SOSIAL

Masyarakat Diajak Tengok Sisi Positif Hubungan Indonesia-Tiongkok

MONITOR, Jakarta – Kelas Inklusif bersama Ikatan Pemuda Tionghoa Indonesia (IPTI) DKI Jakarta menggelar diskusi publik dengan tema Sejarah Hubungan Diplomasi Indonesia dan Tiongkok – Sze Tu Mei Sen Sang Pelopor di Conclave, Cilandak, Jakarta, Sabtu (22/2).

Diskusi tersebut menghadirkan berbagai narasumber guna membahas persoalan hubungan Indonesia-Tiongkok di tengah gemuruh pemberitaan dan stigma negatif tentang Tiongkok.

Wakil Ketua Umum Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia, Richard Tan yang hadir sebagai pembicara menuturkan, Tiongkok merupakan negara yang erat hubungannya dengan Indonesia bahkan sejak ratusan tahun yang lalu: mulai dari urusan dagang sampai urusan politik.

Menurutnya, hubungan erat tersebut yang menyebabkan banyaknya populasi warga Tionghoa di Indonesia. Tercatat, Indonesia memiliki komunitas tionghoa terbesar di dunia.

“Hubungan horizontal pada tubuh masyarakat yang tumbuh harmonis harap jangan dirusak. Kita telah berhubungan baik dalam berbagai hal, jadi mohon kita untuk bersama-sama saling menjaga. Bahkan dalam sektor budaya. Budaya boleh disandingkan, asal jangan dibanding-bandingkan,” ujar Richard Tan.

Dalam kesempatan tersebut, Ketua DPW IPTI DKI Jakarta, Glenn Wijaya yang juga hadir sebagai pemateri mengajak para peserta melihat lebih jauh hubungan Indonesia-Tiongkok, khususnya di sektor investasi yang kini tengah hangat dibicarakan publik.

“Mau bagaimanapun, kita butuh investasi. Kita butuh modal untuk melakukan percepatan pembangunan. Investasi menciptakan lapangan pekerjaan untuk rakyat Indonesia. Walaupun tetap harus ada yang digarisbawahi dari investasi, yaitu kedaulatan rakyat yang kuat. Tapi jangan khawatir, percayakan semuanya pada aparat penegak hukum. Jangan sampai kita termakan hoax.” ujarnya.

Menutup sesi materi, Founder Kelas Inklusif, Muhammad Rafsanjani menjelaskan, persoalan investasi yang diasumsikan sebagai hutang di Indonesia tak lain karena budaya masyarakat yang menganggap hutang sebagai sesuatu yang hina, padahal dari investasi tersebut dapat memecahkan berbagai persoalan, mulai dari persoalan ekonomi hingga lapangan kerja.

“Kenapa Investasi di salahkan? Karena budaya masyarakat Indonesia menyebutkan bahwa hutang adalah hal yang hina. Namun, hutang yang dimaksud masyarkat tidak berlaku pada rumus bisnis dan ekonomi sebuah negara. Hutang dibutuhkan untuk mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi. Dengan adanya investasi, akan terciptanya lapangan pekerjaan. Tersedianya lapangan pekerjaan berdampak pada banyaknya masyarakat yang dapat bekerja,” terang Rafsan.

Padahal, kata dia, banyaknya masyarakat yang bekerja membuat daya beli masyarakat naik sehingga income per-kapita negara juga ikut naik. Pada titik ini investasi membantu mobilitas verikal di Indonesia.

“Jangan melulu memandang negatif. Bahwa konflik yang terjadi di Uighur dan Laut Natuna merupakan persoalan lain yang tidak bisa disamaratakan. Venezuela dan Ekuador menjadi bukti kegagalan sebuah negara akibat menolak investasi yang menyebabkan kedua negara tersebut terseok-seok. Maka dari itu, investasi asing jangan lagi dianggap sebagai sesuatu yang negatif.” pungkas Rafsan.

Recent Posts

QUTB GLOBAL Apresiasi Doa Lintas Agama di Konser Andrea Bocelli: Perbedaan Adalah Kekuatan Bangsa

MONITOR, Jakarta - Doa lintas agama dalam pembukaan konser Andrea Bocelli di JIExpo, Jakarta, dinilai…

1 hari yang lalu

Kemnaker dan PT IWIP Jalin Kerja Sama Perkuat Kompetensi SDM Pengolahan Logam Berat

MONITOR, Halmahera Tengah — Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) menjalin kerja sama strategis dengan PT Indonesia Weda…

2 hari yang lalu

Sekjen Kemenag: Khairu Ummah Harus Diwujudkan melalui Aksi Nyata dan Kolaborasi Negara MABIMS

MONITOR, Jakarta – Konsep Khairu Ummah (umat terbaik) tidak cukup dimaknai sebagai wacana normatif atau…

2 hari yang lalu

Kementerian UMKM dan BEI Buka Akses Pasar Modal bagi Usaha Menengah Lewat Go Public Academy

MONITOR, Jakarta – Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) bersama PT Bursa Efek Indonesia…

2 hari yang lalu

UIN Jakarta Dukung Diplomasi Keislaman Kawasan melalui Seminar Kertas Tema SOM MABIMS ke-50

MONITOR, Jakarta— Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta menggelar Seminar Kertas Tema dalam rangka…

2 hari yang lalu

Indonesia Tuan Rumah SOM MABIMS ke-50, Menag Ajak Empat Negara Bangun Masyarakat Islam Berkeadaban

MONITOR, Jakarta - Indonesia menjadi tuan rumah Senior Officials Meeting (SOM) ke-50 Menteri Agama Brunei…

3 hari yang lalu