Kementan: SDM Aspek Strategis Menghadapi Revolusi Industri 4.0

92

MONITOR, Bogor – Di tengah kemampuan bangsa Indonesia mencapai swasembada beras muncul harapan untuk mandiri dan berdaulat pangan bagi bangsa Indonesia. Dalam kurun waktu 3-4 tahun kebelakang banyak perkembangan yang signifinikan di sektor pertanian. Turunnya impor produk pertanian secara drastis serta banyaknya produk pangan Indonesia yang di ekspor menambah optimisme Indonesia untuk menjadi lumbung pangan dunia pada tahun 2045. 

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian (Kementan), Dedi Nursyamsi menyatakan untuk menuju lumbung pangan dunia kita harus membangun aktor, agen yang handal. Sebab tidak mungkin hanya mengandalkan petani yang ada saat ini dimana banyak dari mereka yang telah berusia lanjut, berpendidikan rendah dan tidak update akan perkembangan teknologi.

“Kita harus menumbuhkan petani dan enterpreneur dari generasi muda yang handal dan mampu bersaing,” demikiam papar Dedi dalam arahannya pada acara Focus Grup Discussion (FGD) Road Map Pengembangan Politeknik Kementerian Pertanian 2020-2045 di Bogor, Rabu (7/8/2019).

Perlu diketahui, setelah fokus pada pembangunan infrastruktur pada tahun 2014-2019, visi Indonesia tahun 2020 – 2024 adalah menjadikan pembangunan sumberdaya manusia sebagai prioritas utama. Sejalan dengan arahan Presiden Jokowi, Kementan terus mengembangkan aspek sumber daya manusia (SDM) untuk mencapai ketahanan pangan dan kesejahteraan petani. SDM merupakan aspek strategis dalam menghadapi revolusi industri 4.0. 

“Dalam kurun waktu 3 tahun ini Kementan telah memfokuskan membangun SDM yang handal melalui pendidikan vokasi. Transformasi 6 Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan, red) yakni Polbangtan Medan, Polbangtan Bogor, Polbangtan Yogya-Magelang, Polbangtan Malang, Polbangtan Gowa dan Polbangtan Manokwari tak hanya itu dalam waktu dekat ini Kementan akan membuka Politeknik Enjinering Pertanian Indonesia (PEPI, red) di Serpong,” jelas Dedi.

Lebih lanjut Dedi menjelaskan saat ini banyak lulusan perguruan tinggi baik jurusan pertanian maupun jurusan lainnya belum sesuai dengan yang apa dibutuhkan oleh dunia usaha dan dunia industri. Untuk itu pendidikan vokasi di bawah Kementan diharapkan mampu membentuk mahasiswa untuk menjadi wirausaha di bidang pertanian serta mampu untuk bersaing di dunia usaha dan dunia industri (DUDI).

“Di era 4.0 sektor pertanian pun menghadapi tantangan yang cukup besar. Kreatifitas, inovasi dan pengembangan di berbagai sektor baik dari hulu hingga hilir menjadi tanggung jawab generasi muda sebagai penerus pembangunan,” jelasnya.

Untuk itu, tegas Dedi, lulusan Polbangtan harus mampu menyesuaikan diri dengan dunia usaha. Kemudian mampu menjadi petani millenial yang handal, tahan banting, menguasai (Information and communications technology ) ICT serta memiliki jiwa enterpreneursip yang tinggi.

“Bila ini semua dapat diwujudkan maka target tahun 2045 Indonesia menjadi lumbung pangan dunia bukan hanya mimpi,” terangnya.

Oleh karena itu, Dedi mengharapkan masukan dari masukan, saran, kritik dari semua pihak dalam pengembangan Politeknik Kementerian Pertanian. Dengan demikian, akan tersusun road map baik dalam jangka pendek, menengah maupun jangka panjang dalam membangun sumber manusia peranian kedepan.

“Hingga pada akhirnya akan lahir calon-calon petani millenial handal dan memiliki jiwa enterpreneur tinggi yang mampu menjadi job seeker dan job creator,” pungkasnya.