Tinjau Kilang Terbesar Indonesia, Arcandra Puji Pertamina Realisasikan PLBC

1409
Wakil Menteri ESDM, Arcandra Tahar meninjau kilang PT Pertamina

MONITOR, Jakarta – Sektor energi merupakan sektor yang membutukan teknologi tinggi. Di sisi lain aspek komersial juga menjadi faktor utama agar keberlangsungan pengelolaan dan bisnis energi dapat berjalan. Hal ini diungkapkan oleh Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) usai melakukan peninjauan Proyek Langit Biru Cilacap (PLBC) di PT Pertamina (Persero) Refinery Unit (RU) IV Cilacap, Jawa Tengah.

“Satu komentar saya dari kunjungan ini, bisnis di energi tidak lepas dari teknologi dan komersial, kita harus memahami apa yang dibutuhkan oleh konsumen. Ini yang harus dipahami,” jelas Arcandra.

Untuk itu Arcandra mengapresiasi langkah Pertamina dalam merealisasikan PLBC sebagai bagian dari pemenuhan kebutuhan energi dengan standar internasional dan siap bersaing dengan kompetitor.

RU IV Cilacap merupakan kilang minyak terbesar di Indonesia dengan kapasitas 348 ribu barel per hari (bpd) atau sebesar 33% dari kapasitas kilang minyak yang dioperasikan PT Pertamina.

Kilang Cilacap tahap I beroperasi pada 1976 dengan kapasitas 118 ribu bpd, sementara kilang Cilacap II beroperasi pada tahun 1983 dengan kapasitas 230 ribu bpd. Minyak mentah yang diolah di kilang ini berasal dari domestik dan sebagian impor, dengan produk yang dihasilkan berupa Bahan Bakar Minyak (BBM) seperti Premium, Kerosene, Solar, Pertamax hingga Avtur. Selain BBM, kilang Cilacap juga memproduksi LPG, ashpalt, sulfur dan produk Petrokimia seperti Benzene dan Propylene.

Sementara, PLBC sendiri merupakan proyek peningkatan kualitas BBM dengan menghasilkan BBM setara EURO IV di Kilang RU IV Cilacap. Proyek ini dimulai sejak 26 November 2015 yang terdiri dari 2 unit proses, dengan 1 unit telah selesai pada bulan Mei 2019 dan 1 unit lainnya ditargetkan selesai pada bulan Juli 2019.

Proyek PLBC ini berkontribusi dalam meningkatkan produksi Pertamax sekitar 668.000 barel per bulan (dari 1 juta barel per bulan menjadi 1,7 juta barel per bulan), sehingga
meningkatkan pasokan BBM dalam negeri dan mengurangi impor gasoline atau High Octane Mogas Compone. Dengan demikian, terjadi peningkatan Gross Margin dari RU IV sebesar Rp 6,5 miliar per hari.

Investasi pembangunan PLBC sendiri mencapai US$ 392 Juta dan menyerap tenaga kerja selama proyek hingga 2.500 orang.

“Apresiasi kepada semua karyawan yang sudah menjaga fasilitas ini, bagus sekali. Ini Obyek Vital Nasional yang perlu kita juga, apalagi lebih dari 30% suplai BBM nasional dari kilang ini, artinya ini sangat penting sekali,” tegas Arcandra.

Selanjutnya, terkait pengembangan kapasitas sumber daya manusia, Arcandra berharap dilakukan berbagai pelatihan untuk memaksimalkan potensi peningkatan kompetensi pegawai.

“Dari sisi pengembangan sumber daya manusia, kalau bisa ada inhouse training, on the job training, coaching dan mentoring untuk pegawai yang baru,” pungkasnya.

Atas pencapaian ini, Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati mengucapkan terima kasih atas peran dan kerja sama RU IV Cilacap yang telah menjalankan tugas dengan baik.

“Kami mengapresisi kerja keras semua pihak yang terlibat dalam proyek PLBC ini sehingga dapat memberikan manfaat yang luar biasa untuk negara dan masyarakat,” ucap Nicke.

Sebagaimana diketahui, kedepan RU IV Cilacap akan menyelesaikan proyek Refinery Development Master Plan (RDMP), sehingga kapasitas pengolahan kilang akan meningkat dari sebelumnya 348 juta bpd menjadi 370 bpd. Selain itu juga akan terjadi peningkatan produksi gasoline dari 59 ribu bpd menjadi 138 ribu bpd dan produksi diesel dari 82 ribu bpd menjadi 137 ribu bpd.