Kampus La Tansa Deklarasi Nasional Penyelamatan Lingkungan Hidup

Deklarasi Nasional Penyelamatan Lingkungan Hidup di Kampus La Tansa Mashiro Rangkasbitung

MONITOR, Lebak – Para tokoh nasional, gerakan lintas budaya dan lintas generasi mengelar Deklarasi Nasional Penyelamatan Lingkungan Hidup. Acara itu digelar di di La Tansa Hall, Perguruan Tinggi La Tansa Mashiro, Jalan Soekarno, Rangkasbitung, Lebak, Banten.

Tokoh yang hadir dalam acara itu diantaranya Prof Dr Jimly Asshidiqie, SH (Ketua Umm ICMI), Dr M. Jafar Hafsah (Sekjen ICMI), Dr Ir Saleh Abdurahman, Msc (Staf Ahli Bidang Lingkungan dan Tata Ruang Kementerian ESDM RI, Dr Ir hariynato MT mewakili Dirjen EBTKE Kementerian ESDM RI, Direktorat Konservasi Energi kementerian ESDM RI, Ir Helmi Basalamah MM, (Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM kementerian LHK RI, Budi Satyawan wardhana, Deputi I-Perencanaan dan Kerjasama Badan restorasi Gambut RI, Ade Sumarna (Wakil Bupati Lebak), Ir Priyono (Kepala Bagian Umum Ditjen PSP, Kementerian Pertanian RI), mewakili Dirjen PSP, Kolonel TNI Windiatno, Danrem 064 Maulana Yusuf, Propinsi Banten, mewakili Panglima TNI, Dr Suharno M.Kes (staf ahli Bidang Kesra dan SDM Kota Tangerang Selatan)mewakili Walikota Tangsel, seniman dan penggiat lingkungan Raja Asdi (inisiator), budayawan Remy Sylado (inisiator), musisi Sam Bimbo (inisiator), Ully Sigar Rusady (inisiator), tokoh R. Dono Sumarwoto serta jurnalis Didang mewakili kalangan pers.

Ketua Umum ICMI Prof Dr Jimly Asshidiqie SH yang pada hari itu memberi Studium Generale Green Contitusion, mengatakan bahwa Indonesia menghadapi situasi lingkungan yang sangat ekstrim. 

Di Jambi saja, misalnya, gara-gara asap,  pada jam duabelas siang, gelapnya seperti jam 12 malam. Indonesia itu mempunyai alam yang ringkih. Kalau tidak ringkih tidak akan terpecah menjadi 17 ribu pulau. Di atas tanah Indonesia terdapat gunung berapi. Sementara di bawah tanah dan lautan terdapat patahan-patahan. 

Itu sebabnya, sambung dia, harus dijaga bersama-sama, dulu mungkin soal sosialiasi kesadaran penjagaan lingkungan hidup sebagai fardu kifayah, tapi saat ini setiap orang wajib menjaga lingkungan hidup merupakan fardu ain. 

“Setiap orang wajib bertanggung jawab terhadap lingkugan hidup. Pentingnya merawat dan melestarikan lingkungan hidup, kebetulan Indonesia merupakan paru-paru dan jantungnya dunia. Maka, kerusakan lingkungan hidup di Indonesia bukan hanya menyangkut kita.” ujarnya dalam Keterangan tertuli yang diterima di Jakarta, Minggu (29/9).

“Tapi masyarakat dunia ikut menjadi korban. Inilah perlunya menyadari pentingnya posisi Indonesia di dunia.  Saatnya Indonesia memimpin dunia. Kita adalah bangsa ke empat terbesar di dunia. Kekayan alam kita nomer empat. Hasil karet kita nomer dua di dunia setelah Brasil. Jumlah penduduk nomer 4 di dunia. Tinggal masalahnya  kualitas manusianya. Baik kualitas intelektualitasnya kualitas moralnya, dan akhlaknya. Kalau sudah sesuai standar internasional, maka pada saatnya Indonesia akan menjadi negara terbesar ke empat,” ungkap Jimly Asshidiqie.

Sementara itu, Pimpinan Ponpes La Tansa, Sholeh Rosyad, yang merupakan salah satu inisiator kegiatan Deklarasi Nasional penyelamatan lingkungan hidup bahwa keseimbangan ekologis sekarang ini mulai rusak. 

“Padahal kita sebagai manusia punya kewajiban untuk menjaga keseimbangan ekologis yang sudah diciptakan sejak Nabi Adam. Namun apa yang kita lihat sekarang ini, fakta sudah terjadi kerusakan alam,” imbuhnya.

“Maka manusia yang harus bertanggungjawab. Perguruan tinggi La Tansa mengajak mahasiswa mahasiswi harus peduli terhadap lingkungan. Kami berupaya menjadi ujung tombak dalam menjaga lingkungan dengan menanam sejuta pohon,” papar dia.

Selain itu, Raja Asdi, yang juga bagian dari inisiator Deklarasi Nasional, bahwa lahirnya gerakan tersebut dari keprihatinan kita setelah melihat rusaknya lingkungan hidup di Indonesia. Kebetulan mereka yang hadir mempunyai keprihatinan yang sama.
Di saat masyarakat lebih berpikir pada hal yang jangka pendek, mereka lebih memperhatikan lingkungan. Persoalan asap, sampah, sampah plastik maupun sampah elektronik, langkanya pangan dan lain-lain merupakan persoalan nyata yang harus dihadapi masyarakat Indonesia.

“Persoalan asap sudah terjadi sejak tahun 1997. Gangguan asap bukan hanya mengganggu bagi masyarakat Sumatera dan Kalimantan saja. Tapi negara tetangga juga ikut merasakan. Tapi pada tahun 2015 dan 2016, persoalan asap sudah mulai berkurang banyak sekitar 95 persen turunnya. Nah sekarang persoalan itu naik lagi,” ungkap Raja Asdi.

Raja Asdi menjadi penggiat lingkungan hidup sudah sejak lama. Bahkan pada 5 Juni 2000, Raja Asdi bersama Datuk Seri Al Azhar, Alm. Edi Ruslan P.Amanriza dan Almh Amarzan Loebis pernah memproduksi siaran Live selama di lima tv swasta, SCTV TPI, Indosiar, RCTI dan ANTV dalam acara bertajuk Persembahan Kepada Bunda Alam dalam rangka hari lingkungan hidup sedunia.

Sementara musisi dan seniman Sam Bimbo, yang juga bertindak sebagai inisiator dalam acara ini,  dirinya telah lama berjuang di dalam penyelamatan lingkungan. Sam Bimbo, tak bosan-bosan menyerukan kepada masyarakat untuk menjaga lingkungan hidup melalui karya musik dan karya lukis. Selain itu, dirinya aktif dalam  organisasi Walhi. Sam Bimbo pada kesempatan itu juga menyanyikan dua buah lagu yang berjudul ‘Sajadah Panjang’ dan ‘Bumiku Nusantara’. 

Acara itu berjalan dengan baik bersama 1.000 an mahasiswa La Tansa 2 Rangkasbitung hadir pada acara deklarasi dan studium generale Green Contitusion terasa tercerahkan tentang pentingnya menjagaalam dan merawat lingkungan hidup. 

Adapun sebagai Dewan Penasehat Gerakan Lintas Budaya/Agama/Generasi Bersama Merawat Lingkungan Hidup Bumi Pertiwi adalah Prof Dr.H. Jimly Asshidiqie SH, Prof. Dr. H. Buya Ahmad Syafii Maarif. Ir. Sarwono Kusumaatmadja.Prof. Dr. H. Said Aqil Siradj. Hendardi, Datuk Seri H. Al Azhar, Kafi Kurnia, Remy Sylado,  Romo Benny Susetyo, Dr.Ronny F. Sompie, Dr. Jerry Marmen, Phd. WS Budi S Tanuwibowo. Nb