BERITA

Indonesia Hari Ini Kapitalis Liberal, Ini Reaksi Ketua MPR

MONITOR, Jakarta – Ketua MPR Zulkifli Hasan menegaskan perlu adanya amademen terhadap Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 secara terbatas, terutama terhadap penyusunan kembali garis-garis besar haluan negara (GBHN).

Hal itu menanggapi pernyataan Ketua Umum Partai Nasdem Suyra Paloh bahwa Indonesia hari ini sudah menganut sistem kapitalis liberal.

“Ya makannya MPR sudah, MPR mengatakan perlunya amandemen terbatas haluan negara untuk haluan negara. Jadi, ada amandemen terbatas (terhadap) UUD 1945, tapi khusus untuk haluan negara,” kata Zulkifli kepada wartawan, di Komplek Parlemen, Senayan, Kamis (15/8).

“Haluan negara itu salah satunya ekonomi, dan sebagainya masuk ke situ. Filosofi ekonominya harus Pancasila,”lanjutnya.

Masih dikatakan pria yang akrab disapa Zulhas itu, amademen yang difokuskan pada penyusunan GBHN, sebagai wujud mensinkronkan kembali amanat konstitusi dengan apa yang terjadi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, termasuk terhadap nilai-nilai Pancasila.

“Nah memang sekarang ini kan para pengamat mengatakan, pakar, ada inkonsistensi Pancasila, UUD dengan yang terjadi. Gitu ya, ada inkonsistensi, jadi Pancasila bilang begini, yang terjadi sebaliknya, ada itu. Harus kita bunyikan,” sebut ketua umum DPP PAN.

Ia mengatakan bahwa amademen UUD 1945 bukan lagi soal setuju atau tidak, melainkan wacana ini sudah menjadi rekomendasi bagi MPR RI.

“Sudah jadi rekomendasi bukan setuju lagi. Sudah semuanya. Nanti bahan-bahan itu yang sudah jadi akan kita rekomendasi untuk MPR yang akan datang. Sudah nanti sidang terkahir nih masa jabatan periode ini, 27 September, itulah yang akan kita ketok palu menjadi rekomendasi untuk DPR periode yang akan datang, sehingga bisa maju sedikit dari yang lalu,” tukas dia.

Seperti diberitakan sebelumnya, Ketua Umum Partai NasDem, Surya Paloh menyebut Indonesia merupakan negara ini telah menganut sistem kapitalis yang liberal. Namun, Indonesia, malu untuk mengakuinya.

Negara ini, kata Surya, selalu mendeklarasikan diri sebagai negara Pancasila lantaran malu-malu kucing untuk mengakui bahwa sistem yang dianut sesungguhnya adalah kapitalis liberal.


”Kita ini malu-malu kucing untuk mendeklarasikan Indonesia hari ini adalah negara kapitalis, yang liberal, itulah Indonesia hari ini,” kata Surya dalam diskusi bertajuk Tantangan Bangsa Indonesia Kini dan Masa Depan di Universitas Indonesia, Salemba, Jakarta Pusat, Rabu (14/8).

Recent Posts

Muktamar NU Memanas; 9 Ulama Jadi Penentu, Hery Haryanto Azumi Berpeluang jadi Jalan Tengah

MONITOR, Jombang - Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama memasuki fase krusial. Konfigurasi kepemimpinan PBNU periode 2026–2031…

9 jam yang lalu

Kasus Yogi Mentawai: Ombudsman Dorong Negara Kedepankan Pembinaan

MONITOR, Jakarta - Ombudsman Republik Indonesia menaruh perhatian terhadap perkara Yogi Gilang Arya Setia, warga…

1 hari yang lalu

Kuasa Hukum UIN Jakarta: Penataan SIP Pamulang Bagian dari Pengamanan Aset Negara

MONITOR, Jakarta - Kuasa Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Alwanih, S.H., M.H., menegaskan penataan dan…

1 hari yang lalu

Jelang ESDP 2027, Kemnaker dan IM Japan Perkuat Kesiapan Peserta Pemagangan Indonesia

MONITOR, Tokyo – Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) bersama International Manpower Development Organization (IM Japan) membahas kesiapan…

2 hari yang lalu

Menteri UMKM Pastikan Banpres bagi UMKM Terdampak Bencana Sumatera Tepat Sasaran

MONITOR, Jakarta – Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman memastikan Bantuan Presiden…

2 hari yang lalu

Danantara Indonesia Tinjau Integrasi Tiga Pilar Layanan Jasa Marga untuk Tingkatkan Customer Experience

MONITOR, Jakarta - PT Jasa Marga (Persero) Tbk memperkuat integrasi tiga pilar layanan, yaitu layanan preservasi,…

2 hari yang lalu