Kisah Agus, Sarjana IPB jadi Petani Sukses Berpenghasilan Ratusan Juta

1230

MONITOR, Cianjur – Berpendidikan tinggi tidak mengharuskan orang bekerja pakai dasi. Sebut saja Agus Ali Nurdin. Agus adalah alumnus S1 Agronomi IPB yang pernah merasakan program magang Kementerian Pertanian ke Jepang. Bekal magang ini dimanfaatkan untuk menggerakkan ratusan petani di Cipanas, Cianjur. Hasilnya nyata, dirinya memperoleh pendapatan kurang lebih Rp 500 juta per bulan.

Lulusan 2012 ini mampu mensuplai sayur ke berbagai outlet, mal dan restoran Jepang di Jakarta. Saat ini dia dan beberapa rekan mantan Ikamaja (Ikatan Magang Jepang) memutuskan jalan hidupnya dengan bertani. Agus mengikuti program JICA sejak 2018 dan lahannya sudah bersertifikat organik sejak 2016 dari LSO Inofice. Agus menyebutkan ada kurang lebih 500 petani yang tergabung.

“Dalam komunitas yang kami bangun, kami tanamkan jiwa bertani profesional, cara mengolah dan managemennya. Kami balikkan opini masyarakat yang mengatakan bahwa bertani adalah pekerjaan yang tidak menjanjikan,” ujar Agus.

Agus mengolah lahan milik Okiagaru Farm seluas 17 hektare yang berada di Cianjur, Cisarua dan Depok. Saat ini komunitas Okiagaru yang dibangun dengan teman-temannya sedang proses pendirian koperasi. Dirinya meyakini melalui koperasi mampu mengimbangi persaingan usaha dan mengakomodir kepentingan semua anggota. Tak sampai di situ, dirinya juga tengah menginisiasi hadirnya Okiagaru Mart.

“Untuk memenuhi orderan, kami lihat siapa saja yang memiliki hasil panen dan terus bisa berkesinambungan. Jadi ada yang menanam, ada yang panen. Maka produksi tidak akan berhenti setiap harinya,” tambah Agus.

Agus mengaku masih membutuhkan lahan untuk peningkatan produksi. Dirinya merasa pasar untuk hasil pertanian masih sangat terbuka dan berpeluang besar. Dirinya telah membuktikan hal itu. Hasil produksi bersama para petani telah menembus supermarket AEON dan restoran Jepang.

“Kalau bekerja dengan profesional, kita pasti memperoleh keuntungan yang bagus. Lihat saja para petani di Jepang yang memiliki passion tinggi dalam bertani. Hal ini lah yang perlu kita tanamkan kepada para pemuda saat ini. Kita putarbalikkan opini masyarakat yang salah selama ini melihat petani. Kami terus terpacu untuk mengembangkan lagi,” papar Agus.

Nama ‘okiagaru’ diambil dari nama kelompok ketika dua tahun magang di Jepang. Okiagaru dalam bahasa Jepang berarti bangkit dan membangkitkan. Sepulangnya dari Jepang dirinya mulai mengolah dua hektare lahan dan menanam sayuran Jepang dan pekerjaan ini sukses. Okiagaru memiliki visi sebagai lembaga agribisnis petani muda yang Mandiri, inovatif, profesional, bertaraf Internasional, berbasis ekonomi syariah dan ramah lingkungan

“Melihat peluang inilah, maka kami mengajak petani petani muda untuk bergabung dalam komunitas Okiagaru ini. Kami melatih dan menanamkan passion bertani. Status di KTP juga tertulis sebagai petani agar lebih profesional dan mengubah imej. Komunitas ini sudah berada di berbagai tempat di Jawa barat ini. Di Majalengka dalam pengawasan saudara Popey yang juga mantan seorang pelaut, namun menemukan passion nya dalam bertani,” tambahnya.

Mendengar program Lumbung Pangan 2045 yang digulirkan pemerintah dan sekaligus mendorong lahirnya petani milenial, makin menyemangati para petani. Agus pun sangat mendukung penjualan langsung tanpa perantara. Dirinya berharap pola penjualan tradisional dapat tergantikan melalui modernisasi pasar. Hal ini jelas menguntungkan para petani. Kemajuan teknologi diyakini mempermudah pencarian pasar. Ini peluang yang perlu dikembangkan para petani.

“Coba bayangkan bila hasil panen petani langsung bisa masuk ke konsumen tanpa melalui cara tradisional dulu, petani akan untung walaupun hasil panennya tidak sukses 100 persen. Kita harus mengikuti perkembangan jaman. Seperti istilah sekarang kemajuan tehnologi 4.0. Market saat ini di ujung jari, jadi kita tidak susah untuk mencari pasar dari hasil pertanian kita. Untuk kebutuhan pasar dalam negeri saja kami harus penuhi dari teman teman komunitas dari wilayah lain, sebab tidak semua orderan itu ada pada kami di Cipanas ini,” ujar Agus optimistis.

Dirinya mengakui selain ke AEON juga sedang menyiapkan sayuran organik untuk ekspor oyong ke Jepang dan buncis kenya ke Singapura. Selain itu bersama kelompoknya sedang menginisiasi ekspor rempah organik. Agus bertekad untuk memperluas pasar produk pertanian yang dia kelola.

Melihat banyaknya lahir sosok muda seperti Agus, Dirjen Hortikultura Prihasto Setyanto makin optimistis. Ekonomi bangsa diperkuat hubungan sektor pertanian dengan kehadiran para anak muda yang mampu melihat pasar.

“Hortikultura Indonesia membutuhkan sosok ulet seperti Saudara Agus. Dengan keuletan dan ketangguhan, tidak mustahil bertani hortikultura memberi dampak ekonomi yang luar biasa. Di era Pertanian 4.0 kita tidak akan lepas dari penggunaan teknologi digital. Manfaatkan teknologi ini untuk mendorong provitas dan pemasaran produk horti. Ujungnya adalah peningkatan kesejahteraan,” katanya.