Manggis Wanayasa, Langganan Ekspor Asal Purwakarta

Manggis wanayasa yang di Produksi di Purwakarta

MONITOR, Purwakarta – Berbicara manggis, Kabupaten Purwakarta merupakan salah satu sentra produksi manggis nasional di Indonesia. Lima kecamatan sentra produksi di Kabupaten Purwakarta terdapat di Wanayasa, Kiarapedes, Bojong, Darangdan dan Pondoksalam. Total luas areal pertanaman manggis sebesar 1.540,4 hektare dengan jumlah populasi sekitar 154.043 pohon.

Manggis Purwakarta dikenal sebagai manggis varietas unggul Wanayasa berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 571/Kpts/SR.120/9/2006 tanggal 25 September 2006. “Karakteristiknya berbentuk bulat, warna kulit merah keunguan, mudah dibuka, daging halus tidak berserat dan rasa manis asam. Kadar kandungan gula rata-rata 17,75o Brix,” ujar Agus Suherlan, Kepala Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Purwakarta.

Tingkat produksi manggis di Kabupaten Purwakarta cukup berfluktuasi, yaitu pada semester ketiga 2018 mencapai 36.182 kuintal. Volume total produksi 2018 lebih tinggi sebesar 32.506 kuintal dibanding 2017. Produksi tertinggi pernah dicapai pada 2015 yaitu sebesar 49.166 kuintal.

Widget Situasi Terkini COVID-19

“Dengan adanya pengetatan ketentuan SPS, manggis kualitas layak ekspor milik kelompok tani sudah mulai dapat bermitra dengan eksportir. Sedangkan manggis dengan kualitas tidak layak ekspor akan dipasarkan ke Pasar Induk Cikopo, Purwakarta”, tambah Agus.

Adis Budiana, petani Desa Babakan Kecamatan Winayasa memiliki kebun manggis teregistrasi seluas 4,2 hektare. Rata-rata per pohon miliknya menghasilkan 200 kilogram, sehingga dapat menghasilkan produksi buah di kebun sebanyak 84 ton. Untuk asumsi harga Rp 12 ribu per kilogram, maka diperoleh penjualan sebesar 1 miliar rupiah lebih dalam satu musim panen. “Alhamdulillah, cukup untuk membiayai sekolah dan menikahkan anak-anak”, ujarnya berbinar-binar.

Manggis Wanayasa

Agus menyampaikan dengan dibukanya kembali ekspor ke Tiongkok memberikan peluang baik untuk petani. Petani menjadi memiliki pasar yang lebih luas dengan harga yang pantas. Penataan pasar (tata niaga perdagangan) buah manggis dan peluang kemitraan petani dengan eksportir pun terbuka lebih luas.

“Saat ini kami sedang gencarnya sosialisasi kepada kelompok tani, pengumpul dan pengusaha manggis. Khususnya dalam upaya pembinaan budidaya dan pasca panen. Melalui sistem jaminan mutu produk mulai dari SOP (Standard Operational Procedure), GAP (Good Agricultural Practices), GHP (Good Handling Practices), pengendalian hama terpadu, registrasi kebun, registrasi rumah kemas (packing house) dan sertifikasi keamanan pangan segar (prima 1, 2 dan 3)”, lanjut Agus.

Upaya yang dilakukan agar manggis memiliki kualitas memenuhi ketentuan SPS. Harapannya, kehadiran para eksportir akan meningkatkan taraf kesejahteraan agen tata niaga. Tidak hanya itu, dengan pemberian harga yang layak dan akan meningkatkan taraf kesejahteraan petani.

Dinas pertanian kabupaten Purwakarta sendiri telah memfasilitasi intensifikasi, ekstensifikasi dan penanganan pasca panen untuk peningkatan produksi dan mutu buah melalui enam hal, terdiri dari penyaluran bibit bantuan pemerintah serta penyaluran pupuk bantuan pemerintah dan pupuk bersubsidi. Selanjutnya pengamanan produksi untuk mengurangi dampak perubahan iklim dan menekan perkembangan OPT (Hama dan penyakit tanaman). Penanganan panen dan pasca panen dengan memanfaatkan (rumah pengumpulan hasil panen, alat panen, alat pengemasan, keranjang) menjadi poin penting. Selanjutnya kelembagaan dan pembiayaan melalui fasilitasi penguatan kelembagaan penyuluhan, Pos Penyuluhan Desa, Jarkomluhdes, pembiayaan (KUR/KKP), serta kemitraan. Jaminan mutu dan dokumen sistem mutu buah manggis melalui Registrasi kebun dan registrasi rumah pengemasan, serta sertifikasi keamanan pangan. Serta yang terpenting adalah pemantauan harga dan pemanfaatan informasi harga.

Menurut Agus saat ini Kabupaten Purwakarta memiliki tiga packing house teregistrasi, terdiri dari PT. Bintang Kiat Kemuliaan (telah teregistrasi dan terdaftar di Tiongkok), PT. Andalas Fiddini Agrotama (telah teregistrasi di OKKP-P (Des-2018) dan masih dalam proses pendaftaran izin ekspor ke Tiongkok) dan PT. Agro Berlian Nusantara (sedang mengajukan registrasi Packing House di OKKP-P).

Direktur Buah dan Florikultura, Sarwo Edhy sangat mengapresiasi prestasi dan perkembangan manggis di Kabupaten Purwakarta. “Harapan saya pertanaman dan penanganan pascapanen manggis mengacu kepada kaidah GAP/SOP sehingga bisa menghasilkan buah bemutu”, lanjut Sarwo menutup pembicaraan.