Dinilai Efektif, Kementan Gencar Lakukan Program Tumpangsari

197
Perkebunan Jagung Hasil Program Tumpangsari

MONITOR, Jakarta – Salah satu tantangan pertanian saat ini adalah adanya alih fungsi lahan pertanian ke non pertanian. Akan tetapi, pemerintah harus tetap mencari solusi atas tantangan tersebut, dan salah satunya adalah melalui program Tumpangsari Tanaman.

Ya, tumpangsari adalah bentuk pola tanam yang membudidayakan lebih dari satu jenis tanaman dalam satuan waktu tertentu dengan tujuan untuk memperoleh hasil produksi yang optimal, dan menjaga kesuburan tanah.

Kasubdit Jagung dan Serealia Lainnya, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementan, Andi Saleh mengatakan pola tumpangsari merupakan salah satu cara untuk meningkatkan efisiensi lahan karena dapat mengoptimalkan pemanfaatan cahaya, air dan hara, mengontrol gulma, hama dan penyakit, serta merupakan jalur menuju pertanian yang berkelanjutan.

Selain itu, sistem tanam tumpangsari antar komoditas tanaman pangan telah banyak dipraktikkan oleh petani. Bila komposisi tanaman dan jarak tanam ditata dengan tepat maka hasil dari kombinasi tanaman per satuan luas lebih tinggi dari sistem monokultur.

“Hal ini dapat menjadi solusi dan terobosan dalam pencapaian swasembada pangan. Pola tanam tumpang sari juga meningkatkan intensitas penggunaan lahan, dimana intensitas penggunaan lahan yang tinggi berdanpak positif terhadap peningkatan pendapatan petani,” katanya.

Andi menuturkan, berdasarkan manfaat dan keunggulan sistem tanam tumpang sari untuk peningkatan pendapatan petani dan pencapaian swasembada pangan nasional inilah Kementan mulai melaksanakan kegiatan pengembangan sistem tanam tumpang sari padi jagung secara nasional.

“Tahun ini, sistem tanam tumpang sari padi jagung dilaksanakan pada target areal seluas 350.000 ha dari keseluruhan alokasi tumpang sari padi jagung kedelai seluas 1.050.000 ha dengan komponen bantuan kegiatan tumpang sari padi jagung berupa bantuan benih yang terdiri dari benih,” imbuhnya.

Paket bantuan yang diberikan ini nantinya hanya bersifat stimulan, artinya apabila bantuan yang tersedia tidak mencukupi untuk menyediakan paket teknologi yang direkomendasikan Badan Litbang Kementan atau instansi lainnya, maka tambahan anggaran dapat didukung dari anggaran APBD Provinsi, APBD Kabupaten/Kota dan atau swadaya.

Andi menambahkan bahwa penggunaan lahan kegiatan tumpangsari dengan jarak rapat pada luasan yang seimbang (sama luas) antara komoditas padi jagung sehingga produktivitas tinggi dapat tercapai. Jarak tanam yang digunakan padi gogo adalah 20 cm (antar barisan) x 10 cm (dalam barisan), sedangkan jarak tanam jagung 40 cm (antar barisan) x 15 cm (dalam barisan). Jarak antara blok padi atau jagung 40 cm dengan memperhitungkan jumlah populasi tanaman dalam satu hektar. Populasi tanaman per hektar pada sistem tumpang sari ini menggunakan populasi rapat, dengan jumlah populasi kurang lebih 200.000 rumpun/ha untuk padi dan 80.000 batang/ha untuk jagung.

“Terkait dengan waktu tanamnya, sistem tumpang sari berhubungan dengan pertumbuhan vegetatif, pertumbuhan vegetatif yang lebih cepat dan dominan menguasai ruang maka akan lebih mampu berkompetisi dalam memperebutkan air, unsur hara, dan cahaya dibandingkan dengan pertumbuhan vegetatif yang lambat, dan akhirnya akan memengaruhi produksi. Waktu tanam pada kegiatan tumpang sari adalah padi gogo dilakukan lebih awal dengan selang waktu tiga minggu sebelum penanaman jagung,”tambah Andi

“Apabila pola tumpangsari ini kita kelola dengan baik, saya yakin kita akan mampu menjaga ketahanan pangan nasional,”pungkas Andi