BKP Kementan Pantau Kesiapan Sumut Laksanakan Kegiatan PMS

16
BKP Kementan meninjau kesiapan PMS saat kunjungan ke SMUN 2 Medan dan SMKN 1 Beringin Deli Serdang pada Rabu (27/11/19).

MONITOR, Medan – Pada peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS) ke-39 di Sulawesi Tenggara pada awal November lalu, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menegaskan, pembangunan pertanian berkelanjutan ramah lingkungan sebagai paradigma pembangunan pertanian ke depan. Salah satunya melalui kegiatan Pertanian Masuk Sekolah (PMS) sebagai kegiatan yang memberikan pemahaman pertanian kepada generasi muda.

Kepala Pusat Ketersediaan dan Kerawanan Pangan, Andriko Noto Susanto menegaskan, dalam upaya menjaga keberlanjutan generasi muda pertanian, perlu diambil langkah jitu untuk memastikan sektor ini menjanjikan sebagai sebuah profesi.

Untuk itu, promosi dan proses edukasi perlu diinisiasi melalui aktivitas pertanian di sekolah berupa kurikulum kecakapan hidup (life skill) atau pembelajaran ekstrakurikuler pertanian di sekolah.

Selain sebagai upaya memperkenalkan aktivitas pertanian, langkah ini penting untuk menanamkan kecintaan terhadap tanaman, meningkatkan ketersediaan pangan dan mengonsumsi produk pertanian yang sehat dan bergizi.

Hal ini disampaikan saat kunjungan ke SMUN 2 Medan dan SMKN 1 Beringin Deli Serdang pada Rabu (27/11/19).

Dua sekolah tersebut merupakan sekolah terpilih untuk melaksanakan kegiatan Pertanian Masuk Sekolah (PMS) yang sudah ditetapkan bersama 68 sekolah lain di 34 provinsi.

Andriko juga menjelaskan bahwa program PMS ini ke depan tidak hanya berfokus pada budidaya sayuran dan buah, tapi juga komoditas pertanian lain, seperti tanaman pangan dan peternakan baik melalui program maupun usaha swadaya.

Dengan pendekatan ini, para siswa akan dilatih membudidayakan tananam hortikultura sayur dan buah, usaha ternak unggas, kolam ikan dengan berbagai inovasi pemanfaatan lahan di lingkungan sekolah.

Upaya ini selain memastikan regenerasi petani, juga meningkatkan ketersediaan, akses dan pemanfaatan pangan.

“Kita berharap instansi terkait ikut berperan dalam kegiatan PMS ini, seperti BPTP Sumut siap melaksanakan pendampingan teknis dengan sekolah yang melaksanakan PMS,” ujarnya.

Kedua sekolah siap melaksanakan PMS dalam minggu ini, karena semua persyaratan teknis dan administrasi sudah terpenuhi.

Dinas Pangan dan Peternakan Sumut sebagai penanggungjawab Provinsi telah melakukan sosialisasi dan fasilitasi agar program ini berlangsung sukses.

“Pertanian kita harus maju, maka kita buat Pertanian Masuk Sekolah. Anak-anak sekolah harus memiliki pemahaman pertanian, sehingga keluar dari sekolah minimal memiliki kemampuan memproduksi pangan keluarga,” ujarnya.

Hal senada dikemukakan Kepala BKP Kementan, Agung Hendriadi pada Rakor PMS di Jakarta, Kamis (21/11/2019) lalu.

Ia menegaskan bahwa kegiatan PMS merupakan salah satu bagian dari implementasi pertanian keluarga (family farming) yang dimulai dari sekolah.

Selain itu, PMS juga diarahkan sebagai upaya intervensi dalam upaya pengentasan daerah rentan rawan pangan.

Karena itu, lokus kegiatan PMS di tahun 2020 mendatang fokus pada 88 daerah rentan rawan pangan berdasarkan peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan (FSVA).