Kolaborasi Kementan-JICA Tingkatkan Kesejahteraan Petani Jawa Barat

Wortel

MONITOR, Jakarta – Program pembinaan dan pelatihan Kementerian Pertanian (Kementan) bersama Japan International Cooperation Agency (JICA) berkontribusi terhadap peningkatan kesejahteran petani di sejumlah daerah yang menjadi sasaran kegiatan. Pangkalnya, pelaksanaan proyek dari hulu ke hilir memiliki dampak berganda.

“Membantu petani mempersiapkan kalender penanaman dan juga pengiriman berdasarkan permintaan dari pasar yang sudah ada atau dipilih,” kata Ketua Tim Proyek JICA, Tsutomu Nishimura, tentang salah satu manfaat program pembinaan saat presentasi dalam “Joint Coordination Committee Meeting” secara daring, Senin (21/9).

Keuntungan lainnya, produktivitas meningkat meskipun kegiatan terakhir dilaksanakan saat musim hujan, seperti budi daya tomat, brokoli, buncis, dan jambu kristal.

“Ada petani yang mendapatkan produksi paling tinggi sekitar 500 kilogram (kg) lebih, hampir tiga kali lipat dari yang rata-rata di Indonesia,” ungkapnya.

Kemudian, harga jual yang diterima membaik lantaran kualitas produksi membaik dan hasil usaha tani langsung disuplai ke ritel. Ini seperti yang dinikmati petani Sukabumi.

Tak sekadar itu. PT Calbee Wings Food, salah satu produsen kudapan yang ikut berkolaborasi, siap melanjutkan kemitraan dengan petani dari Hikmah Farm, Kabupaten Bandung, untuk penangkaran benih kentang. Kedua pihak ini sedang membahas rencana kerja sama.

“Kesepakatan kontrak tani yang akan dimulai bulan November 2020 nanti dan diperkirakan luasan lahan yang akan digunakan sekitar 10 sampai 20 hektare (ha),” ujar Nishimura.

Program pembinaan dan pelatihan Kementan-JICA ini telah berlangsung sejak April 2016. Fokus kegiatan berupa pengembangan sembilan komoditas hortikultura, yakni cabai, sayuran jepang, tomat, paprika, wortel kuroda, buncis, brokoli, kembang kol, dan jambu kristal.

Dari sembilan komoditas, ungkap dia, petani cenderung membudidayakan tomat lokal dan brokoli saat proyek percobaan musim hujan terakhir. “(Permintaan) dari pihak pasar itu sebenarnya masih besar,” jelasnya.

Hal serupa disampaikan Kepala Bidang Hortikultura Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Bandung, Jumhana. Dirinya mengungkapkan, petani peserta proyek Kementan-JICA juga bertambah luas wawasan dan keterampilannya.

“Teknologi budi daya yang diperkenalkan pihak JICA Jepang hasilnya sangat signifikan dibandingkan dengan cara budi daya konvensional yang dilakukan oleh para petani,” tuturnya.

Karena itu, Distan Kabupaten Bandung mengajak petani peserta program untuk mentransfer ilmu yang didapatkannya kepada rekan-rekan lainnya, khususnya yang tidak berpartisipasi pada proyek JICA, agar usaha taninya meningkat.

Jumhana melanjutkan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung memberikan dukungan penuh terhadap petani. Karenanya, Pemkab mengalokasikan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) demi kelancaran proyek Kementan-JICA.

“Dengan adanya dana pendampingan ini, kami bisa lebih intensif untuk melakukan bimbingan dan pembinaan. Kemudian, kegiatan-kegiatan yang dari dana APBD maupun DID (dana intensif daerah) ini antara lain (untuk) fasilitasi pertemuan-pertemuan antara kelompok tani, kemudian penyuluh pendamping, dan juga petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (POPT),” urainya.

Pemkab Bandung juga membantu sarana prasarana (sapras) bagi kelompok-kelompok tani (poktan) yang telah mengikuti proyek Kementan-JICA, misalnya masing-masing diberi benih wortel kuroda 1 kg untuk dikembangkan dengan teknologi budi daya yang sesuai dengan arahan yang diterima.

Pun akan menyalurkan bantuan lain, seperti 100 kontainer wortel dan 1 kotak pendingin (freezer) untuk Hattaki; pengering tenaga surya (solar dryer dome) kepada Hikmah Farm; serta 50 kontainer, 3 meja baja nirkarat (stainless steel); 1 kotak pendingin; 4 timbangan digital dan 1 timbangan duduk; 2 kereta dorong; 2 kipas angin untuk Ponpes Al Ittifaq.

Jumhana berharap, program kemitraan Kementan-JICA terus berlanjut mengingat potensi sayuran di Kabupaten Bandung tergolong besar. Sentra produksi terdapat di lebih dari total kecamatan yang ada.

Di sisi lain, Nishimura menerangkan, proyek selanjutnya akan dilakukan bulan depan, saat musim hujan. Uji coba bakal berbeda, seperti pemilihan komoditas lebih selektif, area kerja lebih luas menjadi sekitar 500-1.000 meter persegi, dan jumlah petani yang akan terlibat menjadi 3-5 orang per kabupaten.

“Kemudian juga melakukan analisis yang mendetail mengenai aliran dana atau keuntungan dan kerugian,” tutupnya. Dengan demikian, petani mengetahui persis untung dan rugi dari teknik budi daya yang diterapkan.

Sementara itu, Sekretaris Direktorat Jenderal (Ditjen) Hortikultura Kementan, Retno Sri Hartati Mulyandari, menyampaikan apresiasi kepada JICA yang menginisiasi proyek tersebut. Hal ini sejalan dengan arahan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo untuk terus menerapkan benih unggul dan teknologi tepat guna dalam sistem budidaya pertanian dalam upaya peningkatan produktivitas pertanian yang dapat di akses pasar baik pasar tradisional maupun modern.

Retno juga menyampaikan terima kasih kepada para petani sasaran proyek JICA dan pemerintah daerah (pemda) yang berpartisipasi dalam pelaksanaan proyek ini.

“Mudah-mudahan apa yang kita lakukan bermanfaat dan bisa meningkatkan kesejahteraan kita semua,” tandasnya.