Pengamat: Multaqo Ulama Tidak Lepas Dari Ijtima’ Ulama III

Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR), Ujang Komarudin (dok. MONITOR)

MONITOR, Jakarta – Pengamat Politik Ujang Komaruddin menilai rekomendasi Multaqo ulama dapat mencegah bangsa Indonesia dari perpecahan.

Rekomendasi yang dikeluarkan dalam multaqo dapat mendinginkan situasi politik.

“(Rekomendasi Multaqo) Sangat rasional dan sangat wajar, istimewa, sudah sangat jelas rekam jejaknya,” kata Ujang Komaruddin kepada wartawan, Minggu (5/5).

Menurut dia, rekomendasi yang dikeluarkan dalam Multaqo merupakan rekomendasi umum dan tidak berbenturan dengan rekomendasi yang dikeluarkan oleh sejumlah ulama lain dalam Ijtimak Ulama III.

“Kalau Multaqo rekomendasinya umum, itu kan respon dari ijtimak ulama, itu ya harus umum kalau menabrak atau berhadap-hadapan dengan ijtimak ulama ini berbahaya oleh karena itu rekomendasinya umum misalnya menjaga persatuan, solidaritas, persaudaraan itu lebih penting,” sebut dia.

Dikatakan Ujang, selama ini rekomendasi ijtima’ ulama itu ditafsirkan sejumlah masyarakat sarat dengan kepentingan politik dan dinilai oleh sebagian masyarakat dapat memecah belah.

Seandainya yang menang adalah kubu 01, sambung dia, lalu ada rekomendasi ijtima’ ulama yang dikeluarkan yakni mendiskualifikasi, hal itu akan memicu kegaduhan dan berbahaya.

Potensi perpecahan itulah, menurut Ujang kemudian direspons oleh ulama yang berkumpul dalam Multaqo.

“Saya mengatakan tidak ada asap kalau tidak ada api kan. Jadi kita harus objektif dan terbuka saja menilai ini dan masyarakat Indonesia juga tahu bahwa Multaqo itu adalah respon dari rekomendasi ijtimak ulama,” ucap Ujang.

Ia menambahkan, hal yang terpenting dalam menyikapi Pemilu 2019 adalah menjaga persatuan bangsa.

“Masyarakat sudah cerdas ya. justru kita fokus saja ini Ramadhan pengumuman itu kan dilaksanakan pada bulan Ramadhan 22 Mei. artinya kita Hablum Minallah menjalankan ibadah puasa lalu Hablum minannas yakni berhubungan baik dengan sesama manusia, jadi harus baik juga 01 harus baik ke 02,” pungkas Ujang.

Diberitakan sebelumnya, sejumlah ulama menggelar Multaqo Ulama, di Hotel Kartika Chandra, Jakarta, Jumat (3/5/2019), dan mengeluarkan delapan rekomendasi. Ulama yang hadir dalam Multaqo itu yakni, Ketum PBNU Said Aqil Siradj, KH Maimoen Zubair, Habib Luthfi Bin Yahya, Imam Besar Masjid Istiqlal Nazaruddin Umar, dan Ketua Umum Patriot Garuda Nusantara (PGN) Nuril Arifin Husein alias Gus Nuril.

Sejumlah rekomendasi Multaqo itu diantaranya, menegaskan kembali kesepakatan pendiri bangsa dan Alim Ulama bahwa bentuk bangunan yang sejalan dengan Islam di bumi Indonesia adalah NKRI adalah bentuk negara yang sesuai dengan islam yang rahmatan lil alamin di indonesia, dan pancasila adalah dasar negara dan falsafah bangsa.

Kemudian, ulama mengimbau umat Islam untuk bersama-sama mewujudkan stabilitas keamanan dan situasi kondusif, mengedepankan persamaan sebagai umat manusia yang saling bersaudara satu sama lain. Daripada menonjolkan perbedaan yang kontraproduktif selama dan sesudah ramadhan sehingga mampu menjalankan ibadah secara khusyu dan penuh berkah.

Umat juga diajak untuk menghindari dan menangkal aksi provokasi dan kekerasan dari pihak yang tidak bertanggunjwab selama dan setelah bulan suci ramadan, selain mengganggu, dapat juga menghilangkan pahala puasa di bulan ramadan.