Pengamat: Duet Ahok-Jonan Mampu Atasi Masalah Akut Pertamina

Foto Ilustrasi (saptofama/monitor.co.id)

MONITOR, Jakarta – Presiden Joko Widodo (Jokowi) kembali merasa jengkel dengan kondisi Indonesia yang disebut hobi impor minyak dan gas (migas), yang dalam sehari Indonesia mengimpor Migas 700 ribu-800 ribu barel per hari. Kejengkelan Jokowi beralasan, lantaran impor sebesar itu semakin memperbesar defisit negara migas (DNM), yang membengkakan defisit neraca perdanganan.

Penyebab utamanya meroketnya impor migas adalah penurunan lifting crude oil dan tidak dibangun kilang minyak hampir selama 30 tahun. Presiden Jokowi meyakini bahwa Mafia Migas di balik peningkatan impor dan kegagalan pembangunan kilang minyak. Tidak dapat dipungkiri bahwa ketiga permasalahan akut itu merupakan tanggung jawab Pertamina, yang tidak kunjung diselesaikan dalam kurun waktu lima tahun terakhir ini.

Menanggapi hal itu, Pengamat Ekonomi Energi UGM, Fahmy Radhi mengatakan untuk menyelesaikan berbagai persoalan akut ditubuh pertamina Menteri BUMN Eric Tohir memang sudah mengangkat Ahok sebagai Komisaris Utama (komut) akan tetapi Ahok sebagai komut Pertamina tidak akan pernah mampu mengatasi permasalahan Pertamina tersebut sendirian, tanpa berduet dengan direktur utama (dirut) Pertamina.

“Mustahil bagi Ahok berduet dengan dirut Pertamina saat ini. Pasalnya, ketiga permaslahan Pertamina itu sudah muncul beberapa tahun lalu tanpa bisa diatasi oleh dirut Pertamina saat ini. Oleh karena itu, Menteri BUMN juga harus menempatkan dirut Pertamina baru untuk berduet dengan Ahok dalam mengatasi permasalahan akut di Pertamina,”katanya melalui keterangan tertulis yang di terima, Rabu (18/12).

Menurutnya, Dirut Pertamina itu harus berintegritas, berani, dan professional di bidangnya, serta memiliki track record keberhasilan dalam mengelola BUMN. Dan salah satu yang memenuhi kualifikasi tersebut adalah Ignasius Jonan, mantan menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) RI.

“Jonan seorang professional, yang mengawali kariernya di Citi Bank selama 20 tahun. Debutnya di BUMN dan Pemerintahan diawali sebagai dirut PT Bahana Pembinaan Usaha Indonesia (Persero), saat itu menderita kerugian, yang diubah hingga mencapai keuntungan,” imbuhnya.

Dia menilai, prestasi monumental yang dicapai Jonan pada saat menjadi dirut PT Keretsa Api (KAI). Dalam waktu kurang dari 5 tahun, Jonan sebagai leader telah berhasil melakukan radical changes di PT KAI hingga mencapai service excellence. Bahkan, Jonan berhasil mengubah PT KAI, yang semula menderita kerugian sebesar Rp. 83,5 miliar, menjadi keuntungan sebesar Rp. 154,8 miliar, yang meningkat menjadi Rp. 560,4 miliar pada 2013.

“Kesuksesan di PT KAI mengantarkan Jonan menjadi Menteri Perhubungan selama dua tahun. Namun, Jonan terkena reshuffle kabinet pada 27 Juli 2016. Dua bulan kemudian, Presiden Jokowi mengangkat Jonan kembali menjadi Menteri ESDM pada 14 oktober 2016 hingga berakhirnya kabinet jilid satu,” imbuh Fahmy.

Selain itu lanjut Fahmy, berbagai keberhasilan yang dicapai saat kepemimpinam Jonan, antara lain: pencapaian 98,8% rasio elektrifikasi, pengembangan EBT: Listrik Tenaga Surya, Listrik Tenaga Bayu, Bio Disel B20 dan B30, kompor listrik dan kendaraan listrik. Tidak dapat disangkal bahwa keberhasilan Indonesia menguasasi mayoritas 51 persen saham PT Freeport Indonesia setelah 51 tahun, salah satunya berkat kepiawaian dan keuletan Jonan dalam berunding dengan Freeport Mc Moran dan Rio Tinto.

“Selama menjabat sebagai Menteri ESDM, Jonan juga sudah terbukti punya komitmen dan keberanian dalam menumpas para pemburu rente di bidang energi.
Berdasarkan kualifikasi dan capaian keberhasilan yang diukir, Ignasius Jonan merupakan sosok yang tepat untuk diangkat menjadi dirut Pertamina, yang berduet dengan Ahok sebagai komut Pertamina. Duet Ahok-Jonan ini diharapkan mampu menyelesaikan permaslahan akut dihadapi Pertmina, termasuk menganyang Mafia Migas seperti yang diharapkan oleh Presiden Jokowi,”tutupnya.