BERITA

Khofifah Ajak FKUB Jatim Bangun Kerukunan Antaragama Pakai Gaya Milenial

MONITOR, Surabaya – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengajak seluruh pihak, termasuk Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) Jatim untuk terus membangun suasana saling menghormati, saling menghargai dan saling memahami antar satu dengan lainnya. Pasalnya, berdasarkan survei PPIM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, angka intoleransi beragama di Indonesia, masih cukup tinggi.

Orang nomor wahid di Jawa Timur ini meyakini, kerukunan itu bisa terbangun antara lain melalui intensitas dialog secara terus menerus. Menurut Khofifah, ruang dialog hendaknya dapat ditradisikan sejak mereka masih remaja yang dalam time line generasi termasuk generasi Z.

“Ini menjadi perhatian kita, disharmoni biasanya muncul akibat kurang dialog dan kurang saling mengenal, akhirnya eksklusif. Dalam sebuah negara yang penuh kebhinekaan seperti Indonesia, maka harmoni akan terwujud jika kita berhasil mewujudkan pola hubungan yang inklusif baik intern maupun antar umat beragama khususnya di Jawa Timur,” ujar Khofifah di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Kamis (5/9).

Khofifah mengatakan, FKUB sebagai representasi religious leader diharapkan menjadi perekat bagi harmoni umat beragama, baik intern, maupun antar umat beragama. Mantan Menteri Sosial RI ini menambahkan, hubungan antar umat beragama di Jatim yang terbangun sangat baik harus terus dijaga agar tetap solid dan kondusif.

Pemprov Jatim sendiri, dikatakan Khofifah, memiliki komitmen untuk membangun kemitraan yang harmonis di Jatim sebagaimana terdapat dalam Nawa Bhakti Satya, khususnya Bhakti kesembilan, yaitu Jatim harmoni.

Untuk membangun harmonious partnership di era sekarang, imbuh Khofifah, tentu tidak bisa hanya dengan mengandalkan cara-cara lama, tatap muka saja, seperti ceramah atau khotbah. Orang nomor satu di Jatim ini mengajak FKUB untuk melakukannya dengan cara ala milenial, format meme, karikatur dan narasi yang sesuai dengan nalar dan psikologis serta style milenial.

“Mari kita viralkan harmonious partnership ini, sebab masing-masing tokoh agama, seperti ulama, kiai, atau pendeta, mereka memiliki jamaah atau ummat yang fanatik. Jika masing-masing memiliki jamaah 100 orang, tentu yang paham hanya 100 orang. Sementara di era sekarang, dunia ini begitu mudah memberikan persepsi publik darimanapun. Jika menggunakan digital IT maka resonansinya tidak terbatas ruang maupun waktu,” pungkasnya.

Recent Posts

Rp4,1 Triliun BOS Madrasah dan BOP RA Tahap II Segera Cair, Ini Jadwal Pengajuannya

MONITOR, Jakarta – Kementerian Agama (Kemenag) mulai memproses penyaluran dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) Madrasah…

2 jam yang lalu

Menteri UMKM Dorong APPI Perkuat Pasar Produk Dalam Negeri

MONITOR, Cikarang – Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) mendorong Asosiasi Pengusaha Pengelasan Indonesia…

4 jam yang lalu

Kemnaker Transformasi Balai K3 Jadi Garda Terdepan Pencegahan Kecelakaan Kerja

MONITOR, Bandung – Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) akan mentransformasi Balai Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di…

6 jam yang lalu

Jasa Marga Sabet Dua Penghargaan PR di Indonesia Public Relations Summit 2026

MONITOR, Jakarta - PT Jasa Marga (Persero) Tbk kembali meraih pengakuan nasional atas implementasi strategi komunikasi…

6 jam yang lalu

Alsintan Gerakan Ekonomi Desa, Kaum Muda Mulai Lirik Pertanian

MONITOR, Serang - Bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) dari Kementerian Pertanian tidak hanya mendorong…

6 jam yang lalu

Survei IPO: Prabowo Masih Pimpin Elektabilitas Capres, AHY Cawapres

MONITOR, Jakarta – Presiden Prabowo Subianto masih menjadi tokoh yang paling banyak dipilih masyarakat apabila…

7 jam yang lalu