POLITIK

Refleksi Hari Santri, Satria: Jangan Terjebak pada Santri, Abangan dan Priyayi

MONITOR, Jakarta – Ketua Umum Satuan Relawan Indonesia Raya (Satria), Moh. Nizar Zahro, mengingatkan agar perayaan Hari Santri Nasional menjadi sebuah refleksi terhadap perlawanan para kyai Jawa Timur kepada para penjajah yang mencoba kembali ke Indonesia.

Ia menambahkan, jangan sampai kembali membangun paradigma yang melahirkan sikap ‘dikotomi’ terhadap santri seperti yang terjadi pada masa lalu, yakni santri, abangan, dan kiyai sebagaimana ditulis Clifford Geertz.

“Hari santri nasional sesungguhnya mempunyai makna universal yang mewajibkan kepada kita untuk terus relevan pada konteks kekinian. Sekali lagi, biar tidak terjebak dengan makna sempit yang mengarah kepada sikap dikotomi-red tersebut,” kata Nizar dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Senin (22/10).

Lebih jauh, ia menjelaskan, sandaran makna universal itu adalah niat dari para pejuang yakni para Kiai Jawa Timur yang dipimpin oleh Hadaratus Syaikh, K.Hasyim Asy’ari yang berani menghibahkan tenaga bahkan hidupnya untuk keberlanjutan kemerdekaan yang baru saja diraih dan diproklamasikan.

Tentunya, dengan niat yang disertai dengan penuh rasa ikhlas, tawaddu’ dan berani untuk berjihad melawan kedzaliman, kesewenangan dan para perampas hak orang lain. “Dan niat inilah yang membawa Hari Santri Nasional dapat dirayakan dan direnungi oleh siapa saja tidak hanya oleh para aktivis yang kebetulan berada pada organisasi keagamaan, namun juga oleh para politisi sekalipun yang kebetulan berada di partai politik berlabel nasionalis seperti partai yang kini geluti,” sebut politikus Gerindra itu.

Nizar berpendapat, tantangan saat ini tidak terlalu jauh beda dengan apa yang dihadapi oleh Hadaratus Syaikh, K. Hasyim Asy’ari, yakni sikap kesewenangan, kedzaliman dan ketidak adilan. Hanya beda bentuk dan arah datangnya serangan serta pelakunya yang tidak lagi dengan membawa senjata untuk menjajah.

“Sehingga untuk memerangi itu semua, kita tetap perlu menteladani K. Hasyim Asy’ari untuk memerangi tantangan tersebut yakni dengan rasa ikhlas, tawaddu’ dan berani untuk berjihad. Dan tentunya, kembali saya tegaskan, ini harus dilakukan oleh semua elemen termasuk para kelompok yang kebetulan berada para partai politik,” papar anggota komisi X DPR RI ini.

Ia pun mengklaim jika partai yang dinaunginya saat ini sangat terinspirasi dari perjuangan K. Hasyim Asy’ari. Hal yang paling nyata adalah sejak dilahirkan Gerindra selalu memperjuangkan nasib para mustad’afin, tertindas dan nasib rakyat Indonesia yang kebijakan pemerintah belum memihak kepadanya.

“Tentu sebagai partai politik, perjuangan ini dilakukan dengan cara normatif kepartain dan internalisasi ideologi kepada para kader terlebih dahulu, lalu diharapkan dapat mengalir dan tersebar kepada segenap lapisan bangsa seantero negeri ini. Selain itu, Gerindra juga telah membuktikan sejak didirikan telah mampu mengawal hak-hak orang lemah untuk hidup setara dengan orang lain,” ujarnya.

“Dan perjuangan inilah yang saya maksud sebagai bentuk meraih makna universal Hari Santri Nasional seperti yang diajarkan oleh pejuang di Jawa Timur yang kemudian melahirkan istilah resolusi jihad,” pungkas Nizar.

Recent Posts

Tak Ada Pilihan Lain, Indonesia Harus Menjadi Pengendali Harga Nikel Dunia

MONITOR, Jakarta - Indonesia memiliki modal kuat untuk menjadi penentu harga nikel dunia dan meraup…

2 jam yang lalu

Kelola Dana Umat, Menhaj Irfan Yusuf: Haji 2026 Harus Bersih!

MONITOR, Jakarta - Menteri Haji dan Umrah Republik Indonesia, Mochamad Irfan Yusuf, menegaskan bahwa penguatan…

4 jam yang lalu

Bantu Korban Bencana Sumut, Kemenag Beri Rp50 Juta per Masjid dan Musala

MONITOR, Jakarta - Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama menyalurkan bantuan kepada lembaga keagamaan…

5 jam yang lalu

DPR Pertanyakan Nasib Perpusnas Usai Anggaran 2026 Dipangkas Drastis

MONITOR, Jakarta - Komisi X DPR RI menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Perpustakaan Nasional…

7 jam yang lalu

Kukuhkan 7 Profesor Baru, UIN Jakarta Kini Miliki 151 Guru Besar: Terbanyak di Lingkungan PTKIN

MONITOR, Tangerang Selatan – Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta mencatatkan sejarah baru dalam penguatan…

7 jam yang lalu

Haji 2026 Diperketat, Kelayakan Kesehatan Jemaah Kini Ditentukan Lewat Aplikasi

MONITOR, Jakarta - Menjelang keberangkatan ibadah haji Tahun 1447 H/2026 M, Kementerian Haji dan Umrah…

8 jam yang lalu