BISNIS

Rakornas II KAHMI dorong Optimalisasi Potensi Agro-Maritim untuk Kemandirian Pangan dan Energi

MONITOR, Balikpapan – Sejumlah tokoh menghadiri Rapat Koordinasi Nasioanl II Korps Alumni Mahasiawa Islam (KAHMI) dengan tema “Mewujudkan Kemandirian Energi dan Pangan Bagi Kesejahteraan Rakyat” di Hotel Grand Sinyiur Balikapapan, Kalimantan Timur, Sabtu (31/8/2019).

Mereka yang hadir antara lain Bambang Brojonegoro (Menteri PPN/Kepala Bappnas), Amran Sulaeman (Menteri Pertanian), Hamdan Zoelva (Mantan Ketua MK), Rokhmin Dahuri (Guru Besar IPB), Ridwan Hisyam (DPR RI) dan lain-lain.

Menteri Pertanian (Mentan), Amran Sulaiman dalam kesempatan tersebut mengatakan strategi mewujudkan kemandirian pangan untuk Ibu Kota baru negara di Kalimantan Timur (Kaltim) tanpa harus disuplai dari negara lain alias impor adalah dengan pengembangan kawasan komoditas sebagai penyangga pangan melalui sistem klaster budidaya untuk masing-masing 10 kabupaten di Kaltim.

“Kata kuncinya kami membangun Kota baru yang mandiri pangan. Mimpi besar kami adalah menyiapkan pangan untuk penduduk di Ibu Kota baru, kita siapkan lebih awal. Nantinya di tahun 2024, kebutuhan pangan langsung dipenuhi sendiri dari masyarakat Kaltim, karena umur komoditas hortikultura 2 sampai 3 tahun sudah berbuah,” paparnya.

Amran optimistis ini terwujud karena Kaltim memiliki potensi yang sangat luar biasa, yakni lahan pertanian yang masih original dan luas dimana ada 10 kabupaten di Provinsi Kaltim yang dijadikan sebagai kawasan penyangga pangan sehingga ke depan Ibu Kota baru dipastikan mandiri pangan.

Kabupaten Berau dibangun menjadi sentra produksi jagung dan bawang merah, Kabupaten Bulungan dan Nunukan sebagai sentra padi, cabai dan bawang merah dan Malinau sebagai sentra produksi padi dan jagung. Selanjutnya, Kabupaten Tana Bumbu menjadi sentra produksi padi dan cabai, Tanah Laut sebagai sentra padi, jagung, cabai dan bawang merah, Kapuas Hulu sebagai sentra padi, cabai dan bawang merah, Ketapang sebagai sentra cabai, Kutai Barat sentra padi dan jagung dan Kabupaten Paser sentra padi, cabai dan bawang merah.

Amran menambahkan membangun klaster ini sejalan dengan gagasan besar Presiden Jokowi. Masing-masing kabupaten akan dibangun klaster -klaster komoditi pertanian yang dikoperasikan. Kemudian koperasi nantinya dikoorporasikan sehingga klaster tersebut menjadi kuat yang pengelolaannya dengan sistem teknologi yang tinggi, biaya murah, profitable dan pengolahannya tentu dari hulu ke hilir.

“Oleh karena itu, membangun Ibu Kota baru tanpa impor pangan sebab pangan dapat diproduksi masyarakat Kalimantan Timur sendiri,” terang Amran.

Sektor Agro-Maritim

Sementara itu, pakar kemaritiman yang juga guru besar fakultas perikanan dan ilmu kelautan IPB, Prof. Rokhmin Dahuri mengatakan Indonesia memiliki peluang sebagai negara maju dengan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkualitas termasuk dalam mewujudkan kemandirian pangan dan energi untuk kesejahteraan rakyat.

Peluang itu, lanjut ketua DPP PDIP Bidang Kelautan dan Perikanan karena Indonesia memiliki potensi ekonomi agro-maritim (pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, dan kelautan) belum optimal.

“Rendahnya aplikasi inovasi teknologi dan manajemen hampir di semua mata rantai Sistem Rantai Pasok (Supply Chain System), produksi – pasca panen – pemasaran, ekonomi agro-maritim membuat sektor tersebut tidak tergarap optimal,” ujarnya.

Dalam paparannya yang berjudul “Pembangunan Agro-Maritim Berbasis Industri 4.0 dan IMTAQ untuk Mewujudkan Kedaulatan Pangan, Meningkatkan Daya Saing dan Pertumbuhan Ekonomi Inklusif Secara Berkelanjutan Menuju Indonesia Raya (Emas) pada 2045”, Rokhmin mengkritisi kebijakan politik-ekonomi (seperti moneter, fiskal, intermediasi perbankan, RTRW, infrastruktur, ekspor – impor, R & D, dan iklim investasi) yang belum kondusif bagi kinerja sektor-sektor ekonomi agro-maritim. 

”Pendekatan pengelolaan pembangunan dan bisnis di sektor-sektor agro-maritim pun masih bersifat ego sektoral dan ego disiplin ilmu,” ujar Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) itu.

Rokhmin menawarkan konsep (peta jalan) pembangunan agro-maritim yang dapat meningkatkan produksi produk dan jasa melebihi kebutuhan nasional (national/domestic demand).

”Sehingga, Indonesia mampu mengkespor untuk meraih devisa dan membuat neraca perdgangan serta transaksi berjalan positif,” tendasnya.

Recent Posts

Kemnaker Mulai Siapkan Peta Jalan Tata Kelola PRT

MONITOR, Jakarta — Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) mulai menyiapkan peta jalan tata kelola Pekerja Rumah Tangga…

15 jam yang lalu

Kemenhaj Perketat Pengawasan Travel Umrah

MONITOR, Jakarta - Lonjakan kasus penipuan dan penggelapan dana perjalanan ibadah kembali menjadi sorotan serius seiring…

16 jam yang lalu

Kemenag Salurkan Rp65,2 Miliar Bantuan untuk Pemulihan Pesantren Terdampak Banjir Aceh

MONITOR, Jakarta - Kementerian Agama (Kemenag) telah menyalurkan bantuan senilai Rp65,2 miliar untuk mendukung pemulihan…

1 hari yang lalu

ICFA 2026: Rokhmin Dahuri dorong Transformasi Akuakultur Menuju Ekonomi Biru Berkelanjutan

MONITOR, MIRI, SARAWAK - Masa depan akuakultur global tidak cukup hanya diarahkan pada peningkatan produksi…

1 hari yang lalu

Komisi XI DPR Tagih Komitmen BI Dorong Lapangan Kerja dan Ekonomi Daerah

MONITOR, Jakarta - Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Marwan…

1 hari yang lalu

50 Persen Travel Umrah Tak Aktif, Kemenhaj Rombak Aturan dan Digitalisasi Perizinan

MONITOR, Jakarta — Tata kelola penyelenggaraan ibadah umrah di Tanah Air mendesak untuk dibenahi secara menyeluruh…

1 hari yang lalu