Oleh: Muhamad Dhofier*

Belajar haruslah dimaknai sebagai proses yang terus menerus. Tidak ada terminal untuk berhenti. Sejarah manusia yang selalu berkembang dari pola kehidupan yang sederhana hingga kompleks, dari tradisional sampai modern, dari manual ke digital merupakan produk kehendak manusia yang terus belajar.

Maka itu, belajar adalah usaha untuk menyejajari perubahan yang terus terjadi dari satu era ke era berikutnya. Satu di antara ciri perubahan itu adalah temuan-temuan baru yang mempermudah manusia dalam memenuhi kebutuhan.

Sebuah paradoks, satu sisi, adalah alamiah bahwa manusia senang dengan kemudahan. Sementara sisi lainnya, nikmatnya kemudahan dalam taraf tertentu bisa saja mematikan mental pembelajar seseorang.

Dalam dunia pendidikan, belajar menjadi kata kunci utama. Jika pendidikan kehilangan marwahnya, mental pembelajar yang notabene adalah naluri bawaan sejak lahir justru bisa redup. Ditambah, derasnya banjir pengetahuan yang gampang diakses hanya dengan sentuhan jari memungkinkan seseorang kehilangan bukan saja kemauan untuk belajar, juga pudarnya rasa kemanusiaan dirinya.

Pendidikan diperlukan sebagai upaya memampukan siswa menyandang kemampuan untuk menghadapai segala bentuk tantangan kehidupan di masa depan yang serba tak pasti.

Kompetensi abad 21

Menurut framework 21-st Century Education yang dikembangkan oleh World Economic Forum (WEF), ada empat kompetensi yang perlu dikembangkan dan semestinya melekat pada pelaksanaan pembelajaran.

Pertama, kemampuan melakukan komunikasi efektif baik secara lisan maupun tulis. Kedua, kreatifitas, kemampuan menghasilkan sudut pandang baru berdasarkan sejumlah informasi yang dihimpun atau kemampuan menciptakan temuan baru dalam berbagai bidang.

Ketiga, berpikir kritis, kompetensi yang menggambarkan kemampuan memberikan solusi yang tepat atas permasalahan dan tantangan yang dihadapi.

Keempat, kolaborasi, kemampuan menjalin sinergi dan kerjasama yang saling membangun dan memberdayakan dalam pola interaksi sosial sehari-hari.

Kompetensi-kompetensi macam itu yang harus diajarkan oleh sekolah kepada siswa-siswanya, supaya mampu menjawab derap perubahan yang melaju kencang.

Bagaimana Caranya

Sekolah harus mengawali itu. Ekosistem pendidikan yang baik haruslah tanggap dan berdamai dengan perkembangan yang mengiringi napas perubahan. Buatlah visi dan misi yang kritis, luwes dan mudah diterjemahkan oleh guru dan siswa. Bukan visi dan misi yang melambung, ditulis dengan tinta dogma yang kaku dan sakral.

Sekolah secara bersama-sama harus mempunyai dorongan kuat untuk mewujudkan pendidikan ramah anak, baik dalam hal pendekatan emosional maupun melatih nalar siswa agar mampu berpikir kritis. Pendidikan ramah anak bukanlah pendidikan yang memanjakan, tapi memerdekakan sekaligus memanusiakan.

Kendati dibangun di atas pondasi Pancadharmanya Ki Hajar Dewantara, kemerdekaan, kemanusiaan, kebudayaan, kebangsaan dan kodrat alam, sekolah tetap tak memiliki arti apa-apa tanpa guru pembelajar.

Siswa yang bermental pembelajar hanya akan mewujud jika di sampingnya adalah guru pembelajar. Yaitu guru yang mengerti apa yang dibutuhkan oleh siswanya, guru yang memahami apa yang akan dihadapi oleh anak didiknya di masa mendatang.

Momen Kemerdekaan

Kritik yang disampaikan oleh menteri keuangan, Sri Mulyani, beberapa waktu lalu, bahwa masih dibutuhkan waktu yang panjang untuk mengejar ketertinggalan kita dari negara-negara maju adalah teguran yang semestinya ditanggapi positif oleh dunia pendidikan.

Hasil tes PISA (2015) dan tes INAP (2018) yang menunjukkan rendahnya kemampuan matematika, sains dan membaca siswa kita, jadikanlah titik tolak perbaikan pendidikan yang harus dilakukan segera oleh pemerintah dan masyarakat sebagai tanggung jawab bersama.

Kelebihan penduduk usia produktif yang akan mencapai puncaknya di tahun 2030-2045 akan menjadi petaka besar sebagai beban negara, alih-alih berharap mendapatkan kebermanfaatannya sebagai bonus demografi.

Momentum peringatan HUT RI ke-74 adalah tepat jika kita memaknainya lebih dalam, yaitu sejatinya merdeka. Merdeka dari pemikiran yang sempit dan ego identitas yang kerap membelenggu langkah kita untuk maju.

Tak ada jalan lain selain membenahi pendidikan kita. Kata Nelson Mandela, “pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk merubah dunia”.

Kita perlu menengok kembali jejak-jejak Taman Siswa yang digagas oleh Ki Hajar Dewantara, misalnya dengan memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada sekolah membuat kurikulum yang khas sesuai visi dan misinya. Juga memperbaiki kualitas guru dengan melakukan pembinaan dan pelatihan berjenjang dan konsisten.

Penulis Adalah Pegiat literasi, pendiri TBM Sahabat Senja