Kepercayaan Publik Tinggi, Presiden Pertahankan Panglima TNI

14452
Pengamat Intelejen dan Pertahanan, Ngasiman Djoyonegoro

MONITOR, Jakarta – Kepercayaan publik terhadap TNI sebagai institusi negara masih tetap tinggi. Survei LSI Denny JA September 2019 menyebutkan bahwa kepercayaan publik terhadap TNI masih di angka 89,0. Tertinggi di antara institusi negara lain seperti KPK dan MK. Meskipun secara umum survei tersebut menunjukkan penurunan kepercayaan publik kepada institusi negara dan institusi demokrasi.

Tingkat kepercayaan publik yang tinggi terhadap institusi TNI tidak terlepas dari kepemimpinan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto yang telah mampu membawa TNI melewati masa-masa sulit dengan kapasitas dan komitmen yang tinggi.

“Terutama pada Pemilu 2019 lalu, TNI berhasil menunjukkan netralitas dan mampu menjaga stabilitas pertahanan dan keamanan,” kata Ngasiman Djoyonegoro.

Menurut Simon, demikian sapaan akrab Ngasiman Djoyonegoro, bahwa keberhasilan TNI dalam mengemban fungsi sebagai penjaga pertahanan negara dan merupakan manifestasi penegak keutuhan kedaulatan NKRI dan berhasil mendukung suksesnya pelaksanaan demokrasi, merupakan prestasi yang patut dibanggakan.

Selain itu, TNI juga berhasil menjaga kelancaran dan keamanan Pemilu Serentak 2019, juga selalu membanggakan dalam penugasan PBB di berbagai penjuru dunia. TNI selalu memastikan negara hadir di daerah terpencil, di daerah perbatasan dan di pulau-pulau terdepan Indonesia. TNI selalu manunggal dengan rakyat.

Secara kelembagaan, Panglima TNI berhasil menaikkan level sejumlah Komando Distrik Militer (Kodim) dari tipe B ke tipe A, yang diiringi dengan kenaikan pangkat Komandan Distrik Militer (Dandim) dari Letnan Kolonel ke Kolonel. Demikian juga pada sejumlah Komado Resor Militer (Danrem), dari tipe B ke tipe A dari pangkat Kolonel ke Brigjend sesuatu yang sulit dicapai di masa lalu.

Pembentukan Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan) terealisasi di bawah komando Hadi Tjahjanto. Struktur baru dibentuk untuk memperkuat koordinasi operasi TNI dalam mempertahankan wilayah Indonesia. Wacana pembentukan struktur baru ini sudah muncul sejak 2014.

Hubungan yang baik antara TNI-Polri dan kemampuan kedua institusi pertahanan dan keamanan untuk bersinergi dalam agenda-agenda nasional berhasil dibangun. Tanpa sinergi, akan sulit dicapai situasi keamanan yang diinginkan.

Simon menilai ada pihak-pihak yang menggiring opini bahwa seolah Panglima TNI menyalahkan revolusi industri 4.0 sehingga muncullah ancaman2 serangan teroris lone wolf. “Itu adalah penilaian yang sepotong-sepotong. Panglima TNI selalu menyampaikan bahwa paradoks dari sebuah kemajuan yang disruptif pasti ada dampak negatifnya, dampak itulah yang harus dimitigasi.”

“Komitmen dan kapasitas Hadi Tjahjanto dalam memperkuat pertahanan negara dengan demikian tidak usah diragukan lagi,” kata Simon.

“Anggaran Pertahanan dari 90 T kini menjadi 127,5 T, Remun menjadi 75 %, dan sekarang sudah diacc menjadi 80%, terbentuknya satuan baru TNI 3 matra yang dari dulu hanya konsep, era pak Hadi semua mimpi TNI terwujud. Alutsista baru : kapal selam, pesawat tempur, Tank dan senjata Strategis lainnya kini terwujud dengan konsep introprobilty command dan digitalisasi sistem senjata,” pungkasnya.