PERTANIAN

Peluang Ekspor Usaha Tani Jamur yang Menjamur

MONITOR – Bila orang mendengar kata jamur, yang pertama terbayang adalah “tumbuhan” tanpa klorofil yang tumbuh di batang-batang pohon yang telah mati. Jamur bukanlah tumbuhan, didalam ilmu biologi dia masuk sebagai anggota kerajaan Fungi.

Sifatnya yang tumbuh subur dan meruah dimusim hujan memunculkan kiasan “seperti jamur tumbuh di musim hujan” untuk menggambarkan keadaan yang tiba-tiba banyak bermunculan di masyarakat.

Jamur yang familiar di masyarakat di antaranya jamur tiram, merang, jamur kuping. Sementara untuk jamur shiitake, champignon dibudidayakan oleh beberapa petani yang telah menguasai teknologi budidaya jamur. Jamur adalah makanan sehat dan enak rasanya.

Negara – negara pengkonsumsi jamur di dunia antara lain Amerika Serikat, Jepang, China, Korea Selatan, Jepang, Hongkong, Kanada, Belanda, Jerman. Tingkat konsumsi jamur di Eropa rata-rata sebesar 1,5 kg per kapita setiap tahunnya. Sedangkan Amerika Serikat sekitar 0,5 kg per kapita per tahun.

Sementara penduduk Indonesia menurut data BPS, tingkat konsumsi jamur baru sebesar 0,18 kg per kapita per tahunnya. Sehingga peluang permintaan pasar dalam negeri masih bisa terus ditingkatkan seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk dan tingkat konsumsi jamur perkapita pertahun.

Tahun 2007 Indonesia masuk ke dalam 5 besar negara eksportir jamur kalengan dengan ekspor sebanyak 18.392 ton, ke negara Jerman, Rusia, USA, Jepang bersama China, Belanda, Spanyol, dan Perancis.

Menurut FAOStat pada 2016, produksi jamur dunia mencapai 10.790.859 ton. Lima negara produsen terbesar adalah China dengan produksi sebanyak 7.797.929 ton, diikuti oleh Italia, USA, Belanda, Polandia.

Sedangkan produksi jamur Indonesia menduduki peringkat ke 15 dunia dengan produksi sebesar 40.906 ton walaupun masih di bawah Australia sebanyak 50.387 ton. Namun produksi Indonesia masih lebih tinggi dibanding India, Korea Selatan dan Vietnam.

Tren perubahan pola konsumsi sebagian masyarakat telah menempatkan jamur sebagai salah satu pangan alternatif yang digemari. Kini di kota-kota besar di pulau Jawa sudah menjamur restoran berbahan baku jamur. Jamur ini telah banyak diolah menjadi berbagai varian masakan aneka jamur, keripik jamur, dan lain-lain.

Pelaku bisnis restoran, katering maupun hotel-hotel di berbagai daerah mulai banyak membutuhkan jamur untuk memanjakan konsumen mereka. Menurut informasi dari Asosiasi Petani Jamur (APJ), setiap hari Jakarta mampu menyerap lebih dari 10 ton jamur.

Tahun 2018 tingkat konsumsi jamur Indonesia diperkirakaan mencapai sekitar 47.753 ton dengan tingkat konsumsi mencapai 0,18 kg per kapita per tahun, sedangkan produksi Indonesia diperkirakan mencapai 37.020 ton. Ini merupakan peluang untuk meningkatkan produksi jamur di Indonesia.

Rata-rata ekspor jamur ke mancanegara sebanyak 5.300 ton dengan nilai transaksi mencapai 9 juta USD. Ini merupakan pendapatan yang meningkatkan devisa negara.

Saat ini produsen jamur tiram paling besar terdapat di Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah dan Sulawesi Selatan. Sentra produksi jamur merang terpusat di wilayah Pantura Jawa Barat, seperti Karawang, Subang, Purwakarta. Sementara itu sentra-sentra lain mulai bermunculan di seluruh wilayah nusantara.

Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Ditjen Hotikultura, Prihasto Setyanto, saat dihubungi (3/12) membenarkan potensi pengembangan Jamur yang semakin prospektif. “Pemerintah berkomitmen mendukung pengembangan sayuran eksotik baik di tingkat on farm maupun off farm untuk meningkatkan produksi jamur di Indonesia. Kami juga permudah proses perizinan ekspornya”, ujarnya.

Dirinya menjelaskan produksi jamur Indonesia mencapai rata-rata 38.679 ton per tahun dengan volume ekspornya sebanyak 5 ribu ton lebih. Jamur membantu menyumbang devisa lebih dari 9 juta dollar setahun. “Pasarnya sudah merambah ke Timor Leste, Hongkong, Malaysia, Oman, Rusia, Saudi Arabia, Singapore, USA, Vietnam”, tambahnya.

Selama ini kebanyakan jamur yang diekspor dari genus Agaricus yaitu jamur berbentuk kancing (Agaricus bisporus). Pasar ekspor jamur terbesar Indonesia adalah USA dan bisa mencapai 70% dari total ekspor jamur.

Bahtiar, kelompok tani Asa Agro, sebagai salah satu pelaku usaha jamur tiram di Cianjur mengatakan, “Saat ini usaha jamur jauh lebih baik jika dibanding tahun-tahun sebelumnya. Dapat dilihat dari menjamurnya pelaku usaha jamur baik dalam hal budidaya, pasarnya sampai pengolahannya. Semoga di masa-masa akan datang budidaya jamur ini bisa lebih berdaya saing agar jamur bisa bersaing dengan komoditas pangan lainnya”.

Meningkatnya produksi jamur nasional dapat dijadikan andalan untuk memenuhi gizi keluarga. Serta menjadi peluang terbukanya potensi pasar dalam negeri dan ekspor ke mancanegara.

Recent Posts

OASE III PTKIN 2026 Berakhir Gemilang: Bukti Kampus Islam Siap Bersaing di Kancah Sains dan Teknologi Global

MONITOR, YOGYAKARTA — Ajang bergengsi Olimpiade Agama, Sains, dan Riset Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri…

16 jam yang lalu

Belajar dari Kampus Peringkat Kedua Nasional THE, PTKIS Perkuat Sistem Penjaminan Mutu Internal

LPM UIN Sunan Kalijaga Berbagi Strategi Implementasi SPMI Berdasarkan Permendiktisaintek Nomor 10 Tahun 2026 MONITOR,…

1 hari yang lalu

Soroti 7 Persoalan Tata Kelola, Rokhmin Dahuri Dorong Reformasi Cagar Biosfer Indonesia

MONITOR, Wakatobi - Pengakuan UNESCO terhadap suatu kawasan sebagai cagar biosfer tidak otomatis menjamin keberhasilan…

1 hari yang lalu

Hasil Ubinan BPS, Panen Padi di Cirebon Tembus 9,2 Ton per Hektare berkat Aplikasi Pureplant

MONITOR, Cirebon - Hasil panen padi petani di Blok Makam Kidul, Desa Ujunggebang, Kecamatan Susukan…

2 hari yang lalu

Stafsus Menag Sambangi Ponpes Hamalatul Qur’an Sukoharjo, Tawarkan Trauma Healing untuk Santri

MONITOR, Sukoharjo – Kementerian Agama (Kemenag) RI menegaskan komitmennya untuk hadir memberikan pelayanan, pembinaan, dan…

3 hari yang lalu

OASE III PTKIN 2026 Resmi Dibuka Menag, Dorong Integrasi Sains dan Nilai Agama

MONITOR, Yogyakarta - Ajang Olimpiade Agama, Sains, dan Riset (OASE) III Perguruan Tinggi Keagamaan Islam…

3 hari yang lalu