TTIC Kementan direplikasi di Daerah untuk Stabilisasi Harga Pangan

16
Mobil TTIC Kementan

MONITOR, Jakarta – Kiprah Toko Tani Indonesia Centre (TTIC) yang dikembangkan Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementerian Pertanian (Kementan) dalam penyediaan stok bahan pangan strategis dan stabilisasi harga pangan telah banyak diapresiasi berbagai pihak.

Sejak tahun 2017, Badan Ketahanan Pangan telah menginisiasi berdirinya TTIC di setiap Provinsi. Saat ini hampir seluruh provinsi sudah terbangun TTIC, kecuali Kepri dan Kaltara dengan berbagai variasi kinerja di masing-masing provinsi. Tahun 2020, diharapkan semua provinsi sudah memiliki TTIC.

Dalam mengoptimalkan kinerja TTIC di masing-masing provinsi, seluruh Dinas yang menangai ketahanan pangan provinsi se Indonesia, mengadakan kunjungan ke TTIC Pasar Minggu Jakarta, Kamis (20/6/2019).

“Kami sangat menghargai teman-teman dari Dinas provinsi yang akan mereplikasi TTIC di daerahnya. Dengan adanya TTIC di setiap daerah, kami harapkan stok pangan didaerah juga akan selalu terjaga dan harganya stabil. Ini sangat penting,” ujar Kepala BKP Agung Hendriadi. 

Kunjungan yang dilakukan oleh Dinas yang menangani ketahanan pangan provinsi ke TTIC Pasar Minggu Jakarta merupakan rangkaian dari pertemuan koordinasi kegiatan Pengembangan Usaha Pangan Masyarakat (PUPM) atau yang lebih dikenal dengan Toko Tani Indonesia (TTI). 

Menurut Kepala Pusat Distribusi dan Cadangan Pangan Risfaheri, peran TTIC sebagai pengendali harga pangan dari hari ke hari semakin dirasakan oleh masyarakat. “Keberadaan TTIC ini sangat strategis dan menjadi landasan bagi daerah untuk melakukan replikasi kegiatan di masing-masing provinsi,” ujar Risfaheri.

Kepala Bidang Distribusi Pangan, BKP,  Inti Pertiwi saat menerima rombongan Dinas Ketahanan Pangan menjelaskan,  bahwa TTIC memiliki peran yang sentral dalam stabilisasi pasokan dan harga pangan. 

TTIC Pasar Minggu Jakarta yang dibangun sejak tahun 2016 ini, tidak hanya sebagai distribution center yang melayani pasokan ke masing-masing TTI, tetapi juga sebagai information center dan business inteligent dalam hal basis data dan  menjawab tantangan di era digital dengan menggunakan e-commerce, “ujar Inti dalam penjelasannya. 

Lebih lanjut ditambahkan “kunjungan ini bertujuan sebagai studi banding agar TTIC di provinsi dapat lebih baik dalam hal  pengelolaan pasokan, stok, penanganan  komoditas,  dan  distribusi ke TTI serta masyarakat,” ujarnya.

“Study banding ini sangat bagus bagi kami, karena merupakan contoh dan memotivasi agar di tempat kami dapat mendirikan TTIC seperti TTIC Pasar Minggu Jakarta, sehingga nantinya keberadaan TTIC di provinsi dapat menjaga stabilisasi pasokan dan harga pangan strategis dapat tercapai sepanjang waktu” ungkap Kepala Bidang Distribusi dan Cadangan Pangan, Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Papua, Lunanka. V. Daimboa.

Dalam kesempatan tersebut hadir pula perwakilan dari vendor TTIC Yaitu: asosiasi PUPM Jabar, Gapoktan Wargi Panggupay,  dan BPD AGRO yang menyampaikan tips dan trik dalam memasok bahan pangan dengan harga yang murah.

Harga dibawah pasar yang menjadi moto dan selalu digaungkan TTIC selama ini, diharapkan akan memberikan multiplier effect bagi TTIC provinsi sebagai sarana atau wadah Gapoktan/produsen/ supplier untuk memasarkan beras, cabai merah, bawang merah, bawang putih, daging ayam, daging sapi, telur ayam, gula pasir, dan minyak goreng. Disisi lain, TTIC memberikan jaminan pasar bagi Gapoktan/produsen/ supplier dan memberikan kemudahan aksesbilitas bagi konsumen dengan cara memangkas mata rantai distribusi pangan; TTIC sebagai Distribution Centre; dan TTIC dapat melakukan Operasi Pasar (OP) sebagai upaya pengendalian harga agar sesuai dengan yang ditetapkan pemerintah atau lebih rendah daripada harga pasar.

Hadir dalam studi banding di TTIC ini antara lain: perwakilan vendor TTIC, Asosiasi PUPM Jabar, Gapoktan wargi Panggupay,  BPD AGRO,  dan dinas yang menangani Ketahanan Pangan se-Indonesia.