ULASAN

Aksi Reuni 212, Sepi di Media Nasional Ramai di Media Luar

MONITOR, Jakarta – Aksi Reuni Akbar 212 yang diikuti jutaan masyarakat di kawasan Monas dinilai sebagai momentum luar biasa bagi umat Islam Indonesia.

Bahkan, acara yang berlangsung aman dan damai itu mengundang decak kagum negara negara di di dunia. Media international menyoroti peristiwa tersebut dengan rasa salut kerena mampu mengumpulkan umat Islam dari berbagai penjuru Indonesia dengan jumlah yang besar.

Sementara di Indonesia sepi pemberitaan. Media TV hanya TVOne dan beberapa media cetak dan online yang tetap memberitakan acara tersebut.

Sementara media luar negeri, reuni akbar 212 menjadi informasi menarik yang diberitakan, sebut saja media di London, media Pakistan, Nigeria, Kanada, Prancis, Turki, Saudi Arabia, Australia, Malaysia, dan negara lainnya.

Menanggapi hal ini, pengamat media dari Institut Media Sosial dan Diplomasi, Hariqo Wibawa Satria mengatakan, banyaknya media mainstream nasional yang tidak meliput aksi Reuni Akbar 212 diduga karena ada tekanan dari oknum-oknum tertentu.
Tidak heran, ada beberapa warga yang kecewa karena media nasional hanya sekadarnya saja memberitakan Reuni 212. Sementara, berbagai media asing justru meliputnya.

Apalagi media mainstream lebih menonjolkan masifnya pemberitaan artis cerai seperti Vicky, Angel Lelga, Gading dan Gisela. Padahal perceraian adalah berita negatif. Sementara Reuni 212 banyak memuat pesan positif karena dalam aksi itu tidak ada ajakan makar, tidak ada ajakan mendirikan khilafah apalagi mengganti Pancasila.

Menurutnya, Reuni 212 juga lebih banyak menyampaikan kepentingan nasional ketimbang kepentingan umat Islam atau golongan tertentu. Dalam aksi Reuni 212, sambungnya, juga tidak ada sindiran, ujaran kebencian yang ditujukan kepada umat Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Konghucu, bahkan Yahudi.

Tidak ada juga ujaran kebencian kepada suku, ras apapun. Intinya kegiatan Reuni 212 tidak ada yang menghina atau mengandung unsur SARA. Justru yang diingatkan dan menjadi musuh bersama adalah ketidakadilan, kemiskinan, kesenjangan sosial, dan lainnya.

“Hampir semua orator menyampaikan pentingnya menjaga Pancasila, mensyukuri keberagaman, menjaga persatuan dan keutuhan NKRI,” tegasnya, Kamis 5 Desember 2018.

Hariqo menilai, ada beberapa hal yang membuat media sekadarnya saja memberitakan Reuni 212. Pertama, ada anggapan jika Reuni 212 diberitakan maka akan menguntungkan Prabowo-Sandi. Padahal jika melihat pesan-pesannya Reuni 212 menguntungkan Indonesia.

Reuni 212 ini bisa dijadikan bahan identifikasi: mana media pendukung kepentingan Jokowi-Maruf, mana media pendukung kepentingan Prabowo-Sandi dan mana media yang bekerja untuk kepentingan publik. “Ada beberapa media cetak dan televisi menjadi sorotan karena selama ini dianggap tidak netral dan independen,” jelasnya.

Kedua, ada benturan antara komitmen politik dan komitmen pelayanan. Media yang pemiliknya mendukung Jokowi-Maruf lebih memiliki komitmen politik. Ketiga, tekanan untuk tidak memberitakan.

Diungkapkan Hariqo, kita tidak bisa menutup mata bahwa media ada yang tertekan dalam berbagai level. Keempat, iklan dari swasta semakin menurun karena mereka mulai beralih ke iklan di medsos. Otomatis banyak media mulai tergantung pada iklan pemerintah. Ini terjadi di pusat dan daerah. Karenanya media menjaga hubungam baik dengan pemerintah atau penguasa.

Mengapa level kritis masyarakat meningkat. Karena masyarakat juga telah menjadi media itu sendiri dan masyarakat terhubung antar satu dengan lainnya. Makanya yang ramai pasca Reuni 212 bukan Reuni 212 itu sendiri tetapi mengapa Reuni 212 sekadarnya saja diberitakan atau bahkan tidak diberitakan.

“Ini akan abadi, kekal di memori kolektif masyarakat. Mereka akan mencatat media-media yang tidak adil dalam pemberitaan. Sepanjang hidup saya baru sekali ini ada protes besar warga pada media.Kita bersyukurnya protes itu dilakukan secara damai,” tandas alumnus Pascasarjana Jurusan Hubungan Internasional Universitas Paramadina.

Dihubungi terpisah, Ketua Media Center Reuni 212 Novel Bamukmin mengatakan, ada tekanan terhadap media dan media itu pun adalah media yang sudah menjadi pesanan partai politik pendukung rezim. Akibatnya, media seperti itu sudah tidak netral dan sudah jauh untuk bisa mencerdaskan anak bangsa. Suatu kemunduran bagi bangsa ini yang hanya bukan kemunduran dari media saja.

“Saya melihat media yang tidak mau meliput Reuni Akbar alumni 212 mengarah kepada ‘bunuh diri’ media itu sendiri. Karena umat Islam akan menilai mereka yang tidak meliput tidak memberikan informasi yang benar. Sedangkan fungsi media adalah sebagai penyampaian informasi. Tapi fungsinya sudah mereka stop maka masyarakat menilai bahwa media tersebut sudah tidak menjalankan amanat dengan baik dan sudah tidak bermanfaat kepada masyarakat,” kata Novel dihubungi terpisah.

Justru di zaman informasi modern ini mereka malah bisa menerima informasi yang cepat dan akurat langsung dari sumbernya sehingga media media yang tidak amanat dan bersahabat akan tidak dipercaya dan akan ditinggalkan oleh masyarakat. Penikmat media dan media yang pro umat maka akan menjadi idola mereka

“Saya rasa media yang tak menyampaikan berita yang benar diduga ada tekanan, dan hal ini tentu sudah mengkrangkeng kebebasan menyampaikan berita.Tentu halini sebuah kemunduran dalam dunia pers yang akan sangat merugikan insan media itu sendiri,” jelasnya.

Calon presiden (capres) nomor urut 02 Prabowo Subianto mengeluhkan minimnya pemberitaan reuni 212 oleh media. Prabowo mengungkap hal itu saat pidato di acara puncak Hari Disabilitas Internasional, Rabu (5/12).

“Mereka sudah tutup semua. Buktinya hampir semua media tidak mau meliput 11 juta lebih orang yang berkumpul, belum pernah terjadi di dunia,” kata Prabowo.

Prabowo mengatakan Reuni 212 merupakan kejadian pertama berkumpulnya jutaan manusia tanpa dibiayai siapa pun. Prabowo heran mengapa banyak media besar–katanya–tak meliput peristiwa tersebut.

Recent Posts

Komisi IX DPR Soroti 6 Ribu Bayi Meninggal Tiap Tahun

MONITOR, Jakarta - Anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani Aher menaruh perhatian serius terhadap…

11 jam yang lalu

Soroti Praktik TPPO Berkedok Perjalanan Wisata, Legislator Desak Pemerintah Perbarui Strategi Pencegahan

MONITOR, Jakarta - Anggota Komisi III DPR RI, Abdullah menyoroti penangkapan buronan internasional kasus tindak…

12 jam yang lalu

Marak Kecelakaan Kapal, Puan Soroti Minimnya Faktor Keamanan Transportasi Laut

MONITOR, Jakarta - Ketua DPR RI Puan Maharani menyoroti minimnya faktor keselamatan dan keamanan transportasi…

12 jam yang lalu

DeepTalk Indonesia: Kasus Hukum Febrie Adriansyah Momentum Reformasi Kejaksaan

MONITOR, Jakarta - Akademisi, praktisi hukum, aktivis dan mantan pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mendorong…

13 jam yang lalu

Harlah ke-25 PonPes Al-Qur’aniyyah, Pesantren sebagai Penggerak Ekonomi Umat

MONITOR, Tangerang Selatan – Staf Ahli Menteri UMKM Bidang Hukum dan Kebijakan Publik, Reghi Perdana,…

14 jam yang lalu

Bibit Kelapa Unggul Natuna Kian Diminati, Karantina Kepri Kawal Pengiriman 80.000 Butir ke Bintan

MONITOR, Natuna - Potensi kelapa unggul asal Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau, terus menarik minat pelaku…

14 jam yang lalu