Hadang Banjir Masuk Jakarta, Anies Gandeng TNI-Polri

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan (Foto: Asep Monitor)

MONITOR, Jakarta – Banjir rupanya masih menjadi momok yang menakutkan bagi Gubebur Jakarta Anies Baswedan. Buktinya orang nomor satu di Ibukota ini, menggandeng aparat kepolisian dan TNI untuk sama-sama bekerja mengatasi banjir yang kapan saja bisa datang saat musim penghujan seperti ini.

“Sebelum banjir datang, segala cara untuk menghadangnya harus kita siapkan bersama. Oleh karena kami di Pemprov DKI bersama-sama TNI dan Polri akan melakukan penanganan banjir bersama,” ujar Anies di acara Apel Tanggap Musim Penghujan Tahun 2018/2019 di Lapangan Promoter Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan.

Menurut Anies, dengan adanya kesiapan dalam penanganan banjir, rakyat Jakarta tak usah khawatir lagi ketika hujan turun dengan turunnya intensitas sedang hingga tinggi yang menyebabkan banjir.

“Ini sebagai penanda kesiapan kita dalam menghadapi musim hujan kali ini. Segala macam potensi bencana bisa kita antisipasi dengan melakukan mitigasi yang baik,” katanya.

Dalam kesempatan ini Anies menyampaikan bahwa sesuai laporan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), pada November ini hingga Maret 2019 Ibukota akan dilanda hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi.

“Karena itu kita harus melakukan langkah antisipasi secara rinci dan detail. Dalam jangka pendek, lewat acara apel untuk menunjukkan kepada masyarakat Jakarta bahwa seluruh jajaran kita siap tanggap dan mampu untuk melakukan antisipasi,” pungkasnya.

Seperti diketahui, Jakarta termasuk provinsi rawan banjir, karena selain sebagian besar wilayahnya merupakan daerah dataran rendah, juga karena pada era pemerintahan Gubernur Sutiyoso (2002-2007 dan 2007-2012) banyak area parkir air berupa rawa-rawa dan daerah resapan air yang diubah peruntukannya menjadi lokasi bangunan komersil seperti hotel dan mal. Lahan yang diubah di antaranya yang saat ini menjadi Mal Tamini Square dan Mal Mangga Dua Square.

Perubahan fungsi lahan itu membuat Jakarta menjadi hutan beton dan air hujan tak dapat meresap ke dalam tanah dan menggelontor menjadi air permukaan yang mengakibatkan banjir. Tak heran kalau pada 2007 Jakarta dilanda banjir besar yang jauh lebih dahsyat dibanding banjir pada 1996, 1979, dan 1918, karena kala itu wilayah yang terendam mencapai hingga 60% dari luas Jakarta, dan 80 orang dinyatakan tewas. Ibukota NKRI lumpuh kala itu.

Sutiyoso sempat mengklaim kalau banjir itu merupakan siklus banjir lima tahunan, namun BMKG membantah karena banjir siklus itu tak ada.