PERTANIAN

Peluang Ekspor Hortikultura ke Pasar Amerika Hingga Jepang Terbuka Lebar

MONITOR, Denpasar – Peluang ekspor sayur dan buah masih sangat terbuka untuk mengisi pasar Amerika, Uni Eropa – Afrika, sampai ke wilayah Asia Pasifik. Hal ini terungkap dalam pemaparan “Sinkronisasi Program dan Evaluasi Kinerja Atase Pertanian”. Pertemuan ini menghadirkan Atase Pertanian untuk Brussel, Jepang, Amerika Serikat dan Roma.

Sebagai ujung tombak kebijakan pertanian Indonesia, Atase Pertanian harus mampu memobilisasi dan menarik investasi, fasilitasi akses pasar, pendampingan dalam penerapan kebijakan, dan memperkuat kerjasama dengan pihak terkait. Tugas ini meliputi pembuatan model inovasi pertanian, promosi komoditas ekspor dan menekan impor, diplomasi kebijakan pertanian, dan membuka pasar ekspor non tradisional.

Atase Pertanian bersama dengan Atase Perdagangan dan perwakilan lembaga lainnya bahu membahu untuk menunjukkan eksistensi Indonesia di mata internasional.

Atase Pertanian juga bertugas untuk melihat peluang investasi, memetakan akses pasar, mempelajari kebijakan negara tempat bertugas, mengenali hambatan dan peluang pasar di wilayah kerja mereka.

Wahida, Atase Pertanian Brussel menekankan pentingnya precision farming dan post harvest handling seperti yang diterapkan negara Uni Eropa. “Food Safety juga menjadi persyaratan mutlak bagi pasar sana. Hal ini harus diperhatikan eksportir Indonesia agar bisa menembus pasar Eropa,” katanya.

Sementara itu penerapan standar higinitas produk, performa komoditas, keseragaman, pengemasan dan label jadi hal penting bagi pasar Jepang. “Buah pisang, nanas, mangga, pepaya banyak diisi oleh negara Filipina, Ekuador dan baru-baru ini Peru. Produk horti dari Indonesia masih sangat kecil,” papar Yanti, Atase Pertanian Jepang.

Pasar hortikultura juga terbuka lebar di Amerika Serikat khususnya komoditas nanas, pisang, alpukat serta rempah-rempah. “Saya telah banyak berkoordinasi dengan importir di USA dan mereka siap memasarkan produk kita” ujar Heri, Atase Pertanian Amerika Serikat.

Meskipun diakui bahwa komoditas hortikultura nasional memiliki banyak keunggulan dan disukai pasar luar negeri karena memiliki taste spesifik, namun tentu saja tidak mudah untuk menembus pasar dunia. Beberapa kendala yang kerap ditemukan antara lain kontinuitas produk, masalah organisme pengganggu tumbuhan (OPT) dan logistik yang cukup mahal.

Selain itu ada ketentuan mengharuskan beberapa produk harus melalui negara lain sebelum ke negara tujuan. Seperti halnya salak, ketidaksiapan petani untuk kualitas produk, kurangnya pemahaman terkait Sanitary and Ptytosanitary serta tidak terpantaunya adanya perubahan kebijakan yang diterapkan negara tujuan ekspor. Ini membutuhkan pemahaman terus menerus guna mempersiapkan suatu produk siap ekspor.

Kepala Biro Kerjasama Luar Negeri Kementerian Pertanian, Ade Chandra Dijaya menyampaikan bahwa peluang ekspor terbuka lebar. “Kita perlu membenahi kualitas, kuantitas dan kontinuitas produk kita sehingga punya daya saing. Selain untuk ekspor, produk lokal harusnya jadi tuan rumah di negara sendiri,” tegasnya.

Ade yakin, masuknya manggis ke China menjadi peluang besar melebarkan sayap ke beberapa negara lain. “China mampu menyerap manggis cukup besar, pasar Korea yang belum tergarap maksimal. Pasar Timur Tengah yang lebih banyak diisi oleh kompetitor Indonesia seperti Thailand, Malaysia dan Vietnam menjadi tantangan ke depan”.

Dirinya menambahkan bahwa saat ini sedang diusulkan Atase Pertanian untuk China dan Afrika. Diharapkan dengan justifikasi yang kuat dapat terwujud.

Selama acara berlangsung, turut dipamerkan produk pertanian segar dan olahan yang sudah menembus pasar ekspor diantaranya sayuran daun (selada, bit, edamame) untuk pasar Jepang, Java Bite-Sweet Dried Fruit yang berbahan dasar mangga lokal, kopi buleleng yang memiliki IG (Indikasi Geografis), coklat dan CPO.

Recent Posts

Kawendra Dorong HKTI Kawal Aspirasi Petani, Bantuan Ayam Petelur dan 20 Etalase Disalurkan di Lumajang

MONITOR, Lumajang - Anggota DPR RI Kawendra Lukistian mendorong Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kabupaten…

11 jam yang lalu

HKTI Lumajang Dorong Hilirisasi Pertanian, PAC di 21 Kecamatan Diminta Dampingi Petani

MONITOR, Lumajang - Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kabupaten Lumajang mendorong percepatan hilirisasi produk pertanian…

1 hari yang lalu

MUI Desak Penegakan Hukum Tegas terhadap Pelaku Karhutla, Serukan Salat Istisqa dan Qunut Nazilah

MONITOR, Jakarta - Majelis Ulama Indonesia (MUI) mendesak aparat penegak hukum bertindak tegas terhadap pelaku…

1 hari yang lalu

Jasa Marga Fasilitasi Lima UMKM Binaan di Trade Expo Indonesia 2026

MONITOR, Jakarta - PT Jasa Marga (Persero) Tbk terus mendorong kemandirian dan daya saing Usaha…

1 hari yang lalu

HUT ke-11 KCIC, Wamenaker Harap Alih Pengetahuan Whoosh ke SDM Lokal

MONITOR, Jakarta — Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker) Afriansyah menghadiri perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-11…

1 hari yang lalu

Jasa Marga Raih Dua Penghargaan dalam Ajang The 17th IICD Corporate Governance Award 2026

MONITOR, Jakarta - PT Jasa Marga (Persero) Tbk kembali menorehkan prestasi dengan meraih dua penghargaan…

1 hari yang lalu