POLITIK

Tsamara Amani Curhat Pernah ‘Dihabisi’ Buzzer Media Sosial

MONITOR, Jakarta – Isu buzzer media sosial pro pemerintah terus mengemuka pasca Nino Karundeng, menjadi amukan massa saat demo di DPR beberapa waktu lalu. Sentimen makin tajam dengan persepsi buzzer adalah oknum provokator yang dibayar.

Politisi PSI Tsamara Amani Alatas menyadari buzzer media sosial semakin banyak jumlahnya. Namun ia tak sepenuhnya setuju jika buzzer adalah orang bayaran. Bahkan, politikus muda lulusan Universitas Paramadina ini mengatakan, tak semua buzzer adalah pro pemerintah, ada juga yang independen.

Lebih jauh Tsamara bercerita dirinya pernah menjadi korban ‘keganasan’ buzzer media sosial. Saat itu, kenang Tsamara, dirinya menuliskan pendapat pribadinya melalui laman Twitter tentang Rancangan Undang-undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU P-KS).

“Kalau semua orang bilang kita semua itu jadi korban buzzer, beberapa hari yang lalu saya ngetwit Pak Karni soal dukungan saya terkait Rancangan UU Penghapusan Kekerasan Seksual, dan bagaimana sya mendukung pasal pemerkosaan dalam rumah tangga masuk karena untuk melindungi banyak perempuan yang mengalami kekerasan seksual tersebut dalam rumah tangga,” kata Tsamara dalam sebuah program diskusi yang dipandu host Karni Ilyas, Selasa (8/10) malam.

Mendapati dirinya ‘dihabisi’ di media sosial, Tsamara pun tak terlalu mempersoalkan. Menurutnya, wajar apabila reaksi warganet beragam mulai dari membelanya hingga menyerang individunya karena perbedaan pendapat.

Namun Ketua DPP PSI ini mengatakan, dirinya tak terlalu pusing. Ia akan menanggapi respon buzzer media yang mengutarakan respon secara substantif bukan hujatan kosong belaka.

“Banyak responnya, sampai trending, saya pun diserang habis-habisan, banyak yang melecehkan atau menyerang dan tidak setuju dan lain sebagainya. Tapi saya sadar, kalau kita dalam berdemokrasi dalam media sosial kita punya jendela dan pintu kita buka di rumah itu, maka kita akan bertemu dengan udara yang segar, dan udara yang tidak segar, maka saya tidak ladeni yang seperti itu. Tapi mereka yang debat secara substansi itu yang saya ladeni, ide kita lawan dengan ide, pendapat yang buruk kita lawan dengan pendapat yang baik,” tukas Tsamara.

Recent Posts

GODF 2026 Qingdau, Prof Rokhmin beberkan Potensi Akuakultur RI dan Tantangan Pembiayaan

MONITOR - Indonesia memiliki potensi ekonomi akuakultur yang diperkirakan mencapai US$210 miliar per tahun, namun…

2 jam yang lalu

Ekoteologi Kampus PTKIN Terus Mendapat Pengakuan Nasional, Raih Penghargaan UI GreenMetric 2026

MONITOR, Jakarta – Ekosistem pendidikan Islam di bawah naungan Kementerian Agama kembali menorehkan tinta emas…

5 jam yang lalu

BM PAN Konsolidasikan Pengurus 2026–2031, Slamet Ariyadi Serukan Satu Komando

MONITOR, Jakarta - Barisan Muda Penegak Amanat Nasional (BM PAN) menggelar Meet and Greet Pengurus…

11 jam yang lalu

Kekerasan OPM Tewaskan Sopir Angkutan Masyarakat, TNI Perkuat Pengamanan Dan Kejar Pelaku

MONITOR, Jakarta - Kelompok bersenjata Organisasi Papua Merdeka (OPM) kembali melakukan aksi kekerasan terhadap masyarakat…

12 jam yang lalu

Kementerian UMKM Dampingi Usaha Menengah Menuju IPO melalui RISE TO IPO 2026

MONITOR, Jakarta – Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terus mendorong usaha menengah untuk…

13 jam yang lalu

Prof Rokhmin Dahuri Tinjau Industri Perikanan Modern China, Dorong Penguatan Ekonomi Biru Indonesia

MONITOR, QINGDAO, CHINA - Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) University, Prof. Dr. Ir. Rokhmin…

15 jam yang lalu