Investasi Peer-to-Peer Lending untuk Petani Kecil melalui Fintech

1116
Foto: Istimewa

MONITOR, Jakarta – Fintech pada umumnya dilakukan oleh perusahaan rintisan (startup) dengan memanfaatkan software, internet, komunikasi dan komputasi terkini. Proses bisnis Fintech terdiri dari beberapa jenis, di antaranya pembayaran, investasi, pembiayaan, asuransi, lintas-proses dan infrastruktur. Nilai transaksi Fintech di Indonesia pada tahun 2017 sebesar US$15,022, di mana sektor investasi berperan di dalamnya sebanyak 17% (Riset Statista, 2017 & Fintech News Singapore, 2016).

Peer-to-Peer le(nding (P2P lending) merupakan metode pendanaan/pembiayaan yang memungkinkan seseorang menerima atau memberikan pinjaman tanpa melalui institusi perbankan. P2P lending umumnya dilakukan secara online, di mana perusahaan P2P lending menyediakan platform teknologi yang terintegrasi secara digital. Masyarakat yang memiliki sejumlah modal dapat menyalurkannya dalam bentuk investasi kepada peminjam.

P2P lending dapat menghubungkan peminjam dengan investor secara lebih cepat dan lebih murah dibandingkan perbankan konvensional. Beberapa P2P lending Indonesia berbasis investasi di bidang pertanian yang telah terdaftar dan diawasi OJK diantaranya : iGrow (dikelola oleh PT iGrow Resources Indonesia), TaniFund dan CROWDE (dikelola oleh PT Crowde Membangun Bangsa).

iGrow
iGrow adalah sebuah platform yang membantu petani lokal. Lahan yang belum optimal diberdayakan dan para investor untuk menghasilkan produk pertanian organik berkualitas tinggi.

iGrow menghubungkan petani, pemilik tanah, investor penanaman fan pembeli produk pertanian untuk bersama-sama menciptakan penanaman. iGrow mengidentifikasi tanaman yang punya kebutuhan tinggi di pasar, stabilitas harga dan karakteristik yang baik. Mekanismenya adalah menghubungkan petani dan lahan yang bisa dipergunakan dan membuka peluang pembiayaan penanaman kepada kaum urban.

Keanggotaan iGrow terdiri dari investor penanaman, petani/operator, surveyor dan land owner. Investor akan mendapatkan bagi hasil bersih yang dibagikan kepada pengelola (40%), sponsor (40%) dan independent surveyor/supervisor serta administrator iGrow (20%). Aplikasi iGrow dapat diunduh melalui App Store atau Google play.

Persyaratan dan prosedur menjadi mitra dengan iGrow di antaranya, calon mitra hanya memiliki atau menyediakan lahan yang dapat digunakan untuk pertanian, perkebunan atau peternakan, memiliki detil luas berikutlokasi lahan yang ditawarkan dan status lahan. Selanjutnya memiliki ketinggian lahan, range suhu udara dan curah hujan tahunan yang cocok untuk bertanam. Lalu terdapat keterangan jarak dengan sumber air terdekat. Calon mitra juga perlu menjelaskan jenis komoditas pertanian, perkebunan atau peternakan dan tujuan penjualan.

Penting bagi calon mitra selain dapat menyediakan lahan, juga memiliki salah satu keahlian dalam bertani, berkebun atau berternak dan hal-hal terkait usaha pertanian dan skala usaha. Dengan demikian mitra usaha perlu embuat proposal bisnis dengan menyertakan analisa dan proyeksi cashflow keuangan.

TaniFund

TaniFund adalah sebuah perusahaan finansial yang fokus pada pertanian, peternakan dan perikanan. Seluruh hasil panen dari para pelaku budidaya akan sepenuhnya diserap oleh TaniHub yang merupakan e-commerce pertanian digital dengan ratusan pembeli yang terdiri dari pasar tradisional, pasar modern, industri, restoran dan katering.

TaniHub juga memberikan informasi dan rekomendasi kepada TaniFund mengenai produk apa yang sedang tinggi permintaannya namun suplai yang tidak konsisten.

Terdapat jenis pembiayaan bagi hasil (profit sharing) di TaniFund. Pembiayaan bagi hasil umumnya memiliki persentase imbal hasil yang dapat bervariasi pada setiap program budidaya, dengan resiko yang terbagi antar setiap pihak terkait. Skema bagi hasil bervariasi bergantung pada jenis program budidayanya. Skema paling umum adalah 40% untuk pemodal, 40% untuk penggarap program budidaya, dan 20% untuk TaniFund.

Para pelaku budidaya di TaniFund merupakan petani, peternak, dan nelayan yang telah diseleksi dan di rekomendasi oleh TaniHub. Para petani, peternak dan nelayan tersebut diwajibkan memiliki rekam jejak baik dalam bertransaksi di TaniHub serta memiliki produk yang berkualitas sebelum dapat menjadi pelaku budidaya di TaniFund.

CROWDE

CROWDE merupakan platform P2P asal Indonesia untuk permodalan usaha tani. Proyek yang terdaftar pada website CROWDE adalah proyek yang diajukan oleh petani CROWDE untuk menjalankan kegiatan pertanian (budidaya ataupun jual beli) dalam jangka waktu tertentu. Pembiayaan di CROWDE bisa dilakukan dengan skema bagi hasil dan pinjaman dengan besaran keuntungan yang diperoleh tergantung proyek yang dibiayai. Aplikasi CROWDE dapat diunduh melalui Google play.

P2P lending memberikan kemudahan dalam melakukan investasi. P2P lending dapat menjadi alternatif sumber dana bagi petani, khususnya petani hortikultura maupun pemilik bisnis rintisan (startup). Ke depannya diharapkan petani hortikultura dan pemilik startup semakin terdorong untuk menggunakan platform P2P lending untuk mengembangkan usahanya dengan memanfaatkan teknologi sehingga prosesnya akan lebih cepat dan aman dengan biaya yang terjangkau.

Salah seorang pedagang produk agro dari Bandung berharap model pembiayaan di atas telah terverifikasi oleh OJK sebagai otoritas yang mengawasi dan membina lembaga keuangan termasuk fintech sehingga keamanan investasinya tidak diragukan lagi.

“Saya selaku mitra petani merasa senang kalau ada channel permodalan yang banyak sehingga akses terhadap permodalan terbuka lebar. Tentunya juga dengan disertai peningkatan kredibilitas, kapabilitas dan tanggung jawab dari petani untuk berkarya secara bersungguh sungguh”, ujar Rizal ansori, pedagang produk agro dari Bandung.

Selama ini banyak kendala dalam kerjasama investasi bidang pertanian. Seperti yang disampaikan oleh Luki Budiarti dari CV. Arjuna Flora, Batu – Malang. “Pada umumnya hal itu disebabkan pola pikir dan komitmen yang masih lemah”, ujarnya.

Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hortikultura, Yasid Taufik, menyampaikan optimisme melihat tersedianya berbagai pilihan berinvestasi untuk mendukung pembangunan pertanian. “Hal ini merupakan suatu keniscayaan di era digital. Pemerintah akan berusaha terus meningkatkan kapasitas petani agar dapat memanfaatkan peluang yang tersedia”, ujarnya.