Categories: BERITA

Bukan Soal Tarif, Peneliti IST Minta Kuota Driver Ojek Online Dibatasi

MONITOR, Jakarta – Kebijakan tarif baru ojek online rupanya tak menjadi persoalan bagi pengemudi ojek online, atau mitra dari perusahaan penyedia jasa layanan transportasi ojek online.

Adalah Rizqi (30 tahun), pengemudi ojek online ini mengaku aturan baru yang diterbitkan pemerintah tak berpengaruh terhadap pendapatannya. Ia mengatakan, kebijakan ini sama sekali tak membuat penghasilannya naik berlipat-lipat.

“Nggak ada perubahan apapun (pendapatan), ya sama aja,” ujar Rizqi kepada MONITOR, belum lama ini.

Mengenai konfimasi tersebut, Peneliti Institute Studi Transportasi Deddy Herlambang membenarkan bahwa kebijakan taruf baru ojek online (ojol) tidak berdampak signifikan, terutama bagi driver.

“Saya fikir kalo untuk saat ini kalo untuk pengalaman ya selama 3 bulan kenaikan tarif dari Jabodetabek sepertinya warga happy-happy saja gitu, tidak begitu ada pengurangan dan juga apply ojol juga tambah juga,” kata Deddy Herlambang saat diwawancarai MONITOR.

Deddy mengatakan, masalah yang seharusnya menjadi bahan kajian pemerintah adalah pembatasan kuota pengemudi ojek online. Dimana, setiap harinya jumlah calon pengemudi terus bertambah sehingga membuat persaingan semakin ketat.

Menurutnya, hal ini yang banyak dikeluhkan oleh para driver ojek online. “Jadi memang yang jadi masalah adalah kuota ya. Jika Ojol mengeluhkan pendapatannya berkurang, itu sih bukan masalah tarifnya karena memang tidak ada kuota,” terangnya.

Untuk mengatasi keluhan driver, seharusnya pemerintah membantu menjembatani aspirasi mereka dengan cara membatasi jumlah calon pengemudi ojol melalui Dinas Perhubungan setempat. Ia menjelaskan, Dinas Perhubungan bisa membatasi jumlah driver ojek online yang berada dalam satu titik kawasan, sehingga tidak membeludak.

“Seharusnya kuota (driver) tersebut dibatasi, kalo misalnya ojolnya tuh mengeluh, ya dibatasi dong,” kata Deddy.

“Kementerian mungkin tidak bisa membatasi, yang bisa membatasi adalah Dishub, membatasi misalnya dalam suatu kawasan ojek, nah di situ ojol misalnya 100 karena segmennya kan juga tetep, penggunanya juga tetep, aplikasinya/aplikannya terus bertambah. Ya otomatis pendapatannya ojol juga berkurang. Itu masalah sebetulnya itu,” pungkas Deddy.

Recent Posts

QUTB GLOBAL Apresiasi Doa Lintas Agama di Konser Andrea Bocelli: Perbedaan Adalah Kekuatan Bangsa

MONITOR, Jakarta - Doa lintas agama dalam pembukaan konser Andrea Bocelli di JIExpo, Jakarta, dinilai…

2 jam yang lalu

Kemnaker dan PT IWIP Jalin Kerja Sama Perkuat Kompetensi SDM Pengolahan Logam Berat

MONITOR, Halmahera Tengah — Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) menjalin kerja sama strategis dengan PT Indonesia Weda…

17 jam yang lalu

Sekjen Kemenag: Khairu Ummah Harus Diwujudkan melalui Aksi Nyata dan Kolaborasi Negara MABIMS

MONITOR, Jakarta – Konsep Khairu Ummah (umat terbaik) tidak cukup dimaknai sebagai wacana normatif atau…

17 jam yang lalu

Kementerian UMKM dan BEI Buka Akses Pasar Modal bagi Usaha Menengah Lewat Go Public Academy

MONITOR, Jakarta – Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) bersama PT Bursa Efek Indonesia…

20 jam yang lalu

UIN Jakarta Dukung Diplomasi Keislaman Kawasan melalui Seminar Kertas Tema SOM MABIMS ke-50

MONITOR, Jakarta— Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta menggelar Seminar Kertas Tema dalam rangka…

23 jam yang lalu

Indonesia Tuan Rumah SOM MABIMS ke-50, Menag Ajak Empat Negara Bangun Masyarakat Islam Berkeadaban

MONITOR, Jakarta - Indonesia menjadi tuan rumah Senior Officials Meeting (SOM) ke-50 Menteri Agama Brunei…

2 hari yang lalu