PERTANIAN

Budidaya Organik; Harapan Petani Hortikultura di Banten

MONITOR – Budidaya organik kembali menjadi harapan baru bagi petani hortikultura di Banten dalam meningkatkan kesejahteraannya. Sebagai salah satu propinsi penyangga kebutuhan sayuran untuk Jakarta, Banten memiliki begitu luas potensi sayuran yang dapat dibudidayakan secara organik.

Kelompok Tani (KT) Jarak Subur dan KT Rawa Banteng, adalah KT telah lama berkomitmen menerapkan budidaya ramah lingkungan dan tengah menuju budidaya sayuran organik.

Kelompok tani yang berlokasi di desa Sangiang dan desa Gempol Sari, kecamatan Sepatan Timur, Kabupaten Tangerang ini telah lama memasok kangkung, bayam dan caisim ke pasar tradisional dan pasar modern di wilayah Tangerang, Serang, Jakarta, Bekasi, Bogor hingga Bandung. Dengan luas lahan 22 ha dalam satu kecamatan, KT bekerja bersama dalam memenuhi permintaan sayuran sehat ke pasar pasar tersebut.

Atas usahanya tersebut, pada tahun 2018, Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Hortikultura telah menyalurkan bantuan berupa fasilitas input berupa komoditas sayuran bebas dari pestisid dan sarana sederhana pertanian organik. Bantuan ini semakin memotivasi para petani untuk meningkatkan produksi sayuran dalam memenuhi permintaan yang juga semakin meningkat.

Hampir setiap hari mereka memasok hingga 40 ribu ikat sayuran tersebut dengan harga rata – rata Rp 1200 per ikat menuju pasar pasar Banten DKI Jakarta hingga Jawa Barat. Dukungan pemerintah lain diberikan dalam bentuk bimbingan teknis dan pengawalan dalam praktek budidaya organiknya secara baik dan benar.

Dalam beberapa kali pendampingan petugas BPTPH Banten, Cecep Herry Sukmawan, M Gunawan dan Wisnu Hadi Ribowo, secara bergantian melakukan bimbingan teknis dalam pemanfaatan dan pembuatan/perbanyakan input organik yang dibutuhkan dalam budidaya organiknya.

Darusman dan Suherman, ketua KT Jarak Subur dan KT Rawa Banteng, sangat berterima kasih atas bantuan yang mereka terima. Menurut mereka dengan berbudidaya secara organik ternyata kualitas dan kuantitas sayuran yang mereka hasilkan semakin meningkat, namun biaya produksi yang dikeluarkan lebih murah. Mereka terus bersemangat dengan mengajak KT yang lain untuk mengikuti langkah mereka dalam menghasilkan sayuran sehat dan ramah lingkungan.

Dalam kesempatan terpisah, Direktur Perlindungan Hortikultura, Sriwijayanti Yusuf menginstruksikan “Agar Kepala BPTPH yang melaksanakan kegiatan Desa Pertanian Organik Bidang Hortikultura, bersungguh sungguh dalam mengawal kegiatan ini sampai siap untuk disertifikasi”.

Recent Posts

Manasik Haji Capai 95 Persen, Jemaah Siap Berangkat 21 April 2026

MONITOR, Jakarta - Kementerian Haji dan Umrah terus mematangkan kesiapan jemaah haji Indonesia melalui program…

2 jam yang lalu

Resmi! Ini Juknis Pembelajaran Ramadan 2026 bagi Seluruh Madrasah

MONITOR, Jakarta - Kementerian Agama menerbitkan Petunjuk Teknis (Juknis) Pembelajaran Ramadan 2026 sebagai acuan bagi…

5 jam yang lalu

DPR: AI dan Deepfake Percepat Penyebaran Hoaks di Indonesia

MONITOR, Jakarta - Anggota Komisi I DPR RI, Dave Akbarshah Fikarno, menyoroti pesatnya perkembangan teknologi…

11 jam yang lalu

Pimpinan DPR: Pergeseran Anggaran Kementan untuk Bencana Patut Dicontoh Kementerian Lain

MONITOR, Jakarta - Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, menyatakan langkah cepat Menteri Pertanian…

13 jam yang lalu

Menteri Maman: Pemulihan UMKM Pascabencana Sumatera Tunjukkan Progres Nyata

MONITOR, Jakarta - Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman mengungkapkan bahwa program…

14 jam yang lalu

Penguatan Reformasi Polri Dinilai Krusial untuk Stabilitas Nasional dan Pelayanan Publik

MONITOR, Jakarta - Deep Talk Indonesia menggelar diskusi publik bertajuk “Menguatkan Reformasi Polri Guna Mendukung…

15 jam yang lalu