MONITOR, Jakarta – Partai Demokrat yang dipimpin Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) kembali diterpa prahara yakni para pendiri mendesak digelarnya Kongres Luar Biasa (KLB). Hal tersebut dilakukan, disaat partai ini merapat ke koalisi Jokowi.
Direktur Eksekutif Political and Public Policy Studies, Jerry Massie, menduga isu KLB yang digagas Gerakan Moral Penyelamatan Partai Demokrat (GMPPD), tak lain ingin menggoyang kepemimpinan SBY.
“Setidaknya, desakan ini bisa jadi dalam internal terbelah dua. Tapi sayangnya banyak DPD/DPC yang menolak. Saya nilai agenda ini belum terlalu tepat,” ujar Jerry dalam keterangan tertulisnya yang diterima MONITOR, Selasa (18/6).
Jerry menilai rencana pengadaan KLB adalah kurang etis, apalagi alasan utama yang mendasari adalah turunya suara Demokrat yang kini tinggal 7,7 persen serta sejumlah kader yang kerap bikin gaduh partai.
“Namun tak etis, SBY masih dirundung duka dengan kepergian sang istri tercinta tiba-tiba KLB menyeruak ke publik,” tuturnya.
Dengan berhembusnya KLB, Jerry memastikan kondisi internal partai Demokrat sesungguhnya tak kompak lagi. Sehingga, SBY perlu mengumpulkan para pendiri partai untuk mencari jalan keluar.
“Karena semua problem partai bisa diatasi denga jalan komunikasi dua arah. Saya nilai komunikasi agak lemah jadi para pendiri mau ada penyegara di partai tersebut,” terangnya.
