasi kita,” katanya.

Di samping itu, Hasto menambahkan, sebagai bangsa yang kenyang digembleng sejarah, PDIP meyakini persatuan bisa dikedepankan selama musyawarah menjadi metode penyelesaian persoalan. Hasto mengingatkan bahwa hal itu merupakan syarat untuk menjadi negara yang besar seperti yang pernah dilakukan Bung Karno dengan menggagas Konferensi Asia-Afrika pada 1955.

“Kesatupaduan diperlukan bersama untuk membangun harapan bahwa kita masih punya satu tugas yang maha penting untuk menjadikan Indonesia menjadi pemimpin di antara bangsa-bangsa lain sebagaimana dulu terjadi dalam Konferensi Asia-Afrika pada 55. Mari kita terus bergerak, kita kedepankan semangat persaudaraan,” ungkapnya.