Kementan Dorong Tumbuhnya Pengusaha Pangan Lokal Millenial

30
Talkshow "Sehat dan Kaya dengan Pangan Lokal" di Titik Nol kota Yogyakarta (foto : Istimewa)

MONITOR, Yogyakarta – Potensi dan sumber daya pangan lokal mesti dikembangkan secara optimal melalui berbagai inovasi dan kreasi. Karena itu, generasi muda diharapkan berperan penting dalam mengangkat nilai tambah dan daya saing pangan lokal.

Untuk itu, dalam rangkaian Gelar Pangan Lokal Berbasis UMKM diadakan talkshow yang mengangkat tema “Sehat dan Kaya dengan Pangan Lokal” di Titik Nol kota Yogyakarta pada Minggu (8/12/2019).

Sekretaris Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian, Riwantoro yang hadir dalam acara tersebut menegaskan bahwa Indonesia kaya akan potensi pangan lokal yang menjadi peluang dalam pengembangan bisnis pangan.

“Kita harapkan generasi muda para milenilal ini mampu menjadi tokoh utama dalam mengembangkan pangan lokal,” kata Riwantoro.

Sektor UMKM, menurut Riwantoro, menjadi daya ungkit dalam pengembangan bisnis pangan ini.

Pakar branding dari Maxi Consulting, Ardhi Putro Setyanto menguraikan, untuk mengembangkan pangan lokal berbasis UMKM, diperlukan kekuatan branding yang memiliki fungsional benefit dan emosional benefit untuk dapat meningkatkan daya saing produk pangan lokal tersebut.

“Branding di media sosial kini tidak lagi dipengaruhi oleh jumlah follower tapi lebih pada seberapa kuat ajakan tersebut mengubah mindset konsumen. Semakin segmented suatu produk akan semakin branded suatu produk,” jelasnya.

Mengamini pernyataan Ardhi, pakar Teknologi Pangan UGM, Prof Sri Rahardjo menambahkan, untuk menarik konsumen, pengembangan pangan lokal ini harus memperhatikan rasa, keamanan pangan, harga, dan daya simpan.

Sementara itu, co-founder start up iGrow Jim Oklahoma yang juga hadir dalam talkshow tersebut menekankan pentingnya penggunaan teknologi informasi untuk mempertemukan penjual dan pembeli serta investor.

Hal ini juga selaras dengan tujuan pemerintah untuk meningkatkan ketahanan pangan di era 4.0 bahwa fungsi start up menjadi bagian penting dalam pengembangan pangan lokal.

Jim juga menyampaikan bahwa pengembangan bisnis pangan lokal harus memiliki tiga hal penting yaitu ide, eksekusi, dan momentum.

“Melalui Gerakan Pangan Lokal di DIY ini menjadi momentum awal pengembangan UMKM yang berdaya saing, sehingga ke depannya UMKM bukan hanya Usaha Mikro Kecil dan Menengah namun sebagai Usaha Mikro Kecil “Milyaran”,” jelasnya.

Talkshow yang dipandu oleh Tako Mintardja ini juga menghadirkan UMKM asal Kulonprogo, Pawon Gendis, yang telah berhasil mengembangkan bisnis pegagan sebagai komponen produk olahan pangan dalam coklat, peyek, cocoa nut, minuman coklat dengan brand Wondis.

Ketua KWT Pawon Gendis, Dwi Murtati menuturkan usaha pengembangan pangan lokal adalah bisnis yang menjanjikan dan prospektif.
Bisnis Wondis merupakan satu di antara banyaknya bisnis pangan lokal yang mulai menggeliat dan terus berkembang.

Dwi berharap ke depannya bisnis pangan lokal menjadi peluang bisnis yang menarik bagi para generasi muda.

Merespon hal itu, Riwantoro menegaskan komitmen pemerintah dalam mendorong pengembangan pangan lokal.

“Pemerintah akan terus mendorong UMKM bisnis pangan lokal terutama yang belum berkembang serta scaling up UMKM yang telah berkembang,” tegasnya.

“Mulailah dari sekarang untuk menjadi enterpreneur pangan lokal,” demikian Riwantoro menutup acara talkshow.

Gelar Pangan Lokal Berbasis UMKM diikuti sekitar 4.000 orang yang berasal dari kalangan pelajar, mahasiswa, masyarakat, UMKM DIY serta UMKM dari seluruh Indonesia.