Pembelajaran Gotong Royong Era Pandemi

Oleh: Haris Zaky Mubarak, MA*

Kehadiran pandemi Covid-19 telah mendorong banyak masyarakat di Indonesia untuk saling tolong menolong, bahu membahu dan bergotong royong dalam memutus mata rantai penyebaran virus Covid-19. Munculnya kebijakan social distancing (Pembatasan Sosial) dengan segala macam istilah kebijakan popular seperti Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), Pembatasan Sosial Berskala Lokal (PSBL) hingga program karantina mandiri menjadi upaya praktis yang diberikan oleh pemerintah daerah dan pemerintah pusat supaya wabah pandemi virus Covid-19 dapat segera berakhir.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah atau Pemprov Jateng sebagai provinsi penduduk terpadat di Indonesia secara faktual memiliki langkah antisipatif sendiri dalam upaya memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Ganjar Pranowo selaku Gubernur Jateng sejak awal pandemi merebak sudah menyatakan sikap melalui Maklumat Gubernur Jateng yang isinya secata tegas menyerukan gerakan gotong royong  melawan Covid-19. 

Menghadapi situasi masa sulit ini, kita dapat belajar dari apa yang dilakukan oleh Pemprov Jateng berupaya menggerakkan kekuatan yang lama menjadi budaya kehidupan bermasyarakat kita yakni dengan gerakan gotong royong yang diikat oleh rasa paseduluran (persaudaraan) dan rasa memiliki yang tinggi.

Kebiasaan saling memberi, berbagi makanan antar tetangga menjadi modal kekuatan sosial daerah yang menjadi senjata masyarakat dan pemerintah Jateng untuk dapat survive dari situasi sulit ditengah pandemi Covid-19. Kekuatan gotong royong ini tak hanya ada di desa tetapi juga hadir di kampung-kampung dan di gang-gang perkotaan yang ada di Jateng.

Semua upaya tersebut dimaksimalkan melalui kekompakan warga yang dipimpin langsung oleh kepala desa atau lurah, dengan dibantu perangkat desa, dan didukung ketua Rukun Warga (RW) dan Rukun Tetangga (RT).

Peran Jogo Tonggo

Gerakan gotong royong yang diinisiasi oleh pemprov Jateng dalam menghadapi masa sulit wabah pandemi Virus Covid-19 merupakan wujud dari pranata dan modal sosial  yang secara nyata mampu mengakomodasi semua kepentingan masyarakat Jateng ditengah wabah pandemi Covid-19.

Kebijakan Pemprov Jateng  dalam membangun gerakan gotong royong menghadapi situasi Covid -19 itu pun ditunjang dengan keluarnya instruksi untuk melaksanakan gerakan Jogo Tonggo(Jaga tetangga) yang melibatkan keberadaan perangkat aparatur pemerintahan terkecil berbasis RT dan RW. 

Gerakan Jogo tonggo(jaga tetangga) yang dilaksanakan di Jateng ini melibatkan satgas Covid-19 yang berada pada tiap RW dengan terdiri tiga tim satgas sekaligus yakni kesehatan, ekonomi, dan sosial keamanan. Ketiga Satgas ini memberi efektivitas yang tinggi bagi optimalisasi program pencegahan Covid-19.

Tim Satgas ini dibuat untuk menjaga dan melakukan pemantauan kepada warga dan juga tetangga dilingkungan masing- masing. Tim kesehatan ini memiliki tugas dalam menjaga warga penduduk supaya tak keluyuran keluar rumah secara sembarangan dan memastikan kepada setiap warga supaya sadar untuk selalu memakai masker dan tetap menjaga jarak jika beraktivitas diluar rumah. 

Adapun tim ekonomi Satgas fokus memperhatikan kelangsungan kondisi ekonomi tiap warga dan para tetangga dilingkungan masing-masing. Dalam konteks ini ada dorongan pemprov jateng kepada tiap warga supaya mau berbelanja kebutuhan pokok dilingkungan tetangganya masing-masing.Upaya praktis ini dimaksudkan untuk menjaga keberlangsungan hidup ekonomi warga dilingkungan tempat tinggal.

Sementara itu tim sosial keamanan Satgas berfungsi untuk memberikan edukasi kepada warga supaya mau bersikap terbuka jika pada satu daerah ditemukan pasien atau jenazah yang menjadi korban Covid-19. Kesadaran untuk tidak menghalangi kerja dari tim kesehatan Covid-19 yang ingin merawat pasien atau pun memakamkan jenazah Covid-19 menjadi  hal strategis demi pencegahan virus Covid-19 secara gotong royong ini.

Inisiatif taktis untuk melakukan gerakan gotong royong melawan Covid-19 ini faktanya memberi hasil yang signifikan bagi Jateng diimana terjadi penurunan angka kasus Covid-19 di Jateng. Efektivitas program Jogo Tonggosebagai solusi pencegahan pandemi Covid-19 patut diapresiasi tinggi. Masyarakat pada akhirnya menjadi saling perhatian satu sama lain dengan situasi yang terjadi di masing – masing lingkungannya. 

Kerja Kolektif

Kebersamaan dalam gotong royong ini menjadi modal sosial terpenting bagi kerja kolektif pemerintah provinsi dan juga masyarakat Jateng untuk dapat saling bahu membahu membantu menghadapi situasi masa sulit ditengah virus Covid-19. Kerja kolektif ini tidak saja membantu provinsi Jateng dapat mencegah penyebaran virus Covid-19 secara masif tapi juga menjadikan masing-masing elemen masyarakat dapat secara sadar peduli kepada warga yang terdampak pandemi Covid-19.

Sikap gotong royong dengan implementasi Jogo Tonggosecara tak langsung telah membuat masyarakat Jateng secara sukarela menjadi partisipan aktif dalam memberikan bantuan baik berupa barang maupun uang demi keselarasan dengan lingkungan sosialnya. Sikap dan perilaku yang suka membantu dan menolong sesama ini merupakan modal sosial (Social capital) yang membuat rangkaian nilai-nilai silaturahmi antar warga Jateng menjadi sangat kuat.

Hal utama yang menjadi kekuatan di Jateng adalah kehidupan masyarakat berbasis desa. Dengan spirit gotong royong untuk melakukan pencegahan Covid-19, setiap warga pada akhirnyua merasa terpanggil untuk bersama-sama hidup dengan rasa tanggung jawab yang tinggi melindungi sesama warganya.

Banyaknya penggangguran dan langkanya bahan makanan setelah pandemi Covid-19 membuat solidaritas sosial antar warga menjadi sangat kuat dan ini berdampak positif bagi energi menata pembangunan kehidupan sosial Jateng selanjutnya.

 Mengikuti pemikiran modal sosial yang dikembangkan oleh Francis Fukuyama (1997) dalam tulisannya Social Capital and the modern capitalist economy creating a high trust workplace, maka kekuatan modal sosial yang melibatkan banyak kerja sama informal sejatinya merupakan perwujudan nyata dari rangkaian nilai yang saling tukar kebaikan antar individu.

Perilaku ini dapat disebut sebagai sebuah tindakan altruisme yakni semangat untuk membantu dan mementingkan kepentingan orang lain. Setiap warga akan saling membantu tanpa mengharapkan imbalan orang lain, tanpa pamrih dan tanpa ada motif kepentingan tertentu.

Jika kita merelevansikan pentingnya modal sosial dengan gerakan gotong royong yang dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat Jateng menghadapi wabah pandemi Covid-19 maka kita dapat melihat kontribusi besar dari kerja kolektif masyarakat untuk sukarela membantu pencegahan penyebaran virus Covid-19. Kedepan, kerja kolektif semacam ini dapat menjadi kekuatan utama bagi eksistensi masyarakat yang berkualitas, mandiri dan sejahtera.

*Penulis adalah Direktur Jaringan Studi Indonesia dan Penulis Buku Negara RI, Sunda Kecil Masa Kolonial (Kemendikbud, 2019).