Lakukan Pengamatan Mandiri Organisme Pengganggu Tumbuhan, Mempawah Kalbar Mampu Tingkatkan Produksi

MONITOR, Kalbar – Kesibukan para petani di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat mulai terlihat di musim panen ini. Sebagian besar desa di kabupaten ini sudah mulai melakukan panen. Sementara desa-desa lainnya tinggal menghitung hari menjelang panen.

Seperti yang terlihat di Kelompok Tani Persatuan Tani Makmur, Desa Peniti Luar, Kecamatan Jongkat Kabupaten Mempawah Kalimantan Barat, mereka terlihat bersemangat melakukan panen padi secara belale’. Belale’ adalah sistem kerja gotong royong.

Saling membantu satu sama lain yang merupakan spirit hidup masyarakat untuk menuai hasil yang baik serta mempererat persaudaraan dan solidaritas antar warga.

Di desa ini tradisi belale’ sudah berlangsung sejak dulu. Sistem kerja gotong royong ini memiliki hak untuk dibantu dan berkewajiban untuk membantu. Mereka benar-benar menikmati hidup di sawah sebagai petani dengan saling merawat kebersamaan.

Dari hasil perhitungan yang dilakukan di beberapa lokasi sampel, rata-rata produksi riil panen di desa ini mencapai 3 ton per ha. Hasil ini terbilang cukup bagus mengingat serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) di desa ini cukup beragam.

Namun, dengan adanya kesadaran petani untuk rutin melakukan pengamatan mandiri dengan dipandu oleh Petugas Pengamat OPT setempat maka intensitas serangan OPT dapat ditekan.

“Hingga saat ini, petani masih terus melakukan pengamatan secara rutin yang dilakukan seminggu sekali. Pengamatan rutin ini menjadikan OPT tidak berkembang, sehingga panen bisa sukses,” ujar Jamaludin, salah seorang petani alumni Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT).

Hal ini dibenarkan oleh POPT Kecamatan Jongkat, Diky Dwi C yang mengatakan bahwa kesadaran petani Desa Peniti Luar Kecamatan Jongkat untuk menjaga tanamannya sangat tinggi.

“Mereka sangat rajin dalam memantau perkembangan tanamannya. Mungkin karena musim lalu dilaksanakan SLPHT di desa ini sehingga membuat petani semakin termotivasi untuk melakukan deteksi dini di masing-masing petak sawahnya,”ujarnya.

Selain itu Diky Dwi C juga menjelaskan bahwa 14 kelompok tani di Desa ini sangat aktif menyampaikan perkembangan kondisi tanamannya kepada petugas penyuluh lapangan maupun POPT sehingga perkembangan OPT di desa ini dapat termonitor secara rutin. Beberapa OPT utama yang menyerang tanaman di desa ini pada musim ini adalah HPP, Penggerek Batang, Blas dan WBC.

Namun, berkat pengamatan mandiri yang rutin dilakukan maka serangan OPT dapat segera terdeteksi sehingga kegiatan pengendalian dapat dilakukan sesegera mungkin.

Terpisah, Kepala Unit Pelaksana Teknis Perlindungan Tanaman Pangan Dan Hortikultura Provinsi Kalbar, Yuliana Yulinda, mengatakan bahwa puncak panen padi di Kalimantan Barat akan berlangsung di bulan ini dan pada bulan Mei 2020 petani sudah mulai melakukan penyemaian benih untuk kegiatan tanam musim Rendeng.

Sebenarnya di beberapa Kab/Kota sekarang sudah ada yang melakukan semai benih karena mereka memang panen lebih dulu. Namun karena sebagian besar petani bulan ini sedang panen maka diperkirakan bulan depan semakin banyak petani yang melakukan penyemaian sehingga puncak tanam diprediksi beberapa hari sebelum dan setelah lebaran.

“Dan kami POPT yang tersebar di 14 kab/kota siap membantu petani dalam pengawalan perlindungan tanaman dari serangan OPT,” ungkapnya.

Lebih lanjut Yuliana Yulinda mengatakan bahwa sesuai arahan Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kalbar produksi pertanian harus terus dipacu dalam kondisi apapun dengan tetap menjaga kondisi kesehatan khususnya para petani.

Sesuai arahan Mentan SYL bahwa pertanian menjadi garda terdepan ketahanan pangan bangsa ini di tengah pandemik Covid 19.

“Jadi kami laksanakan arahan Pak Menteri walaupun aktivitas kami terbatas namun kami tetap akan melaksanakan upaya pengawalan perlindungan tanaman semaksimal mungkin dan melakukan upaya apapun untuk menjamin ketersediaan pangan,” pungkas Yuliana Yulinda.

Di tempat terpisah Direktur Perlindungan Tanaman Pangan Edy Purnawan mengatakan bahwa kondisi wabah Pandemik Covid 19 bukan menjadi halangan petani untuk berproduksi dan mengamankn produksi. Sesuai arahan Dirjen Tanaman Pangan Suwandi, Kementan melakukan upaya-upaya untuk mendorong pemenuhan pangan nasional.

“Prinsip pengendalian hama terpadu harus tetap menjadi acuan, untuk menjaga ekosistem dan mempertahankan produksi pangan,”pungkas Edy.