Kutuk Aksi Biadab Pembantaian Muslim di New Zealand, IPTI Desak Pelaku Dihukum Berat

Bendera Ikatan Pemuda Tarbiyah Islamiyah (IPTI).

MONITOR, Jakarta – Pembantaian umat muslim di New Zealand, Selandia Baru, mengundang rasa prihatin seluruh umat muslim di dunia tak terkecuali di Indonesia.

Semua umat muslim di Indonesia mengutuk aksi biadab tersebut. Seperti diungkapkan oleh keluarga besar Ikatan Pemuda Tarbiyah Islamiyah (IPTI).

“Kami keluarga besar IPTI turun berduka atas peristiwa yang terjadi di New Zealand. Kami pun mengutuk keras aksi biadab teroris yang secara membabi buta menyerang saudara-saudara muslim kami disana,” tegas Ketua Umum Keluarga IPTI Muhammad Guntur kepada MONITOR.

Tak hanya sekedar mengutuk, keluarga besar IPTI pun meminta dan mendesak pemerintah New Zealand bisa memgusut dan menyelesaikan kasus pembantaian umat muslim di wilayahnya dengan cepat.

“Pemerintah New Zealand harus menghukum para pelaku seberat-beratnya. Karena apa yang dilakukan para pelaku teroris ini benar-benar tak berkemanusiaan,”tandas Guntur.

Namun demikian, kata Guntur, umat Islam di dunia khususnya di Indonesia harus bersabar jangan sampai terpancing dengan apa yang sudah terjadi terhadap saudara muslim kita  di New Zealand tersebut.

“Umat muslim di Indonesia pokoknya jangan sampai terpancing untuk melakukan kegitan apapun,”ungkapnya.

Guntur pun mengatakan, kalau saat ini pemerintah Indonesia sedang melakukan komunikasi untuk melakukan perlindungan kepada warga negara Indonesia yang ada di New Zealand.

“Kami keluarga besar IPTI senantiasa berdoa agar semua korban dapat beristirahat dengan tenang disisi Allah SWT,”pungkasnya.

Seperti diketahui, aksi penembakan biadab terjadi di masjid di Kota Christchurch, New Zealand Selandia Baru, Jumat (15/3). Pada video yang beredar, pelaku teror menembak secara brutal para jamaah yang sedang beribadah.

Dalam insiden ini, dilaporkan sebanyak 49 orang lebih tewas dibunuh.

Menteri Luar Negeri RI, Retno Marsudi, mengatakan sebanyak enam warga Indonesia berada di Masjid Al Noor ketika penembakan berlangsung.