STORI

Pertempuran Leyte; Mimpi Buruk Paling Mengerikan Sepanjang Sejarah

MONITOR – Perang Dunia II menjadi tragedi paling mengerikan sepanjang sejarah kehidupan umat manusia. Sebanyak 70 juta jiwa manusia menjadi korban keganasan dari egoisme negara adidaya yakni Amerika Serikat dan sekutunya, dengan poros yang dikuasai Jerman dan Jepang selama kurun waktu 1937 hingga 1945.

Dari sekian peperangan yang mematikan, ada satu pertempuran yang maha dahsyat sepanjang sejarah perang yaitu pertempuran Teluk Leyte. Pertempuran tersebut terjadi di perairan Teluk Leyte, dekat pulau Filipina Leyte, Samar dan Luzon, dari 23–26 Oktober 1944, antara pasukan sekutu dibawah komando Amerika Serikat dan Australia dan Angkatan Laut Kekaisaran Jepang.

Pertempuran Teluk Leyte, yang awalnya dikenal sebagai Pertempuran Laut Filipina Kedua, adalah pertempuran angkatan laut yang umumnya dianggap terbesar pada Perang Dunia II dan, menurut beberapa kriteria, mungkin pertempuran angkatan laut terbesar dalam sejarah.

Awal mulanya, pasukan sekutu hendak menginvasi Filipina dimulai dari daratan Pulau Leyte. Sayangnya, disaat yang sama, Jepang pun memiliki niat yang sama untuk menduduki wilayah Filipina. Kedua pasukan ini tiba bersamaan di Pulau Leyte kala itu. Sejak itulah, kedua pihak bertempur. Jepang mengerahkan pasukannya untuk menggempur Sekutu. Begitupun pihak Sekutu juga tak mau kalah dan balik menggertak Jepang.

Pada peperangan ini, Jepang dianggap di atas angin lantaran memiliki perbekalan senjata dan bahan bakar yang cukup memadai. Pasukan negeri sakura ini pun dibekali pilot tempur yang siap beraksi. Di bawah komando Laksamana Kurita Takeo, Jepang mengerahkan strategi dengan masuk Leyte dari sisi lain.

Kelebihan pasukan Jepang tak membuat nyali Amerika ciut. Dengan bantuan armada udara dan kapal selam, Sekutu berhasil menghadang segala serangan dari Jepang, dan menyerang balik negara Asia Timur tersebut. Hingga pada akhirnya, kekuatan armada udara Sekutu di bawah komando Laksamana William F. Halsey itu berhasil memukul mundur pasukan Jepang.

Tercatat akibat perang ini, Jepang mengalami banyak kerugian. Sebanyak 4 kapal induk, 3 kapal perang, 6 kapal penjelajah berat dan 4 kapal penjelajah ringan milik Jepang hancur. Bahkan diperkirakan ada sekitar 10 ribu anggota armada Jepang tewas. Sementara, pihak Sekutu hanya mengalami kerugian berupa kerusakan 2 kapal induk pengawal dan 3 kapal induk penghancur.

Meski dianggap kalah, Jepang dinilai berhasil menunjukkan kekuatannya saat itu hingga membuat Sekutu ketar-ketir. Akhir pertempuran ini berbuntut pada menyerahnya Jepang pada sekutu setahun kemudian, tahun 1945, yang juga berdampak baik pada Indonesia yang merdeka tanggal 17 Agustus 1945.

Recent Posts

Muktamar NU Memanas; 9 Ulama Jadi Penentu, Hery Haryanto Azumi Berpeluang jadi Jalan Tengah

MONITOR, Jombang - Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama memasuki fase krusial. Konfigurasi kepemimpinan PBNU periode 2026–2031…

5 jam yang lalu

Kasus Yogi Mentawai: Ombudsman Dorong Negara Kedepankan Pembinaan

MONITOR, Jakarta - Ombudsman Republik Indonesia menaruh perhatian terhadap perkara Yogi Gilang Arya Setia, warga…

1 hari yang lalu

Kuasa Hukum UIN Jakarta: Penataan SIP Pamulang Bagian dari Pengamanan Aset Negara

MONITOR, Jakarta - Kuasa Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Alwanih, S.H., M.H., menegaskan penataan dan…

1 hari yang lalu

Jelang ESDP 2027, Kemnaker dan IM Japan Perkuat Kesiapan Peserta Pemagangan Indonesia

MONITOR, Tokyo – Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) bersama International Manpower Development Organization (IM Japan) membahas kesiapan…

1 hari yang lalu

Menteri UMKM Pastikan Banpres bagi UMKM Terdampak Bencana Sumatera Tepat Sasaran

MONITOR, Jakarta – Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman memastikan Bantuan Presiden…

2 hari yang lalu

Danantara Indonesia Tinjau Integrasi Tiga Pilar Layanan Jasa Marga untuk Tingkatkan Customer Experience

MONITOR, Jakarta - PT Jasa Marga (Persero) Tbk memperkuat integrasi tiga pilar layanan, yaitu layanan preservasi,…

2 hari yang lalu