Kemenparekraf Apresiasi Masyarakat Jateng dan Yogyakarta Terapkan Protokol CHSE

MONITOR, Jakarta – Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf)/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mengapresiasi tingginya kesadaran masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah dalam menerapkan protokol kesehatan berbasis CHSE (Cleanliness, Healthy, Safety and Environmental Sustainability) dalam kehidupan sehari-hari, terutama di destinasi wisata dalam memasuki adaptasi kebiasaan baru.

Staf Ahli bidang Pembangunan Berkelanjutan dan Konservasi Kemenparekraf/Baparekraf, Frans Teguh, dalam Webinar Tata Kelola Pariwisata Joglosemar Menuju Era Adaptasi Kebiasaan Baru, Sabtu (5/9/2020), mengungkapkan warga Yogyakarta dan Jawa Tengah memiliki kesadaran sosial yang tinggi dalam menerapkan protokol kesehatan seperti menjaga jarak, mencuci tangan, dan mengenakan masker sebagai langkah mencegah terjadinya pandemi COVID-19. 

“Saya mengapresiasi dan memastikan bahwa masyarakat di Yogyakarta dan Jawa Tengah sudah merespons dengan kearifan lokal dan kesadaran bersama dalam menerapkan protokol kesehatan,” kata Frans.

Frans mengatakan, apa yang dilakukan masyarakat Yogyakarta dan Jawa Tengah dalam memasuki era adaptasi kebiasaan baru merupakan cerminan bahwa kolaborasi dari berbagai pihak seperti warga masyarakat, pekerja di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif,  pengelola destinasi wisata, serta pemerintah setempat merupakan hal yang utama dalam membangkitkan kembali sektor pariwisata. 

“Dengan adanya kolaborasi dan tata kelola pariwisata yang baik, kita yakin mampu mengembalikan kepercayaan wisatawan dan meningkatkan potensi wisata suatu destinasi serta menciptakan pengalaman yang membekas di hati wisatawan. Sehingga, mereka akan tinggal lebih lama di destinasi wisata dan akan selalu berkunjung kembali ke sana,” ungkap Frans.

Kepala Dinas Pariwisata Provinsi DIY, Singgih Raharjo, menjelaskan pihaknya tidak melakukan penutupan destinasi wisata. Namun, penutupan destinasi-destinasi tersebut dilakukan oleh para pengelola destinasi wisata sendiri secara sadar.

“Masyarakat Yogyakarta punya semacam modal sosial, sehingga mereka membatasi kunjungan ke destinasi wisata saat awal terjadinya pandemi COVID-19 dan para pengelola destinasi pun menutup lokasi yang ia kelola tanpa ada perintah dari pemerintah provinsi. Selain itu, berbagai kampung di Yogyakarta juga membatasi akses masuk wilayahnya secara mandiri,” ujar Singgih.

Hal ini didukung dengan kebijakan Pemerintah Provinsi DIY yang membatasi jumlah kunjungan wisatawan. Salah satunya dengan menolak rombongan wisata yang bepergian menggunakan bus pariwisata.

Singgih juga menyebutkan pihaknya sudah menyusun berbagai aturan terkait protokol kesehatan yang harus diterapkan setiap pelaku pariwisata dan wisatawan yang datang berkunjung ke Yogyakarta. Aturan ini dikenal dengan sebutan “Pranatan Anyar Plesiran Jogja”.

“Kami menyusun protokol ini bersama-sama dengan unsur pemerintah kabupaten/kota dan asosiasi pelaku wisata. Aturan-aturan ini juga sudah kami bukukan dan digunakan oleh seluruh asosiasi dan pengelola destinasi wisata,” ujarnya.

Singgih juga menyebutkan tidak semua destinasi wisata di Yogyakarta dibuka untuk wisatawan. Hanya destinasi yang sudah lulus uji coba penerapan protokol kesehatan dengan izin dari Tim Gugus Tugas Penanganan COVID-19 Yogyakarta dan pemerintah setempat serta telah menerima plakat “Jogja Clean & Safe”.

Dalam kesempatan tersebut Singgih juga menyebutkan Pemerintah Yogyakarta berupaya membentuk ekosistem digital di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif¬† dengan meluncurkan aplikasi “visiting jogja”.

“Jadi melalui aplikasi ini wisatawan bisa melakukan reservasi dan pembayaran hotel serta mengakses berbagai data dan informasi mengenai destinasi wisata di Yogyakarta,” jelasnya.

Selain itu, Singgih menuturkan pihaknya telah memberdayakan wisatawan lokal melalui program #DiJogjaAja. Menurutnya, pemberdayaan ini dikarenakan banyak warga dari berbagai daerah di Yogyakarta yang mengunjungi destinasi wisata di daerah lain tanpa keluar dari wilayah Yogyakarta.

Direktur Utama Badan Otorita Borobudur (BOB), Indah Juanita mengatakan di masa pandemi COVID-19, mayoritas wisatawan lokal lebih memilih mengunjungi destinasi pariwisata yang dapat dijangkau dengan transportasi darat di sekitar Yogyakarta dan Jawa Tengah.

“Saat ini orang belum banyak menggunakan transportasi udara karena belum berani terbang, jadi mereka banyak yang memilih untuk ke destinasi wisata lewat jalur darat,” tutur Indah.

Terkait hal itu, Indah mengatakan pihaknya beserta sejumlah asosiasi pelaku wisata tengah berupaya menyusun travel pattern yang dapat memberikan pengalaman baru bagi wisatawan yang datang berkunjung ke wilayah koordinatif BOB.

“Jadi melalui travel pattern yang baru ini diharapkan bisa meningkatkan durasi kunjungan wisatawan menjadi lebih lama dan memberikan pengalaman baru,” tuturnya.

Selain itu, pihaknya bekerja sama dengan penggiat pariwisata setempat terus menerapkan dan menegakkan protokol kesehatan berbasis CHSE di berbagai destinasi wisata yang ada di bawah koordinasi BOP Borobudur melalui sosialisasi dan pelatihan-pelatihan.

“Lewat pelatihan ini kami berharap penerapan protokol kesehatan yang sudah ada ini menjadi suatu kebiasaan,” ucap Indah.

Dalam kesempatan serupa, Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Indonesia (Asita) Jawa Tengah, Joko Suratno, menyebutkan meski di awal 2020 tidak ada pergerakan wisatawan ke destinasi wisata, namun pada periode Juni hingga Agustus 2020 sudah mulai banyak kunjungan wisata di berbagai destinasi di Jawa Tengah.

“Keinginan masyarakat untuk menikmati suasana di luar rumah itu semakin besar, saat long weekend kemarin saja di Dieng dan Tawangmangu sudah mulai ada kemacetan,” kata Joko.

Sementara itu, Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah, Sinoeng Noegroho Rachmadi, juga berupaya menerapkan protokol kesehatan berbasis CHSE di berbagai destinasi wisata yang ada di daerahnya. Selain itu, Sinoeng juga menyebutkan pihaknya tengah berupaya menghidupkan kembali geliat pariwisata Jawa Tengah melalui pengembangan wisata virtual.

“Destinasi seperti Candi Borobudur, Lawang Sewu, dan Museum Sangiran sudah mulai menerapkan wisata virtual. Selain itu ada beberapa acara yang dilakukan secara daring dan luring seperti Rally Wisata, Tour de Borobudur, dan Borobudur Marathon,” kata Sinoeng.

Sinoeng juga mengungkapkan ada beberapa acara kesenian di Jawa Tengah yang dapat disaksikan secara langsung lewat media sosial. Di antaranya Festival Kota Lama, Festival Payung, dan Moro Borobudur.

“Tentu saja pertunjukan ini kita gelar secara virtual untuk mencegah terjadinya kerumunan wisatawan. Selain itu, hal ini merupakan upaya kami untuk menghidupkan produktivitas para pelakunya,” kata Sinoeng.

Penutupan destinasi di masa pandemi COVID-19 juga dimanfaatkan oleh sejumlah pengelola destinasi wisata untuk membenahi lokasi yang ia kelola untuk memenuhi standar protokol kesehatan yang menjadi tren di kalangan wisatawan di masa adaptasi kebiasaan baru. Hal tersebut dilakukan oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Nglanggeran yang terletak di Kabupaten Gunung Kidul, DIY.

Perwakilan Pokdarwis Desa Nglanggeran, Sugeng Handoko, menuturkan selama masa penutupan destinasi, warga desa yang dikenal karena memiliki destinasi wisata alam seperti Gunung Api Purba dan Air Terjun Musiman Kedung Kandang ini bergotong royong membersihkan desa dan memperbaiki berbagai fasilitas penunjang wisata yang ada agar memenuhi protokol kesehatan.

“Kami juga lebih intensif melakukan pekerjaan sehari-hari seperti bertani, berkebun, dan beternak, serta memberikan pelatihan bagi tim internal kami. Kami juga membuat dua tur virtual pada Mei 2020 dan tetap menjalin komunikasi dengan wisatawan di media sosial,” jelas Sugeng.

Tak hanya itu, Sugeng juga menjelaskan ada potensi baru yang muncul di desanya pada masa pandemi ini.

“Kami baru saja mengembangkan potensi wisata wellness dengan membangun jogging track dan mempromosikan minuman empon-empon,” tutur Sugeng.