Curah Hujan Tinggi, Warga DKI Diminta Waspada DBD

1012
Ilustrasi kawasan kumuh ibukota

MONITOR, Jakarta – Meningkatnya curah hujan di Ibukota membuat kewaspadaan berbagai pihak akan perkembangan populasi nyamuk aedes aegypti perlu ditingkatkan.

Ya, nyamuk aedes aegepti harus ditekan perkembang biakannya lantaran nyamuk tersebut mampu membawa virus dengue si penyebab penyakit demam berdarah (DBD). Bahkan mampu membawa virus lain penyebab penyakit chikungunya, demam kuning dan zika.

Untuk DKI Jakarta, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta Widyastuti mengatakan, pihaknya melakukan segala tindakan guna menekan penyebaran virus DBD. Namun, ia juga mengimbau agar masyarakat turut berperan aktif dalam melakukan tindakan pencegahan.

“Kami harap warga juga ikut berpartisipasi aktif melakukan PSN agar lingkungan bebas dari jentik nyamuk. Untuk mencegah wabah DBD, warga bisa menguras tampungan air dan memelihara tanaman yang efektif mengusir nyamuk. Atau membuat lavitrap atau perangkap untuk mencegah nyamuk berkembang biak,” ujarnya di Jakarta, Senin (21/1).

Widyastuti juga menyerukan warga agar segera memeriksakan diri ke puskesmas maupun rumah sakit jika mengalami demam tinggi lima hingga tujuh hari. “Kami sudah imbau rumah sakit dan puskesmas untuk menyiapkan SDM dan sarana penunjang,” ucapnya.

Sekedar informasi, gejala DBD biasanya diawali dengan demam, nyeri otot dan sendi, terdapat bintik/ruam merah di kulit disertai mual dan nyeri ulu hati; pada kasus yang parah dapat terjadi pendarahan dan syok yang membahayakan nyawa.

Kasus DBD di DKI Jakarta dari Januari hingga 31 Desember 2018 tercatat 2.947 kasus DBD (Insidence Rate/IR = 28,15/100.000 penduduk) dengan 2 (dua) kematian (Case Fatality Rate/CFR= 0,07 persen).

Pada 2018 diketahui wilayah yang memiliki IR tertinggi di Jakarta adalah Kepulauan Seribu, yakni 41,4/100.000 penduduk, disusul Jakarta Barat sebesar 37,0/100.000 penduduk.

Pada tahun 2017 dilaporkan 3.362 kasus dengan IR sebesar 32,41/100.000 penduduk dan 1 (satu) kematian (CFR= 0,03 persen). Kemudian pada tahun 2016 tercatat 20.432 dengan dengan IR 198,80/100.000 penduduk dan 14 kematian (CFR= 0,07 persen).