Menumbuhkan Semangat Ta’awun Organisasi Penggerak Pendidikan

Alumni Taplai Pemuda Lemhannas IX, Apridhon Rusadi

Oleh: Apridhon Rusadi*

Program Organisasi penggerak, semestinya bisa menjadi upaya menanamkan rasa tanggung jawab bersama-sama untuk meningkatkan sumber daya manusia pendidikan. Makna penggerak disini bisa diartikan bahwa pendidikan perlu dibangun, dibangkitkan bersama-sama dalam rangka untuk mencapai tujuan pendidikan Nasional, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia seutuhnya sebagaimana tertuang dalam UU No. 2 tahun 1985.

Memang perlu menggerakkan semangat kebersamaan dan semangat tolong menolong dalam dunia pendidikan atau biasa disebut semangat taa’wun pendidikan. Dengan tolong menolong ini, maka tangung jawab menciptakan Bangsa Indonesia yang cerdas seutuhnya lahir bathin menjadi kewajiban bersama.

Apakah ta’wun pendidikan itu? yaitu sebuah akhlak Muslim untuk saling memberi dan memperkuat sesuai kemampuannya khususnya dalam bidang pendidikan. Hal ini tertuang dalam Al qur’an yang berbunyi “…dan tolong menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan takwa, dan janganlah tolong menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan… (Q.s Al Maidah [5] :2)

Ibnu Huwaz, sebagaimana dikutip al-Qurthubi didalam tafsirnya menjelaskan, ta’awun ala al-bir wa al-taqwa adalah akhlak Islam. Akhlak seorang muslim yang saling memberi dan memperkuat sesuai kemampuannya, sehingga bisa dimaknai, semangat ta’awun dari organisasi yang bergerak dalam bidang pendidikan, bisa menjadi penggerak saling tolong menolong dalam ikut serta memajukan dan memperbaiki kualitas pendidikan.

Organisasi-organisasi yang tergabung dan termasuk kategori pengerak pendidikan, harus saling tolong-menonolog untuk saling mempekuat, baik itu dana maupun ide dan gagasan. Pemerintah sendiri telah memfasilitasi agar seluruh oraganisasi penggerak bisa melakukan taa’wun pendidikan dengan meluncurkan Program organisasi penggerak Pendidikan (POP).

Terkait skema kerjasama yang ditawarkan, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud, Iwan Syahril menjelaskan, pembiayaan POP dapat dilakukan secara mandiri atau berbarengan dengan anggaran yang diberikan pemerintah, sebagaimana dirilis inilah.com (23/7/2020). Dengan beberapa skema ini, maksimalisasi semangat ta’awun organisasi mitra bisa diperkuat dan ditinggkatkan, termasuk peran serta lembaga-lembaga yang telah lama aktif dalam mendorong perbaikan kualitas pendidikan.

Diantaranya organisasi yang telah lama aktif dalam dunia pendikan adalah Muhammadiyah, NU, PGRI, Mathla’ul Anwar dan masih banyak lagi. Mereka sangat diharapkan peran sertanya untuk ikut tergabung dalam organisasi penggerak pendidikan. Dengan pengalaman dan pelibatan mereka dalam program ini, akan memberikan stimulus pencerahan dan gagasan baru dalam dunia pendidikan.

Proses dan persyaratan organisasi yang ingin ikut serta dan bergabung dengan memilih skema pembiayaan mandiri ataupun skema matching fund, juga dilakukan dengan skema yang sama dengan peserta lain yang akan menerima anggaran negara. Dengan bergandengannya antara lembaga pendidikan dan kemendikbud, akan termasimalkannya kontribusi finansial, ide serta gagasan dalam bidang pendidikan agar bisa menyentuh seluruh lapisan masyarakat.

Bergabungnya lembaga seperti Tanoto Foundation dan yayasan Poetra Sampoerna baru-baru ini sebagai bagian dari organisasi penggerak pendidikan, sungguh sangat mengembirakan dan melengkapi daftar organisasi profesional dan berpengalaman yang telah bergabung. Mereka medaftar menggunakan skema mandiri dan Matcing Fund, sehingga kedua lembaga tersebut memposisikan diri sebagai mitra pemerintah dalam mendorong peningkatan kualitas pendidikan yang saling melengkapi.

Baru-baru ini terdengar Muhammadiyah, NU dan PGRI menyatakan mengundurkan diri dari Program Organisasi Penggerak. Padahal kontribusi lembaga-lembaga tersebut sangat dibutuhkan dalam mendukung program organisasi penggerak. Karena tak bisa dipungkiri, kontribusi mereka yang begitu besarnya dalam dunia pendidikam.

Kita berharap terjalin kembali komunikasi yang harmonis, antara kemendikbud dan organisasi-organisasi tersebut agar bisa duduk bersama kembali dalam rangka untuk merumuskan arah tujuan pendidikan di Indonesia. Sehingga semangat ta’wan pendidikan di Indonesia bisa dilakukan dengan semangat kebersamaan dan cita-cita yang sama dengan melangkahkan kaki bersama-sama.

*Penulis merupakan Peneliti Sindikasi Indonesi Maju