BERITA

Film Nyai Walidah Bentuk Konkrit Perjuangan Perempuan di Masa Lampau

MONITOR, Tangsel – Perjuangan Siti Walidah, atau yang familiar sebagai Nyai Ahmad Dahlan, menjadi salah satu bukti nyata gerakan perempuan di masa lampau. Untuk mengenang perjuangannya, Dyah Kalsitorini Widyastuti mengabadikannya dalam sebuah film berjudul “Nyai Walidah”.

Dalam acara Bedah Film di ITB Ahmad Dahlan, Dyah menceritakan pengalamannya saat bertemu aktivis ‘Aisyiyah, Nasyiatul ‘Aisyiyah hingga ke lembaga pesantren untuk mendiskusikan karya filmnya. Menurutnya, hingga saat ini, film tersebut banyak dicari dan diminta untuk dibedah lantaran berisi perjuangan Nyai Walidah di masa lampau.

Sementara itu, Wakil Ketua Komnas Perempuan Yunianti Chuzaifah mengungkapkan apresiasinya atas pencapaian gerakan perempuan ‘Aisyiyah yang dimotori Nyai Walidah. Yuni mengatakan, gerakan ‘Aisyiyah masa lampau sangat revolusioner dan mampu melawan kolonialisme saat itu.

“Saat itu kongres pertama perempuan ‘Aisyiyah sebagai salah satu pencetusnya, ‘Aisyiyah sudah menyoal derajat wanita, memulai menggunakan bahasa Melayu, dan meleburkan bahasa sebagai identitas yang penting, untuk bersama melawan kolonialisme saat itu,” kata Yuni, saat diskusi Bedah Film dan Peluncuran komunitas ‘Aisyiyah di kampus ITB Ahmad Dahlan Jakarta, Sabtu (21/9).

Gerakan lainnya, kata Yuni, dibuktikan ‘Aisyiyah melalui bentuk aktualisasi nyata di masyarakat yang menyentuh ranah pendidikan bagi perempuan hingga akses kesehatan.

“Pendidikan kepada anak-anak perempuan juga yang masih sulit diperjuangkan, adapula hak kesehatan, ini adalah hak hidup dengan menyelamatkan manusia dari kematian, jadi ‘Aisyiyah yang mengambil peran seperti inilah, yakni masalah adalah pertaruhan nyawa,” terangnya.

“Respon ‘Aisyiyah saat itu juga Nyai Ahmad Dahlan juga menentang untuk tunduk menyembah matahari, atau bahasa sekarang itu hak sipil politik dalam kebebasan berkeyakinan,” tambah Yuni.

Yuni pun mengapresiasi titik penting gerakan Aisyiyah dan Muhammadiyah hingga saat ini, yakni membangun rasionalisme dengan data, misalnya terkait keberagamaan yang tidak feodalistik, merawat Muhammadiyah dari gerakan radikal yang anarkis dan memegang peran sentral lainnya.

Recent Posts

Menag Dorong Mahasiswa BEM Nusantara Jadi Pemimpin Beretika

MONITOR, Jakarta - Mahasiswa perguruan tinggi keagamaan memikul tanggung jawab yang berbeda dengan kampus pada…

11 menit yang lalu

Kemenhaj Fasilitasi Kepulangan Jemaah Umrah yang Terkendala di Arab Saudi

MONITOR, Jakarta - Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia terus melakukan pemantauan dan koordinasi terkait…

2 jam yang lalu

BOS Madrasah Cair, Dapat Digunakan Untuk Membayar Honor Guru Non ASN Madrasah Swasta

MONITOR, Jakarta - Kementerian Agama memastikan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) Madrasah dan Bantuan Operasional…

7 jam yang lalu

DPR Desak Polisi Segera Tahan Tersangka Kasus Koperasi BLN

MONITOR, Jakarta - Anggota Komisi III DPR RI, Safaruddin dalam RDP dan RDPU bersama Direktorat…

11 jam yang lalu

Nuzulul Qur’an di Istana Negara Usung Tema Ekologi dan Perdamaian

MONITOR, Jakarta - Kementerian Agama menggelar rapat internal untuk mematangkan persiapan peringatan Nuzulul Qur'an yang…

14 jam yang lalu

DPR Desak Kemenag Bayarkan TPG Guru Madrasah Sebelum Idulfitri

MONITOR, Jakarta - Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI, Abidin Fikri, mendesak Kementerian Agama Republik…

16 jam yang lalu