POLITIK

Komentari Putusan Bebas Sofyan Basyir, Fahri Hamzah: Negara Tidak Harus Menang

MONITOR, Jakarta – Mantan Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah menilai vonis bebas Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) terhadap Eks Dirut PT PLN Sofyan Basir sebagai bentuk dinamika yang sehat dalam perjalanan negara hukum yang demokratis sebagaimana amanah Undang-Undang Dasar (UUD) 1945.

“Ada kalah dan menang dalam putusan hakim, ada vonis bersalah dan vonis bebas adalah dinamika sehat yang menandai berjalannya negara hukum yang demokratis sesuai amanah UUD 1945. Inilah negara demokrasi, dimana negara tidak harus menang dan rakyat tidak harus kalah,” kata Fahri saat dikonfirmasi awak media, Selasa (5/11).

“Saya berbicara teori dulu, kenyataan kita analisa dengan cara yang sedikit berbeda. Bahwa dalam demokrasi kita hidup dengan harapan; ada peluang menang meski mungkin saja kita kalah. Berbeda dalam keadaan totaliter dimana pengadilan dikontrol dan dikendalikan oleh penguasa,”tambahnya.

Karena itu, menurut Fahri aparat harus membiasakan diri dengan profesionalisme yang meletakkan semua penyelenggara dan penegakan hukum sama di depan hukum, sebagaimana Pasal 27 UUD 1945. Dan hakim sebagai wakil Tuhan, sambung Fahri, harus memutus dengan nurani karena kebenaran hanya satu.

“Para pejabat dan khususnya penegak hukum; khususnya polisi dan jaksa tidak boleh merasa bahwa kekalahan mereka adalah kekalahan negara. Paling jauh kita berharap mereka introspeksi.”

“Bahwa mereka telah menyelenggarakan hukum dengan tidak teliti sejak awal. Jangan sampai aparat penegak hukum merasa bahwa mereka harus menang dengan segala cara dan bahwa rakyat dan para pencari keadilan adalah objek yang harus dilumpuhkan dengan segala cara. Ini cara pandang yang salah kepada hukum. Ini mentalitas otoriter yang harus dikikis habis,” tegas inisiator Gerakan Arah Baru Indonesia (GARBI) itu lagi.

Sebab menurut Fahri, Negara yang selali menang dengan menghalalkan segala cara adalah negara Machiavelli, tetapi negara yang selalu kalah dalam demokrasi adalah negara anarki. Hukum itu tertulis di atas meja dan negara harus menjamin peluang semua orang untuk membaca dan berargumen dengannya.

Profesionalitas penyelenggara negara dan penegak hukum di hadapan sistem yang terbuka itu, imbuh dia, nampak pada perasaan diperlakukan adil dan pasti yang menjadi sumber ketenangan masyarakat. Kalau rakyat kalah, mereka minta dihukum dan kalau mereka menang mereka minta dibebaskan.

“Demikianlah cara ketertiban umum diselenggarakan dalam negara hukum yang demokratis yang menjadi amanat konstitusi Negara UUD 1945. Inilah yang akan membawa Indonesia menuju gerbang peradaban mulia. Mari kita Gelorakan Semangat Indonesia Raya!!” pungkas salah satu pentolan Partai Gelombang Rakyat (Gelora) yang akan dideklarasikan pada tanggal 10 November nanti.

Recent Posts

HAB-80 di Wonogiri, Menag Sebut Jalan Sehat Lintas Iman Wujud Keindonesiaan

MONITOR, Jakarta - Menteri Agama Nasaruddin Umar melepas ribuan peserta Jalan Sehat Kerukunan Umat Beragama…

22 menit yang lalu

Mahfuz Sidik Prediksi Rentetan Peristiwa Tak Terduga di Politik Global

MONITOR, Jakarta - Sekretaris Jenderal Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Mahfuz Sidik Indonesia mengatakan, pemerintah Indonesia…

1 jam yang lalu

HAB-80 Kemenag di Ciamis, Doakan Indonesia Damai dan Maju

MONITOR, Jakarta - Jelang Pukul 19.00 Stadion Galuh Ciamis sudah mulai ramai. Masyarakat berpakaian gamis…

6 jam yang lalu

Wajah Baru Pelatihan Petugas Haji 2026, Disiplin dan Profesional

MONITOR, Jakarta - Pelatihan dan Pendidikan (Diklat) Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi Tahun…

7 jam yang lalu

Kemenag Cairkan BSU 2025 untuk 211 Ribu Guru Madrasah Non ASN

MONITOR, Jakarta - Kabar baik datang dari Kementerian Agama di awal 2026. Bantuan Subsidi Upah…

11 jam yang lalu

Adik Jadi Tersangka KPK, Ketum PBNU Pastikan Tak Intervensi Kasus Haji

MONITOR, Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah menetapkan Eks Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil…

1 hari yang lalu